Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

Dari APMI Jawa Timur, untuk Poros Maritim Dunia


PEMUDA MARITIM –  Gagasan ‘Poros Maritim Dunia’ yang telah dikumandangkan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla di awal pemerintahannya menunjukkan bahwa orientasi pembangunan nasional akan berfokus pada bidang kemaritiman. Jawa Timur sebagai salah satu provinsi yang memiliki sumber daya kelautan yang besar dan pembangunan kemaritiman yang terus berkembang dari tahun ke tahun akan membutuhkan bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak, termasuk kebutuhan untuk sumber daya manusia yang mampu berperan dalam terwujudnya Indonesia sebagai poros maritim dunia. Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI) yang hadir sejak tahun 2013 telah merangkul masyarakat khususnya para pemuda yang memiliki keilmuan dan ketertarikan di bidang kemaritiman untuk bersama membangun maritim negeri dan berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mewujudkan gagasan ‘Poros Maritim Dunia.’

APMI Komisariat Daerah Jawa Timur yang terbentuk pada tanggal 21 Maret 2018 sesuai SK dari Pengurus Pusat APMI nomor 011/SK-1B/016/APMI/III/2018 diketuai oleh Eko Husaini dari program sarjana Ilmu Kelautan Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Madi, S.T. sebagai Wakil Ketua yang merupakan mahasiswa program magister Teknik dan Manajemen Energi Laut di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Anis Nur Laily sebagai Sekretaris yang sedang menempuh program sarjana Ilmu Kelautan di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel, serta Khoirul Umam yang sedang menyelesaikan program sarjana di Ilmu Kelautan UTM sebagai Bendahara. Tujuan didirikannya APMI Komda Jawa Timur ini adalah untuk mengembangkan potensi daerah, teknologi kemaritiman, dan pengelolaan pulau-pulau kecil serta pelayanan sosial masyarakat pesisir berbasis pemberdayaan dan pengembangan pemuda.

Wilayah Provinsi Jawa Timur memiliki panjang pantai sekitar 2.128 km dan di sepanjang pantainya dapat dijumpai beragam sumberdaya alam dari hutan mangrove, padang lamun, terumbu karang, Migas, energi terbarukan, sumber daya mineral hingga pantai berpasir putih yang layak untuk dikembangkan menjadi obyek wisata. Tidak hanya sumber daya alam, Provinsi Jawa Timur juga memiliki kebudayaan yang unik di daerah pesisir, salah satunya kegiatan Labuh Laut di Pantai Prigi, Trenggalek. Potensi sumber daya alam dan budaya yang ada di pesisir dan laut Jawa Timur bila dikelola dengan perencanaan yang baik sangat berpotensi untuk mendukung program pembangunan yang berkelanjutan.

Eko mengatakan, “APMI Komda Jawa Timur akan fokus untuk mengembangkan 6 potensi dengan 6 bidang organisasi. Potensi yang dikembangkan antara lain pulau-pulau kecil, terumbu karang, wisata mangrove, perikanan, budaya pesisir, dan energi laut terbarukan.  Potensi-potensi ini akan dikembangkan melalui 6 bidang organisasi yaitu Bidang Kajian dan Data Maritim, Bidang Pelayanan Sosial Masyarakat Pesisir, Bidang Riset dan Teknologi Kemaritiman, Bidang Kewirausahaan Maritim Pemuda, Bidang Pengembangan Pariwisata, serta Bidang Komunikasi dan Informasi”. “Sesuai dengan potensinya, bidang-bidang ini akan membantu memecahkan masalah-masalah yang ada di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Jawa Timur dengan sentuhan teknologi kemaritiman yang berkelanjutan,” tutup Madi.


Sumber: Humas APMI Jatim

APMI: Inspirasi dan Wadah Pemuda Bangun Maritim di Daerah Istimewa Yogyakarta


PEMUDA MARITIM –  Sejak resmi secara hukum melalui akta notaris tahun 2014 dan SK Menkumham RI tahun 2015, Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI) semakin mendapatkan respons positif dari para pemuda seluruh Indonesia. “Hal ini dibuktikan dengan pendirian Komisariat APMI berbagai daerah secara inisiatif dan sukarela oleh para pemuda setempat untuk bergerak dan berkontribusi nyata bersama bangun maritim Indonesia”, ungkap Yeldi S. Adel, Koordinator Bidang Pengembangan Potensi Maritim APMI.

Juni lalu, beberapa mahasiswa dari berbagai kampus di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengadakan beberapa kali pertemuan untuk mendiskusikan pendirian Komisariat Daerah (Komda) APMI DIY. Puncaknya pada tanggal 6 Juni 2018 bertepatan dengan Hari Laut Sedunia (World Oceans Day), Komda APMI DIY resmi berdiri dengan diterbitkanya Surat Keputusan Pimpinan Pusat APMI dengan Nomor 018/SK-1B/022/APMI/VI/2018.

“Kami senang semakin banyak rekan-rekan pemuda yang tertarik untuk bergabung bersama APMI. Setiap kita memiliki peran dan tanggung jawab untuk menjaga kelestarian sumber daya laut dan keberlangsungan bangsa, utamanya para pemuda sebagai agen perubahan. Untuk itu, sudah saatnya kami sebagai pemuda ambil peran secara signifikan dan tetap optimis dalam membangun kemaritiman di Bumi Pertiwi”, kata Koordinator Bidang Organisasi, Keanggotaan, dan SDM APMI Asep Akmal Aonullah.

Adapun komposisi pengurus inti Komda APMI DIY, yaitu Iqbal Teguh Rahman sebagai Ketua yang merupakan mahasiswa Institut Teknologi Yogyakarta (ITY), Andi Iswah sebagai Wakil Ketua dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Febri Kurniawan selaku Sekretaris dan Karina Isnaini Putri selaku Bendahara yang keduanya mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Dengan komposisi pengurus dari berbagai latar belakang keilmuan dan kampus yang berbeda, Komda APMI DIY hadir sebagai inspirasi dan wadah pemuda untuk berkontribusi bangun maritim di DIY secara holistik.

Iqbal mengatakan, “Sebagai mahasiswa, kita sudah seharusnya dapat menjadi inspirasi dan memberikan dorongan bagi pemuda di sekitar dan berkontribusi dalam masyarakat. DIY dengan potensi maritimnya yang menjanjikan, memerlukan perhatian kita semua agar potensi tersebut bukan hanya sekadar angka di atas kertas tapi juga berdampak nyata pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, utamanya yang tinggal di daerah pesisir.”

Panjang pantai DIY sekitar 113 kilometer. Secara administratif terdapat tiga kabupaten yang mempunyai wilayah pesisir, yaitu Kabupaten Gunungkidul, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Kulon Progo. Wilayah pesisir dan laut DIY memiliki sumberdaya potensial seperti perikanan, energi dan sumberdaya mineral serta jasa lingkungan. Selain memiliki sumber daya potensial yang mempunyai nilai ekonomi, wilayah pesisir dan laut DIY juga memiliki peran strategis dalam perdagangan lokal, nasional, dan internasional karena berbatasan dengan Samudra Hindia. Potensi sebesar ini, sampai sekarang belum dimanfaatkan secara optimal.

Di sisi lain, wilayah pesisir merupakan tempat tinggal bagi sekitar 11% penduduk DIY dengan tingkat kesejahteraan yang relatif tertinggal dibanding wilayah lain. Pembangunan di DIY selama ini cenderung terkonsentrasi di Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, dan bagian utara wilayah Kabupaten Bantul yang lebih fokus kepada ekonomi yang berorientasi daratan. “Potensi maritim daerah pesisir DIY yang besar, terutama pariwisata bahari, perikanan tangkap, perikanan budidaya, dan energi terbarukan menjadi alasan kami untuk mendirikan Komda APMI DIY. Harapannya kami dapat membantu masyarakat dan pemerintah untuk memaksimalkan pemanfaatan potensi maritim yang ada dengan memperhatikan aspek sosial, lingkungan dan ekonomi secara gotong royong”, pungkas Iswah.


Sumber: Humas APMI DIY

Kementerian Teknis Maritim, Semakin Mendesak


Witjaksono tokoh muda maritim NU
PEMUDA MARITIMIndonesia yang memiliki 2/3 wilayahnya adalah lautan dan lebih dari 40% perdagangan dunia yang menggunakan jalur laut dipastikan melewati lautan Indonesia. Dengan demikian betapa strategisnya posisi Indonesia untuk kepentingan dunia. Visi kemaritiman yang di jadikan pemerintahan Jokowi-JK sebagai tiang penyangga utama dalam visi dan misi pemerintahan masih sangatlah tepat meskipun kondisinya sampai tahun ke empat umur pemerintahan Jokowi-JK masih belum maksimal menuaikan hasil. Dalam memasuki tahun politik di 2018 dan 2019, idealnya penerapan dan penyempurnaan dari gagasan besar poros maritim pun harus terus dibenahi  dan disempurnaakan untuk menyempurnakan kinerja pemerintahan Jokowi-JK hingga berakhirnya masa periode kepemimpinan pemerintahan.

Tanpa disadari bahwa visi besar poros maritim pun hilang dari pantauan mengingat banyaknya kinerja kinerja pemerintahan lainnya terutama bidang infrastruktur yang lebih di sorot sebagai tolak ukur keberhasilan pemerintahan dibandingkan kinerja dari valuasi keberhasilan lewat poros maritim. Padahal poros maritim merupakan visi besar presiden yang perlu di evaluasi karena menyangkut relevansi dari gagasan maritim kedepan baik jangka pendek maupun jangka panjang yang berkelanjutan.

Berbagai kecelakaan dilaut yang terjadi semenjak tahun 2014-2018 menjadi salah satu sorotan yang perlu diperhatikan karena berhubungan dengan tata kelola kemaritiman. Lemahnya fungsi kontroling dari sistem yang saat ini ada membuat Operasi Tangkap Tangan di kementerian perhubungan khususnya dirjen hubungan laut menjadi signal babak baru pemerintahan yang pro akan kemaritiman. Pergantian dua kali dirjen hubla juga menjadi salah satu sorotan bahwa perlu penanganan khusus persoalan kemaritiman tidak bisa hanya ditangani setingkat dirjen.
Menangapi permasalahan kemaritiman yang terjadi akhir akhir ini,  tokoh muda bidang Maritim dan Pertanian dari Pengurus Besar Nahdathul Ulama (PBNU), Witjaksono, menyampaikan, “Kedepan pemerintah perlu mengadakan reformasi birokrasi di bidang kemaritiman untuk meningkatkan kinerja dan perspektif yang beroientasi terhadap hasil”

“Hal ini merupakan sebuah hal yang cukup penting jika kedepan poros maritim dunia masih menjadi target utama dari pemerintahan, pungkasnya”

Dalam catatanya Witjaksono menyampaikan “sebanyak 36 kasus kecelakaan kapal sepanjang 2018 dengan 71 korban jiwa hal ini menjadi rapor merah kemaritiman”

Iya menegaskan, “Pasalnya kecelakaan kapal dilaut bukan hanya mempengaruhi visi presiden melainkan juga mencoreng nama indonesia dimata dunia”

“Apabila kita mau menjadikan tolak ukur  Tol Laut adalah sebagai ukuran sebuah keberhasilan pekerjaan jangka panjang, maka tingkat keselamatan dilaut wajib di lakukan pembenahan baik secara birokrasi, sisdur dan penerapan di dilapangan. Karena traffic dari kinerja tol laut berarti makin besar resiko tingkat kecelakaan laut, oleh sebab itu semua pihak harus mawas diri dan tanpa menggurui satu dengan lainnya harus bersama sama melakukan perubahan”, pungkas Ketua Pembina Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI) tersebut.

Witjaksono menegaskan “Kedepannya Pemerintah mempertimbangkan untuk adanya pembentukan kementerian teknis kemaritiman yang berfungsi untuk penerapan sistem kontroling yang lebih detile, jelas dan dapat secara teknis dan taktis dalam mengambil tindakan”

“Saat ini kementerian kooridinator kemaritiman belum cukup memiliki kapasitas untuk mengambil sikap teknis dan taktis karena fungsinya yang hanya sebagai kementerian koordinator”, tutup pria kelahiran Pati tersebut yang juga Penulis buku Ilmiah *Reborn Maritim Indonesia*

Askan Naim- Sekjen IPERINDO
Sekjen Iperindo (Ikatan Pengusaha Perkapalan dan Bangunan Lepas Pantai) Askan Naim di tempat yang lain juga menambahkan “Kementerian teknis kemaritiman harapannya juga mampu mendorong fungsi industri kemaritiman agar lebih mendapatkan porsi yang ideal”

Pasalnya selaku pengusaha iya menyampaikan, “kami membutuhkan blue print yang cukup jelas untuk keterbutuhan kapal kedepan seperti apa”

“Hal tersebut dikarenakan berpengaruh terhadap rencana investasi dan ekspansi para pengusaha galangan kapal”, pungkasnya

“Harapannya dengan adanya kementerian teknis kemaritiman indonesia dapat benar-benar berbicara banyak mengenai industri maritim”, tutup Askan

Sekjen IPERINDO Usulkan Kementerian Teknis Kemaritiman



PEMUDA MARITIM – Ikatan Perusahaan Industri Kapal Dan Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) periode 2018-2022 baru saja mengadakan pelantikan pada Selasa (3/7). Salah satu target yang disampaikan menteri perindustrian adalah membangun kerja sama galangan nasional dengan Kementrian Perindustrian mengembangkan pusat desain kapal dan meningkatkan produksi secara nasional untuk pasar lokal maupun ekspor sehingga mampu mengejar ketertinggalan dan sejajar dengan Negara-negara di kawasan Asia.
Menanggapi target tersebut Sekjen Iperindo Askan Naim menyampaikan, secara teknis galangan kapal indonesia mampu untuk dapat merealisasikan target dari kementerian perindustrian, mengingat kemampuan anggota Iperindo sudah sangat mumpuni.
“Namun kemampuan teknis dari galangan saja belum cukup untuk dapat mencapai target tersebut.” Pungkas Askan
Direktur Utama Krakatau Shipyard tersebut menyampaikan, “dibutuhkan dukungan dari instansi lain agar terjadi sinkronisasi untuk mendorong terwujudnya cita-cita luhur bangsa yang menjadikan indonesia sebagai poros maritim dunia.”
Ia menegaskan “salah satu instansi yang cukup berperan besar adalah kementerian perhubungan, karena hampir seluruh pekerjaan yang dilaksanakan sebagian besar bersumber dari kementerian tersebut.”
“Sayangnya kementerian perhubungan memiliki beban pekerjaan yang terlalu besar karna Kementrian tersebut dalam tupoksinya mengurusi bidang darat, laut, udara dan kereta api”, pungkas Askan
“Hal ini berdampak kepada kinerja kementerian tersebut. Sebut saja jika kita bicara mengenai laut saja, kementerian perhubungan mengurusi mulai dari tender pekerjaan kapal, mengoperasikan kapal - kapal Negara (kapal perintis, kapal navigasi, kapal patrol KPLP, dan kapal lainya), membangun pelabuhan dan pendalaman alur, kenavigasian, sertifikat-sertifikat,  izin kapal berlayar, syahbandar, izin pelaut dan masih banyak lagi”, pungkasnya
“Hemat saya melihat semangat yang tumbuh di bidang kemaritiman saat ini maka kedepan kementerian perhubungan perlu di evaluasi tugas dan tupoksinya. Itu dilakukan agar kinerja kementerian perhubungan dapat lebih maksimal”, tegasnya
Untuk mensukseskan program Tol Laut dan menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia maka sudah saatnya kapal yang berfungsi sebagai jalan dan jembatan di laut perlu mendapat perhatian serius oleh pemerintah dengan menjadikannya sebagai bagian dari infastruktur nasional.
Salah satu usulan yang disampaikan oleh Askan adalah dibentuknya “Kementerian Perkapalan dan Infrastruktur Maritim”.
“Melihat visi indonesia sebagai poros maritim dunia maka hal ini perlu di tindak lanjuti. Untuk itu Iperindo sebagai asosiasi pengusaha galangan kapal nasional  yang turut menggerakan perekonomian bangsa siap untuk dapat dilibatkan dalam perumusan usulan tersebut”, tutup Askan 



Sumber: iperindo

Fact Sheet PT UNITED TRACTORS PANDU ENGINEERING

Gedung PT. PATRiA

PEMUDA MARITIM –  PT United Tractors Pandu Engineering (UTPE) atau lebih dikenal melalui brand-nya PATRiA, merupakan salah satu anak perusahaan PT United Tractors Tbk. (UT) yang bergerak dibidang engineering & manufacturing untuk bidang heavy equipment, maritime, dan energy. Sejak pendiriannya pada tanggal 8 Februari 1983 hingga saat ini, UTPE telah menjadi salah satu perusahaan engineering & manufacturing terbaik dan terkemuka di Indonesia. Produk yang dibuat oleh UTPE antara lain ditujukan untuk sektor mining; industrial, construction & logistic; forestry & agro; oil & gas; part & service; rental; dan energy; serta sektor maritime yang dijalankan oleh 4 anak perusahaannya. Dibangun di atas tanah seluas 13 Hektar, UTPE memiliki beberapa fasilitas seperti: head office, manufacturing 1 & 2, yard, painting & blasting, prototyping workshop, warehouse, patria development center, serta Masjid Ibaadurahman.

PATRiA Semi Trailer Side Tipper

Sesuai dengan tagline-nya, “Solution for your productivity”, para engineer UTPE yang merupakan putera-puteri terbaik bangsa, telah berhasil membuat beberapa inovasi produk yang menjadi solusi bagi para customer-nya. Salah satunya adalah produk PATRiA X-Pro Vessel yang merupakan vessel dengan berat teringan dikelasnya dan mampu membawa beban lebih banyak dibanding produk lain yang serupa. Ada pula PATRiA X-Pro Trailer, trailer yang tidak hanya memiliki kapasitas angkut terbesar dikelasnya, tapi juga merupakan produk dengan best owning & operating cost. Selain dua produk untuk mining tersebut, ada  pula produk PATRiA untuk sektor forestry & agro, yakni PATRiA Sugarcane Core Sampler. Produk ini merupakan produk pertama buatan Indonesia, berupa unit yang terintegrasi dengan mobile-laboratorium untuk mengambil sampel tebu secara acak dan hasil laboratorium-nya dapat diketahui secara real-time sehingga sangat bermanfaat tidak hanya untuk pengusaha tebu, namun juga bermanfaat untuk petani tebu.

Dari penjualan produknya, serta konsolidasi dengan anak-anak usahanya, UTPE mentargetkan proyeksi penjualan di tahun 2018 sebesar 2,2 Triliun Rupiah, dimana 33% ditargetkan dari sektor Maritime Industry, dan 67% dari Heavy Industry.

PATRiA Water Tank

Selain menjadi brand yang sudah dikenal luas terutama untuk produk heavy duty transportation equipment di Indonesia, UTPE juga sudah mengekspor produk-produk PATRiA ke mancanegara seperti Coal Body ke Rusia, Semi Trailer Side Tipper seri 74 (SST-74) ke India, Snowplow ke Amerika Serikat, Travo Tank ke Perancis, Water Tank ke Australia, Side Trailer Dump Tipper seri 65 (SDT-65) ke Mongolia, dan kebeberapa negara lain di kawasan Asia Tenggara. Ekspor produk PATRiA ke luar negeri yang terbanyak saat ini adalah ke India dengan pengiriman Double Trailer SST-74 sebanyak 15 set, serta beberapa produk lain seperti Water Tank 50kl, X-Pro Coal Vessel, dan Light Vessel dash 2.

Atas inovasi pada setiap produknya, UTPE berhasil meraih beberapa penghargaan baik di dalam maupun luar negeri, seperti Gold, Platinum, dan Best Presentation pada National Convention TKMPN 2016; Triple Gold pada National Convention TKMPN 2017; Special Recognition pada InnovAstra 2016-2017; Juara kedua QCP dan juara ketiga VCI dengan PAMA Persada pada InnovAstra 2018; serta Indonesia Most Creative Company 2018 dari SWA.

Sedangkan untuk tata kelola manajemen, UTPE telah memiliki integrasi sertifikasi berstandar internasional, diantaranya ISO 9001:2015 untuk Sistem Manajemen Mutu, ISO 14001:2015 untuk Sistem Manajemen Lingkungan, dan OHSAS 18001:2007 untuk Sistem Manajeman Kesehatan & Keselamatan Kerja.

Delivering Excellence in Digital Manufacturing
Revolusi industri yang bermula dari produksi dengan mesin, berlanjut dengan produksi masal dan produksi otomasi, saat ini bergerak ke produksi digital. Menyadari hal tersebut, UTPE pun menyesuaikan diri terhadap perkembangan teknologi informasi dan industri pabrikasi 4.0, dengan mulai membangun mobile application untuk customer relationship management dan intelligent plant dashboard sebagai bagian dari digital manufacturing. Adapun konsep intelligent plant dashboard yang akan diterapkan pada lingkungan pabrik UTPE antara lain melalui Connected Plant Control System, dan Inventory & Warehouse Management. Transformasi digitalisasi UTPE ini akan mengubah manajemen informasi di pabrik dari manajemen data yang sebelumnya manual menjadi digital yang lebih tangkas, kolaboratif, dan transparan.

Dengan adanya transformasi UTPE melalui intelligent plant dashboard, rangkaian aktivitas dan value UTPE akan semakin terkoneksi satu sama lain dengan baik sehingga proses produksi pun akan semakin baik. Bahkan nantinya customer pun dapat memantau status produksi barang yang dipesan, sehingga antara layanan produk dan jasa UTPE dengan customer’s experiences dapat terkoneksi sesuai dengan harapan. Harapan dari semua hal tersebut adalah, UTPE dapat berkontribusi bagi perkembangan Industry 4.0 di Indonesia, dan dapat menjadi aset kebanggaan bangsa.


Sumber: Humas PT. PATRiA

Kunjungan Menteri Perindustrian RI, Bapak Airlangga Hartarto ke PT United Tractors Pandu Engineering

Bapak Airlangga Hartarto berserta rombongan mengawali kunjungan di UTPE dengan melihat plan project penerapan digitalisasi di UTPE

PEMUDA MARITIM – Program Pemerintah Republik Indonesia, “Making Indonesia 4.0” merupakan suatu program yang sangat inovatif dan sejalan dengan program dari PT United Tractors Pandu Engineering (UTPE) dalam hal penerapan industry 4.0 secara proses bisnis keseluruhan UTPE sehingga akan memberikan nilai tambah bagi industri manufaktur dalam negeri agar bisa bersaing secara global.
Bapak Hilman Risan selaku presiden direktur UTPE sedang menjelaskan mengenai produk kapal yang telah diproduksi oleh anak perusahaan dari UTPE yaitu PT Patria Maritim Perkasa

Seperti yang saat ini dilakukan oleh Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Bapak Airlangga Hartarto yang sedang gencar dalam mensosialisasikan program “Making Indonesia 4.0” tersebut kepada insan perindustrian di Indonesia. UTPE bangga menjadi salah satu perusahaan yang mendapat kunjungan dari Bapak Airlangga Hartarto pada Kamis, 5 Juli 2018 di head office dan plant-nya di Cikarang.
Bapak Airlangga Hartarto ketika memberikan pengarahan kepada karyawan UTPE dan masyarakat industry di sekitar kawasan industry Jababeka

Dalam kunjungannya, Bapak Airlangga Hartarto beserta rombongan dari Kementerian Perindustrian mengunjungi tim engineer dan menyapa rekan-rekan di area produksi. Pada kesempatan tersebut, Bapak Airlangga Hartarto memberikan pengarahan, motivasi, dan kebanggaan atas produk PATRIA yang menurut beliau merupakan hasil karya dan inovasi anak bangsa. Semangat mencapai Pride of The Nation menjadi motor setiap insan PATRIA dalam berinovasi dan yakin ke depannya kita tidak lagi tergantung dengan produk dari luar negeri, Indonesia bisa menjadi negeri yang mandiri di bidang perindustrian. 


Sumber: Humas PT. PATRIA

Angkat Masalah Plastik Laut, Wasekjen APMI Bersama Grupnya Raih Penilaian Project Plan Terbaik di Summer School Konservasi Laut Internasional

Kaisar Akhir bersama Grup Proyeknya dan Direktur Konservasi BWI, Dr. Peter Mackelworth

PEMUDA MARITIM –  Akhir Juni yang lalu, salah satu anak muda Indonesia kembali menorehkan prestasi yang  membanggakan dalam bidang kelautan di tingkat internasional. Ia adalah Kaisar Akhir, Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI). Kaisar bersama grupnya yang bermain peran sebagai sebuah non-governmental organization (NGO) bernama Zero Plastic (0P) berhasil mendapatkan hasil penilaian tertinggi atas presentasi sebuah rencana proyek konservasi di ajang International School of Marine Conservation Science (isMCS) 2018 yang diselenggarakan oleh Department of Biodiversity, FAMNIT - University of Primorska (Slovenia), Department of Fisheries and Wildlife - Oregon State University (Amerika Serikat), dan Blue World Institute (BWI) of Marine Research and Conservation (Kroasia).

Rekan-rekan satu grup dengan Kaisar ialah sesama peserta isMCS 2018 yang berasal dari negara berbeda, yaitu Anika dari Jerman, Rita dari Kroasia, Mikel dari Spanyol, dan Mari dari Finlandia. Mereka berlima mengangkat masalah sampah plastik laut di pantai Kroasia untuk diselesaikan dengan proyek yang dinamakan No Plastic – Fantastic. “Proyek ini bertujuan untuk mengurangi konsumsi plastik masyarakat di tiga lokasi pantai di Kroasia, yaitu Paradise Beach, Puntamika, dan Saplunara,” ungkap Kaisar.

Metode yang akan digunakan dalam proyek No Plastic – Fantstic meliputi pengambilan data sampah plastik dengan aksi bersih dan pemilahan jenis sampah plastik di pantai, edukasi ke masyarakat, workshop dengan berbagai pemangku kepentingan, pameran karya seni dari sampah plastik, dan penggunaan teknologi GIS untuk monitoring dan evaluasi kemajuan proyek.

Adapun penilaian rencana proyek yang juga sebagai ujian akhir dari summer school ini meliputi aspek pentingnya penelitian yang ingin diterapkan, landasan sains yang digunakan, rencana penggunaan dana, detail pelaksanaan kegiatan, upaya pelibatan masyarakat, dan dampak dari pelaksanaan proyek.

“Selain grup kami, ada 3 grup proyek lainnya dengan mengangkat isu dan lokasi yang berbeda dan bagus-bagus juga. Kami sangat bersyukur bisa meraih prestasi ini dan sebagai bentuk penghargaan, anggota grup Zero Plastic (0P) mendapatkan kaos eksklusif dari BWI,” ungkap bahagia Kaisar saat dihubungi oleh tim redaksi.

Summer school ini diselenggarakan dari tanggal 21-30 Juni 2018 berlokasi utama di Koper, Slovenia. Selain sesi kelas dan field trip di Slovenia, program isMCS 2018 juga ke Trieste, Italia serta Pula dan Losinj Island, Kroasia. Keikutsertaan Kaisar pada summer school ini sebagai perwakilan World Maritime University (WMU) di Swedia. Sebagai informasi, saat ini Kaisar merupakan mahasiswa program MSc in Maritime Affairs dengan spesialisasi Ocean Sustainability, Governance and Management di WMU.

“Dengan pengalaman dan pengetahuan yang didapatkan dari summer school konservasi laut ini, saya akan implementasikan untuk menjadi bagian dalam solusi penanganan masalah sampah plastik dan konservasi biota laut di Indonesia agar sumber daya laut kita bisa berkelanjutan, artinya dapat dinikmati bukan hanya oleh kita yang hidup saat ini tapi juga generasi bangsa yang akan datang,” pungkas Kaisar.


Edited by Ulfa.