Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

Ayo Kembali Ke laut, Demi Kesejahteraan Rakyat

Kolonel Bakamla Salim

“Konsekwensi tidak adanya Garis Besar Haluan Negara, dihadapkan pada wilayah laut kita yang luas maka proses membangun kelautan Indonesia tidak cukup dengan satu dua rezim pemerintahan saja, namun diperlukan keberlanjutan pembangunan  yang bervisi Maritim.”


Siklus 7 abad Kejayaan Maritim Nusantara diawali Kerajaan Sriwijaya abad 6-7, Majapahit pada abad ke 13 -14 dan Indonesia saat ini abad 20 – 21. Adalah Visi Presiden ke-7 Republik Indonesia untuk menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia merupakan Tonggak sejarah lanjutan dalam menyongsong kebangkitan dan kejayaan Bangsa Indonesia. Setidaknya ada beberapa Milestone dalam visi maritim Presiden Jokowi sejak diberi mandate sebagai Presiden RI dengan akhir pidato pengangkatannya mengucapkan “Jales Veva Jaya Mahe”.

Sempurna memang belum akan tetapi fondasi itu telah dibangun untuk keberlanjutan pembangunan maritim. Jangkar pertama dengan adanya kebijakan kelautan Indonesia. Hampir 73 tahun merdeka Indonesia tidak memiliki Road Mapatau peta jalan yang jelas, baru kali ini Indonesia memiliki dokumen sebagai guide atau pemandu pembangunan kelautan dengan diluncurkannya perpres  Nomor 16 Tahun 2017 tentang Kebijakan Kelautan Indonesia (Indonesia Ocean Policy).

Jangkar kedua adanya konektivitas laut. Konsep konektivitas laut ini sebenarnya pengejahwantahan dari sila ke lima Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Selama ini pembangun dipusatkan di Pulau Jawa yang telah melupakan Pulau – Pulau terdepan maupun terpencil sehingga lambat laut ketimpangan pembangunan kian terasa tidak hanya bagi rakyat tapi juga bagi negara. Ketimpangan tersebut khususnya transportasi antar wilayah maupun pulau dan biaya hidup maupun barang.

Jangkar ketiga sebagai fondasi pembangun maritim Presiden Jokowi telah dapat menyelamatkan kekayaan sumber daya laut, tidak terkecuali perikanan. Salah satu dari 9 srikandi dalam pemerintahan Jokowi adalah Menteri Kelautan ibu Susi yang tidak hanya akan dirasakan manfaatnya oleh nelayan maupun rakyat Indonesia akan tetapi telah diakui oleh dunia Internasional baik perorangan maupun atas nama negara. Berpuluh-puluh tahun lautan Indonesia sebagai ajang perampok mencuri ikan maupun mafia baik dalam dan luar negerinamun selama pemerintahan Jokowi keok dan tidak muda lagi dilakukan meski masih ada celah untuk dilakukan.

Berdasarkan laporan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI menyebutkan mulai dari November 2014 hingga Agustus 2018 sebanyak 488 kapal pencuri ikan ditenggelamkan. Saat ini, sesuai Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 50 Tahun 2017, potensi lestari ikan di laut Indonesia mencapai 12,5 juta ton. Dimana sebelumnya potensi ikan Indonesia berpuluh-puluh tahun sekitar 5, 6 atau 7 saja.

Kelanjutan Visi Maritim
Pilpres telah berlangsung meskipun visi maritim dalam debat Presiden tidak dijadikan materi utama, namun rakyat akan menunggu kelanjutan visi maritim negara untuk menyongsong kejayaan bangsa Indonesai sebagai negara maritim yang besar. Siapapun Presidennya visi maritim harus terus dikumandangkan. Beberapa hal yang seharusnya menjadi prioritas keberlanjutan Visi Poros Maritim Dunia antara lain:

Pertama, dihadapakan pada perkembangan lingkungan strategis regional maupun global khususnya menghadapi Belt And Road Initiativeyang diluncurkan oleh Cina dan konsep Indo Pasifik oleh Amerika, terkait maritime securitymaka dalam keadaan damai berkepanjangan Indonesia harus mengedepankan Law enforcementkhususnya diwilayah perairan Indonesiayang sering mengalami sengketa. Oleh karena itu peningkatan dan pengembangan Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla RI) yang mengemban fungsi Coast Guard (Maritime Security, Maritime Safety, Maritime Defence)bukan suatu kemewahan akan tetapi suatu kewajiban untuk meneggakkan hukum di wilayah perairan dan wilayah yurisdiksi Indonesia.

Kedua, dampak dari maritime security adalah kita harus dapat memastikan bahwasannya diplomasi maritim kian strategis baik dalam kontek kawasan maupun multinasional. Diplomasi maritim akan sangat terkait dalam menjaga perdamaian kawasan terutama penyelesaian perjanjian batas wilayah dengan negaratetangga, serta memperluas dan menekan bea masuk produk-produk perikanan dan kelautan Indonesia ke negara-negara tujuan ekspor.Dalam kontek multinasional Indonsia dengan kekuatan maritimnya akan dapat memberikan kontribusi yang positif bagi terciptanya perdamaian dunia.

Ketiga, Peningkatan kesejahteran masyarakat maupun nelayan dengan memperkuat kreative masyarakat khususnya nelayan guna meningkatkan nilai dari produk-produk kelautan serta peningkatan kualitas hidup masyarakat. Dari total 17,9 juta hektare potensi lahan untuk kegiatan perikanan budidaya di darat maupun laut, baru 1,3 juta hektare yang termanfaatkanitupun dengan produktifitas yang rendah oleh karena itu kedepan perlu peningkatan dan kita bisa mengambil peluang untuk kesejahteraan Rakyat.

Lupakan riuhnya Pilpres yang terpilih adalah yang terbaik, dan visi membangun Poros Maritim Dunia harus terus dilanjutkan… Semoga.. Aamiin YRA


Oleh: Kolonel Bakamla Salim
(Plh Direktur Kerjasama Bakamla)

Humas KNTI Kota Semarang ; Setelah Terpilih, Jangan Lupakan Nelayan

PEMUDA MARITIM – Tatkala datangnya Pemilu, hampir semua energi bangsa ini mengarah kepada agenda politik tersebut. Bukan sepenuhnya negatif, hanya saja jangan sampai kita melupakan keberadaan atau keadaan sekitar.

Pemilu 2019 ini dirasa-rasa tetap sama saja, di mana para kandidat terutama calon legislatif lebih banyak membicarakan tentang pesona personal ketimbang gagasan apa yang akan ia bawa ketika ia menjadi bagian dari legislatif.

Bangsa Indonesia mewarisi bagian bumi bak surga, tak ayal menjadi rebutan hingga sekarang. Indonesia memiliki luas wilayah 7,81 juta km2, dengan luas lautnya 3,25 juta km2, ZEE 2,55 km2, sedang daratanya hanya 2,01 juta km2. Karenanya Indonesia perlu mengarahkan pandangannya ke pengelolaan laut. Bukan pengelolaan serta merta, namun pengelolaan yang dapat dipertanggungjawabkan karena di laut terdapat hajat orang banyak termasuk masa depan generasi penerus bangsa ini.

Jika menilik laut dengan seksama, maka di sana kita dapati bahwa nelayanlah yang mewarisi laut Indonesia siang atau malam mereka bergantian bersama laut. Kehidupan mereka bergantung dengan laut, akan tetapi akhir-akhir ini jumlah nelayan kian berkurang.

Selain itu, di Tambak Lorok yang merupakan perkampungan nelayan terpadat di Kota Semarang masih didapati nelayan-nelayan tradisional yang belum memiliki kapal. Mereka melaut ikut kapal tetangganya yang nantinya menerima bagi hasil.

Tentu hasil yang didapat oleh nelayan ini tidak seberapa, mengingat kondisi laut jawa terutama area yang berdekatan dengan aktivitas pabrik serta minim kesadaran akan pembuangan sampah menjadikan kondisi laut memprihatinkan. Selain tantangan kondisi laut yang tak lagi menjadi rumah ikan yang baik serta keadaan cuaca yang tidak bisa diprediksi, ditambah lagi dengan sulitnya mendapatkan BBM.

Itulah sedikit uraian mengenai keadaan nelayan saat ini, mungkin beberapa caleg ada yang sudah mendapatinya ketika berkampanye di lapangan. Namun, yang terpenting adalah akankah mereka dapat menyelesaikan permasalahan tersebut ketika sudah terpilih nanti. Karena sejatinya nelayan adalah penjaga kekayaan bangsa ini, karena mereka kita bisa menikmati hasil laut.

Merekalah yang tetap menjaga budaya leluhur kita yang konon katanya seorang pelaut, mereka berada paling depan wilayah negri ini.

Jangan lupakan nelayan jika sudah terpilih nanti, ingat mereka rela libur melaut untuk ikut memilih


Sumber: Hendra Wiguna/Humas DPD KNTI Kota Semarang

Simposium PERHIMATEKMI; Kesiapan Sektor Maritim dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Kolonel Bakamla Salim, SE

PEMUDA MARITIM – Surabaya (9/2), Bersamaan dengan Musyawarah Kerja Nasional PERHIMATEKMI, diselenggarakan Simposium yang mengangkat tema "Kesiapan Sektor Maritim dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0" dengan pembicara Kolonel Bakamla Salim, S.E. Tema ini diangkat mengingat cita-cita indonesia untuk menjadi poros maritim dunia bersamaan dengan kemajuan teknologi Revolusi Industri 4.0. Kegiatan Simposium ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Teknik dan Ilmu Kelautan Bapak Dr. Viv Djanat Prasita, M.App.Sc dan Wakil Dekan III Bidang Kerjasama dan Kemahasiswaan Bapak Dwisetiono, S.T., M.MT. Simposium ini diselenggarakan untuk memberikan gambaran kepada mahasiswa tentang bagaimana Sektor Maritim Indonesia dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0.

Kegiatan Simposium dibuka dengan sambutan oleh Dekan Fakultas Teknik dan Ilmu Kelautan, dilanjutkan oleh Ketua PERHIMATEKMI Muhammad Fathan kemudian oleh Ketua Panitia Musyawarah Kerja Nasional PERHIMATEKMI Randy Rumbawa. Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Teknik dan Ilmu Kelautan menyatakan bahwa Revolusi Industri 4.0 sangat erat hubungannya dengan era digital dan diharapkan para generasi muda bangsa sudah siap dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0.


Kolonel Bakamla Salim memulai dengan menjelaskan sejarah kemaritiman sejak jaman kerajaan Sriwijaya, bagaimana Sriwijaya tetap kokoh berdiri walaupun berada di dua kekuatan besar India dan China. Kolonel Bakamla Salim menekankan bahwa Indonesia sangat berpotensi sebagai poros maritim dunia.

Sebagai penutup, Kolonel Bakamla Salim menyatakan beberapa poin-poin penting sebagai berikut :
1. Pentingnya mengerti jatidiri bangsa sebagai energi penggerak untuk mempercepat kejayaan Indonesia sebagai Bangsa Maritim.
2. Indonesia memiliki sumberdaya manusia dan sumberdaya alam yang kuat untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0, dan kita siap untuk menghadapi era baru ini dengan jiwa gotong royong dan perilaku yang baik.
3. Untuk menjaga kesinambungan pembangunan, perekonomian maritim harus dibangun dengan agresif, dan digerakkannya pemahaman budaya maritim dalam setiap aspek kehidupan berbangsa.
4. Poros Maritim Dunia adalah cetak biru upaya memperkuat DNA Indonesia sebagai bangsa maritim yang inovatif. Cita-cita ini akan bisa segera tercapai apabila kita mampu beradaptasi dengan Revolusi Industri 4.0
5. Revolusi Industri 4.0 sudah didepan mata dan kita tidak bisa menolak atau menghindarinya, wajib untuk mempersiapkan dan berbenah diri agar kita menjadi pemenang.
6. Indonesia adalah negara besar yang berada di tengah-tengah persaingan pengaruh dua negara adi daya dunia, tetap waspada dan meningkatkan ketahanan bangsa dan waspada terhadap kegiatan yang dilakukan negara lain di perairan kita yang  dapat mengganggu kedaulatan dalam era Revolusi Industri 4.0

Kolonel Bakamla Salim berfoto bersama panitia penyelenggara



Sumber: KMI PERHIMATEKMI

Mahasiswa KKN Undip Ajak Pemuda Pesaren Menyongsong Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia


Diskusi Bersama Pemuda Pesaren
PEMUDA MARITIM – Batang- “Poros Maritim Dunia 2045”. Merupakan inisiatif yang disusun oleh Bappenas bersama Kementerian Perhubungan,  Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan,Kementerian ESDM,Kementerian BUMN,Kementerian Kelautan dan Perikanan sejak 2011 untuk mewujudkan Indonesia sebagai kekuatan dunia yang berbasis kemaritiman. Insiatif ini kemudian akhirnya kembali disung oleh Presiden Joko Widodo di mana yang menitikberatkan pada pembangunan infrastruktur dan segala unsur yang berkait.

Untuk itu mahasiswa KKN Tim I 2018/2019 melalui program pengabdian kepada masyrakat mengajak Pemuda Pesaren untuk menyiapkan diri dan siap bersaing di tengah masyarakat. Melalui acara diskusi yang dihadiri sekitar 15 pemuda yang berkisar umur 17-24 tahun, tampak antusias dari pemuda untuk mengikuti forum diskusi ini.

Program diskusi ini merupakan salah satu program monodisplin dari mahasiswa Undip, yakni Timora P. Sinaga, dia yang juga sebagai pemateri pada diskusi ini mengingatkan kembali dan mengajak para pemuda untuk tidak berleha-leha di tengah persaingan ekonomi global dan kondisi perekonomian yang tidak menentu sekarang ini. Dalam diskusi,  pemateri memparkan landasan Indonesia sebagai poros maritim dunia, serta beberapa aspek pendukung dan potensi tol laut dan sistem serta stakeholder yang ada di dalamnya.

Dalam diskusi, Timora telah memaparkan aspek-aspek penting serta apa saja kontribusi yang bisa di upayakan pemuda sekarang. Di tengah sesi diskusi ada pertanyaan dari Firman Hendriyanto sebagai anak SMK yang masih belajar.Firman bersekolah di SMK N 1 Warungasem. Dalam pertanyaan dia ingin mengetahui apakah peran yang bisa dilakukan serta bisa diarahkan kemana. Untuk menanggapi pertanyaan tersebut , Timora sebagai pemateri memaparkan  beberapa institusi pendidikan, maupun pelatihan yang siap di dunia pekerjaan. “Ini ada beberapa Universitas serta Perguruan Tinggi pendikan yang membidangi maritim, serta ada sekolah pelayaran yang bisa kamu pertimbangkan sebagai setelah kamu lulus SMK” imbuh Timora menjawab pertanyaan dari Firman. Timora juga memberikan saran untuk mengikuti pelatihan 6 bulan untuk mengambil sertifikat berlayar jika Firman berminat menjadi ABK (anak buah kapal).


Acara yang berlangsung di Posko KKN Desa Pesaren ini, juga di tutup dengan minum kopi serta menyicipi beberapa gorengan. Dengan adanya kegiatan ini Agus sebagai pemuda yang juga para pembimbing pemuda ini merasa sangat tercerahkan dan semakin menambah wawasan pemuda disini. “Saya sangat berterimakasih kepada mas dan mbak KKN yang sudah mau berbagi ilmu kepada pemuda yang ada di tempat kita ini, harapannya makin menambah semangat kami ke depannya” imbuh mas Agus di akhir diskusi tersebut. “Semoga dengan ada nya diksusi ini, harapannya Pemuda di sini semakin giat untuk mempersiapkan diri dan mampu bersaing di dunia perkerjaan kelak, dan buat adik-adik yang masih bersekolah jangan merasa puas sampai di SMA/SMK saja, mungkin bisa keluar dari zona nyaman dan mau bersekolah ke jenjang lebih tinggi” pesan sekaligus penutup dari Timora yang juga selaku Koordinator KKN Desa Pesaren.


Sumber: Timora Parulian Sinaga (Koordinator Desa Pesaren, Mahasiswa Teknik Perkapalan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro)

Kolonel Salim ; Indonesia Menuju Negara Maritim Di Antara Dua Negara Adidaya

Kolonel Laut (P) Salim

PEMUDA MARITIM – Indonesia kini tengah menuju negara maritim yang besar di tengah dua pengaruh negara adidaya, Amerika Serikat dan China. Harapan itu semakin membesar ketika melihat sejarah maritim Nusantara, di mana Kerajaan Sriwijaya bisa tampil menjadi peradaban besar di tengah hegemoni peradaban India dan China kala itu.

Demikian disampaikan oleh Dansatrol Lantamal III Kolonel Laut (P) Salim dalam Seminar Nasional bertajuk “Peran Pelajar dalam Menggali Potensi Maritim dan Pelestarian Lingkungan di Pelabuhanratu” pada rangkaian acara Sukabumi Education Fair 2019 di GOR Pelabuhanratu, Sukabumi, (12/1/19).

“Kita saat ini seperti Kerajaan Sriwijaya, yang menguasai jalur perdagangan di antara Selat Sunda dan Selat Malaka di tengah kekuatan India dan China,” ujar Salim.

Lulusan AAL tahun 1995 itu menyatakan hal tersebut juga bisa dilakukan Indonesia saat ini di tengah hegemoni China dan AS saat ini. Terutama dalam membangun aspek kemaritimannya. Karena hanya lewat maritim, negara ini bisa besar.

“Sriwijaya dulu seperti itu, dengan visi maritimnya akhirnya bisa menguasai kawasan. Sekarang kita bagaimana?” tegasnya.

Walaupun visi pemerintah saat ini ingin menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia namun ada beberapa hal tahapan yang masih kurang. Di antaranya, Indonesia saat ini belum memiliki doktrin dan strategi maritim yang mumpuni.

“Lihat kejadian tsunami di anak gunung Krakatau, apa yang terjadi? Alatnya rusak,” ujarnya.
Di antara dua kekuatan besar itu menjadi tantangan Indonesia saat ini. Negara ini bisa besar atau sebaliknya, hancur di tengah gelombang globalisasi  tersebut.

“Kita tidak ingin Indonesia belum smpai 100 tahun usianya sudah hancur. Makanya itu harus dibangun maritimnya. Sanggup untuk kembalikan kejayaan maritim indonesia?” tanya Salim kepada para peserta seminar yang berasal dari pelajar dan mahasiswa se-Kabupaten Sukabumi.
(AN)

Menyongsong Generasi Emas Maritim 2045 Dari Pelabuhanratu


"Cita-cita Indonesia Emas tahun 2045 yang bervisikan maritim harus dibangun dengan mempersiapkan generasi sejak sekarang."

Hal itu disampaikan oleh Dansatrol Lantamal III Jakarta Kolonel Laut (P) Salim dalam Seminar Nasional bertajuk “Peran Pelajar dalam Menggali Potensi Maritim dan Pelestarian Lingkungan di Pelabuhanratu” pada rangkaian acara Sukabumi Education Fair 2019 di GOR Pelabuhanratu, Sukabumi, (12/1/19).

“Sekarang kita sudah makmur dari maritim apa belum? Itu tugas-tugas anda sebagai generasi emas di tahun 2045. Untuj menuju negara maju kita harus menguasai dan bervisi maritim. Kita tidak ada waktu lagi untuk leha-leha,” ujar Salim. Penulis buku Kodrat Maritim Nusantara ini berbicara di hadapan ratusan pelajar dan mahasiswa-mahasiswi se-Kabupaten Sukabumi.

Lulusan AAL tahun 1995 ini menekankan benar-benar agar generasi mendatang menyiapkan diri untuk membangun maritim Indonesia.

“Budaya maritim kita harus dibangun di atas 5 keunggulan maritim kita di antaranya letak geografis dan kekayaan sumber daya kelautan,” ungkapnya.

Ia mencontohkan keunggulan itu potensi yang dimiliki oleh Pelabuhanratu yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia.

“Kita nggak tahu di sebelah selatan Penlabuhanratu ini mengandung sumber daya alam apa saja? Yang pasti negara lain sudah berkeinginan untuk menguasai lautan sebelah selatan kita,” tegasnya.

Di lain sisi, negara kita saat ini belum memiliki doktrin maritim, strategi maritim, dan strategi keamanan maritim nasional yang memadai. Maka dari itu generasi saat ini harus berfikir keras supaya hal itu bisa terbangun.

“Dari sekarang anda harus berfikir dari sekarang untuk menyusun negara maritim. Jadi kita tidak hanya menjiplak konsep maritim dari luar,” tegasnya lagi.

Sebagai Perwira Menengah TNI AL, Salim sudah mengunjungi hampir 70 negara. Hampir seluruhnya, negara-negara itu sudah membangun maritimnya dari puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu.

“Saya sudah mengunjungi 70 negara, banyak di antaranya sudah membangun maritimnya. China membangun maritim dari 70 tahun lalu. Inggris sudah dari tahun 1600-an. Alfred Thayer Mahan sudah memikirkan bagaimana Amerika menjadi negara maritim yang maju,” pungkasnya.
(AN)

Dorong KPU Masukan Isu Maritim Pada Tema Debat Capres, KNTI Ajak Publik Tanda Tangani Petisi

Doc. https://www.change.org

PEMUDA MARITIM – Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) melalui siaran pers-nya, mendorong Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara Pemilu 2019 harus memasukan isu kemaritiman dalam tema debat. KNTI mengingat bahwa posisi laut dan berbagai sumber daya yang terkandungnya secara ekonomi, sosial, budaya dan politik serta pertahanan dan keamanan adalah masa depan bangsa. Selama 73 tahun Indonesia berdiri, kita bersepakat bahwa kita adalah bangsa kepulauan dengan dikelilingi lautan sebagai penghubung. Debat Capres sebagai ajang penyampaian gagasan, visi, misi dan program kerja capres kedepannya jika terpilih nanti, merupakan ajang penilaian publik bagaimana pola pikir kandidat pemimpin negara tersebut. Dalam Debat Capres kita dapat menilai kemana kelak orientasi pembangunan pada masa pemerintahnya. (Jakarta, 10/1)


Sejarah telah membuktikan kepada kita bahwa Kebesaran, Kejayaan, Kesentausaan dan Kemakmuran negara kita hanya dapat dicapai apabila kita menguasai lautan".
Ir. Soekarno, 6 oktober 1966 diatas geladak RI Tjandrasa


KNTI mencatat dalam empat tahun terakhir, Pemerintah Indonesia yang dipimpin oleh Presiden Jokowi sebagai Capres nomor urut 01 mengusung visi utama Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Alangkah baiknya, jika debat capres ini menjadi sarana pasangan Capres petahana memaparkan capaian kinerja masa pemerintahannya  serta mengenalkan program lanjutannya dalam bidang kemaritiman. Kemudian, dari pasangan Prabowo Subianto sebagai Capres nomor urut 02 dapat menjadikan debat capres ini sebagai evaluasi kinerja petahana sekaligus mengenalkan visi, misi dan program kemaritiman yang harusnya dapat lebih baik. Sehingga perdebatan besar gagasan kemaritiman Indonesia dapat membuahkan arah gerak besar negara kelautan dan kepulauan Republik Indonesia yang lebih baik.

KNTI Menilai bahwa isu kemaritiman termasuk didalamnya antara lain, perikanan, kelautan, kepulauan, perhubungan laut, bahkan termasuk geopolitik regional dan internasional. Di sisi lain, sebagaimana kita ketahui bersama, Indonesia adalah pemilik dari negara dengan garis pantai terpanjang, jumlah pulau terbanyak serta laut yang luas dibandingkan daratan. Oleh karena itu, pola pembangunan sudah sepatutnya yang berorietasi kepada kemaritiman sebagai pijakan pembangunan yang sesuai dengan karakteristik bangsa Indonesia. Jangan sampai beda pemimpin beda pijakan pembangunanya, karna hal ini dapat memperlambat Indonesia untuk maju. Adapun cara pencapainnya boleh berbeda, sesuai dengan gaya kepemimpinan masing-masing.

Masih ada waktu KPU untuk memutuskan dan memasukan tema kemaritiman sebagai agenda tersendiri dalam debat capres, agar debat capres ini sesuai dengan kepribadian bangsa yang memiliki sejarah panjang kejayaan maritim. Dimana pemimpinya kala itu memiliki orientasi pembangunan pada sektor kemaritiman, sehingga dalam masa kepemimpinannya pola pembangunan tidak kalang kabut. Karena memiliki pijakan yang sesuai dengan karakteristik bangsa dan negaranya.

KNTI yang dimotori oleh pengurus DPD KNTI Kota Semarang menggalang dukungan untuk petisi meminta KPU menjadikan isu kemaritiman sebagai debat tersendiri. Petisi yang digalang oleh KNTI tersebut dapat dibuka dan diisi pada laman berikut: https://bit.ly/2ssXxmB.



Sumber: Humas KNTI
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi:
Iing Rohimin, Sekretaris Jendral DPP KNTI, +62812 1478 7405
Slamet Ari Nugroho, DPD KNTI Kota Semarang, +62823 2666 5413
Marthin Hadiwinata, Ketua Harian DPP KNTI, +62812 8603 0453