Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

Keunikan Pulau Keffing, Pulau Penuh Nutrisi di Maluku


PEMUDA MARITIM – Pusat Penelitian Laut Dalam (P2LD) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ambon menemukan potensi kekayaan laut yang unik dan berharga di perairan Pulau Keffing, Kecamatan Seram Timur, Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku. Potensi itu cocok untuk wisata bahari dan meningkatkan kesejahteraan warga.

"Pulau Keffing itu unik, keunikannya tak dimiliki yang lain," kata Kepala Humas P2LD LIPI Ambon Roderock L. Ch. Dompeipen kepada Liputan6.com, Selasa, 30 Januari 2018.

Dari penelitian LIPI Ambon pada Desember 2017, misalnya, ditemukan ekosistem terumbu karang yang indah di dasar perairan Pulau Keffing yang cocok untuk wisata bahari. Selain itu, potensi lainnya juga unik.

Dompeipen menjelaskan, ada beberapa keunggulan tersendiri yang terdapat di perairan Pulau Keffing yang tak bisa ditemukan di mana pun yang ada di dunia. Kelebihan itulah yang dapat menyejahterakan warga sekitar jika dikelola secara baik.

"Perairannya kaya akan nutrisi. Itu yang membuat ikan julung-julung (Hemyramphus sp) tak pernah habis dieksploitasi di perairan Keffing," ujar Dompeipen.

Selain itu ada potensi teripang pasir yang dapat berkembang biak secara vegetatif dan generatif hanya dalam kurun waktu seminggu. Ada juga potensi cacing laut (Lyde oele) yang selalu muncul setiap bulan dan masih ada lainnya.


Cara Menuju Pulau Keffing

Pulau Keffing di daerah pesisir Kepulauan Seram bagian timur, diapit dua pulau lainnya yang saling berdekatan, yakni Pulau Seram dan Pulau Geser. Secara administratif ada dua desa yang mendiaminya sejak ratusan tahun lalu yakni Desa Keffing dan Desa Kellu.

Untuk sampai di sana, harus menempuh perjalan selama beberapa hari dari Kota Ambon. Jika menggunakan transfortasi darat bisa menyusuri Pulau Seram hingga Bula Ibu Kota Kabupaten SBT.

Kemudian menumpang kapal cepat atau kapal ferry ke Pulau Geser selanjutnya menyewa perahu bermesin tempel ke Pulau Keffing dengan harga di kisaran Rp 100 ribu waktu tempuh 30 menit.

Sementara dengan menggunakan kapal laut dari Ambon, perjalanan lebih efektif dan mudah, karena hanya menempuh satu kali persinggahan di Geser.



Sumber: liputan6.com

KRI Sigalu-857 Tangkap Pelanggar UU Perikanan di Belawan


PEMUDA MARITIM – KRI Sigalu-857 salah satu unsur Koarmabar yang tergabung dalam Operasi Benteng Sagara-18 menangkap kapal ikan berbendera Indonesia yang melakukan pelanggaran Undang-undang Perikanan di Perairan Belawan, Minggu (18/2).

Penangkapan terhadap kapal ikan tersebut, bermula saat KRI Sigalu-857 yang sedang melaksanakan patroli sektor di sekitar perairan Belawan melihat adanya sebuah kapal ikan memasuki alur Belawan dengan olah gerak mencurigakan.

Selanjutnya KRI Sigalu-857 melaksanakan peran tempur bahaya permukaan yang dilanjutkan dengan peran pemeriksaan dan penggedahan terhadap kapal ikan tersebut pada posisi 03° 54' 20" LU – 098° 44' 20" BT.

Dari pemeriksaan awal, diketahui bahwa kapal tersebut bernama KM Samudra Indah GT 88 No 858/SSd, berbendera Indonesia dengan ABK berjumlah 26 orang termasuk nahkoda serta bermuatan es batu dan ikan pancingan lebih kurang 30 kg.

Setelah dilaksanakan pemerikasaan lebih lanjut, ditemukan dugaan awal bahwa KM Samudra Indah melakukan tindak pidana perikanan karena saat diperiksa nakhoda tidak dapat menunjukkan beberapa dokumen sebagai kapal ikan yang seharusnya berada di kapal.

Berdasarkan pelanggaran tersebut, KRI Sigalu-857 selanjutnya mengawal KM Samudra Indah beserta ABK-nya menuju Dermaga Lantamal I Belawan untuk dilaksanakan proses lebih lanjut.



Sumber: Maritim News

Peperangan Litoral: Perang di Laut atau Perang dari Laut? (Bagian 2)


Oleh: Letkol Laut (P) Dickry Rizanny N., MMDS

"Perang-di-Laut" Anti Kapal Selam

Taktik peperangan anti kapal selam di zona litoral saat ini adalah tidak sesuai dengan kebanyakan sistem persenjataan dan alut sista yang dimiliki angkatan laut saat ini. US Navy sebagai kiblat kekuatan angkatan laut terbesar, menunjukkan bahwa sistem yang dikembangkan saat ini pertama kali dirancang untuk beroperasi di perairan laut dalam melawan kapal selam bertenaga nuklir Soviet. Sementara, di daerah pantai, peperangan anti kapal selam dilakukan di perairan dangkal melawan kapal selam diesel/listrik. Perbedaannya secara signifikan karena dua alasan.

Pertama, kapal selam diesel/listrik hampir tidak mungkin dideteksi dengan sonar pasif saat menyelam yang hanya menggunakan daya baterai. Sementara, kapal selam nuklir saat menyelam relatif menimbulkan suara akustik yang lebih bising dan seringkali dapat dideteksi pada jarak yang jauh di laut terbuka. Kesulitan dalam mendeteksi kapal selam diesel/listrik berarti bahwa kapal atas air harus menggunakan sonar aktif untuk mendapat kesempatan yang kuat dalam mendeteksinya. Di pihak lain, kapal selam dapat mendengar ping sonar aktif secara konstan pada jarak yang cukup jauh sehingga kapal selam dapat dengan mudah berada di luar jangkauan deteksi sonar aktif tersebut.

Kedua, di masa depan adalah sangat tidak mungkin bahwa satu negara akan beroperasi secara sendiri melawan musuh yang kemungkinan akan mengoperasikan kapal selam yang sama kelas. Sesuai dengan filosofi peperangan AKS dan prinsip-prinsip perang tentang "Fog of War", bahwa menemukan kapal selam diesel elektrik yang beroperasi di bawah air selama masa perang akan sangat sulit.

Tidak seperti masalah dalam peperangan anti udara yang harus ditangani melalui perubahan prosedural, untuk anti kapal selam harus dipecahkan dengan perubahan teknologi serta perubahan taktik. Masalah dengan deteksi dan klasifikasi kapal selam diesel/listrik memerlukan pengembangan sensor baru, baik akustik maupun non-akustik, dan pengembangan prosedur yang memungkinkan untuk mengintegrasikan kapal selam kawan ke dalam gugus tugas anti kapal selam. Gugus tugas AKS harus mengintegrasikan kapal selam, kapal permukaan AKS dan kapal ranjau ke dalam gugus tugas ini.

John F. Morton menulis untuk majalah Naval Institute "Proceedings" dengan jelas menyatakan tantangan AKS di masa depan adalah sebagai berikut: Angkatan Laut percaya bahwa skenario AKS regional yang paling mungkin akan terjadi dalam periode pra-konflik yang berkepanjangan dan akan melibatkan kapal selam diesel. Jika demikian, peperangan AKS yang ideal akan dimulai dengan penyebaran secara cepat aset pengamatan yang canggih, kapal selam nuklir dan pesawat patroli maritim (inipun belum dikalkulasi jika ada ancaman udara) serta diikuti oleh kapal permukaan yang memiliki Towed Array Sonar (TAS) di Look Zone dan Reaction Zone.

Aset AKS dan gugus tempur bergerak bersama, kemudian akan memulai operasi pembersihan area di daerah operasi pantai. Begitu mereka memiliki pengendalian laut, gugus tempur laut bisa melanjutkan dengan operasi blokade dan pendaratan amfibi. Jika terjadi masa pra-permusuhan yang singkat, komandan harus memiliki taktik yang inovatif. Sebagai contoh, beberapa kapal perang AKS akan dilengkapi dengan dua helikopter dengan dipping sonar, baik yang diterbangkan dari kapal sendiri maupun dari darat.

Meningkatnya jumlah helikopter AKS dalam gugus tempur, seperti yang diungkapkan dalam artikel Morton tersebut akan membutuhkan anggaran yang signifikan. Helikopter operasi sebagai platform penting dalam pencarian AKS sebagai bagian dari taktik inovatif adalah sebuah konsep yang menarik namun pemahaman tentang bagaimana penggunaan helikopter AKS dalam pertempuran harus sudah matang. Helikopter AKS telah digunakan sebagai unsur AKS reaktif yang memiliki mobilitas dan kecepatan aksi, yaitu dalam menanggapi kontak sonar yang didapat oleh sensor lain dalam gugus tempur. Helikopter tersebut akan diluncurkan dan beroperasi di area aksi (Scene of Action). Begitu berada di area tersebut, helikopter mengoperasikan sonar celup (dipping sonar) dengan harapan bisa mendapatkan sebanyak mungkin peluang mendapatkan kontak kapal selam.

Setelah kontak diperoleh, helikopter akan mulai memperbarui kontak untuk mencapai kriteria penyerangan dengan torpedo. Dalam area interoperabilits, sistem datalink adalah komunikasi data antara helikopter dan kapal pengontrolnya. Link data adalah sistem pengarah dengan "pensil-beam" yang berarti bahwa kapal hanya bisa terhubung dengan satu helikopter. Mengoperasikan heli AKS tanpa informasi datalink secara signifikan akan menurunkan kemampuannya untuk memproses data akustik yang diterimanya dari sonar celupnya.


"Perang di Laut" Anti Kapal Permukaan

Pertarungan terakhir "perang-di-laut" adalah peperangan anti kapal permukaan, dimana peperangan ini juga sangat terpengaruh di daerah pesisir. Seperti dua peperangan sebelumnya, masalah berkisar pada cara mendeteksi dan/atau mengidentifikasi ancaman pada saat peran tempur. Perairan di daerah pesisir bisa sangat padat. Rudal anti kapal utama milik angkatan laut adalah rudal Exocet, meski memiliki sistem panduan yang canggih, namun tidak dapat memilih kontak musuh dari beberapa kontak yang ada, termasuk tidak dapat membedakan kapal besar dan kapal kecil yang memiliki pertahanan diri. Dengan menugaskan pesawat jet tempur dalam melawan kapal kecil adalah menunjukkan penurunan misi utama terhadap kemampuan utama mereka sehingga berdampak negatif pada keseluruhan operasi. Satu-satunya senjata yang tersedia adalah helikopter bersenjata. Sayangnya, satu-satunya rudal yang kompatibel dengan helikopter di inventaris angkatan laut kita, rudal Strell/AL1M, yang memiliki jarak dekat, sehingga helikopter harus beroperasi dalam jarang jangkau senjata kapal musuh untuk meluncurkannya.

Solusi untuk masalah anti kapal permukaan adalah teknologi. Pembaruan rudal Exocet harus dilakukan. Penggunaan data link antara rudal dan kapal penembak memungkinkan operator untuk menetapkan target yang paling tepat. Secara taktik, rudal anti kapal jarak jauh lebih dari lima belas mil laut adalah sangat cocok untuk menggantikan Strella. Selain itu, serangan terkoordinasi yang memungkinkan beberapa peluncuran secara simultan dari beberapa helikopter dari arah yang berbeda dari target harus dikembangkan.

Pertempuran di daerah pesisir juga mencakup perluasan pengaruh angkatan laut ke daratan ("Perang-dari-laut"). Cara paling penting untuk melakukannya adalah melalui operasi amfibi. Sayangnya, Angkatan Laut tidak lagi memiliki jenis kapal yang tepat dengan daya tembak yang cukup untuk mendukung serangan amfibi secara memadai. Dua aspek penting dari serbuan amfibi adalah penyerangan pesawat pembom melalui serangan udara langsung (SUL) terhadap daerah pendaratan yang dimaksud dan bantuan tembakan kapal (BTK) selama penyerangan tersebut.

Bantuan tembakan kapal tidak semudah yang terlihat. Gagasan untuk menggunakan meriam berkaliber besar 120 mm, namun kondisi material kapal berusia lebih tiga puluh tahun membuat gagasan itu tidak efektif, karena sistem pengendalian senjata yang keakuratannya berkurang. Biaya untuk memperbaiki sistem akan sangat mahal. Sementara kapal-kapal baru hanya memiliki meriam 76 mm dengan efek penggentarnya tidak sebesar 120 mm. Sistem saluran penembakan meriam yang canggih di kapal-kapal baru, kelas Sigma dan PKR 10514, cukup membantu dalam keakuratan bantuan tembakan kapal dalam operasi pendaratan amfibi.


"Perang di laut" dalam peperangan ranjau

Manuver dari laut ("Perang-dari-laut") menyiratkan bahwa angkatan laut tidak hanya beroperasi di lepas pantai tapi juga berarti memproyeksikan kemampuan ke darat. Angkatan Laut berpengalaman dalam penggunaan pesawat angkatan laut untuk memproyeksikan kekuatan, namun terlanjur mempunyai perspektif hanya melalui serangan amfibi. Salah satu aspek operasi amfibi yang kurang mendapatkan perhatian adalah peperangan anti ranjau. Pengembangan doktrin operasi amfibi saat ini kurang membahas tentang peperangan anti ranjau. Di lain pihak, taktik peperangan ranjau ini pun juga telah usang, walaupun terdapat perkembangan teknologi peperangan yang mendukungnya.

Operasi pembersihan ranjau menghadirkan tantangan di arena teknologi dan taktis. Penambahan dan peningkatan jumlah kapal penyapu ranjau tidak sepenuhnya menyelesaikan masalah ranjau. Peningkatan pengumpulan data intelijen juga diperlukan. Peperangan ranjau telah menjadi ancaman yang jauh lebih serius bagi Angkatan Laut karena dua alasan. Pertama, ranjau angkatan laut yang digunakan saat ini jauh lebih canggih daripada yang digunakan di masa lalu. Kedua, korban kapal akibat ranjau tidak dapat diterima baik secara politis maupun kapal penyebar ranjau juga tidak dapat diterima baik secara politik maupun operasional. Sebuah tinjauan terhadap operasi amfibi utama dalam Perang Dunia Kedua menunjukkan bahwa ranjau tidak efektif sebagai efek penggentar dan penghalang untuk operasi amfibi. Alasannya yang jelas untuk ini tampaknya hanya berdasarkan jumlah korban saja. Di perang tersebut, kekuatan amfibi AS pada umumnya cukup besar dan pasukannya tersebar di antara kapal-kapal yang banyak, sehingga beberapa kapal yang tenggelam oleh ranjau tidak menghentikan serangan amfibi tersebut.


Kesimpulan 

Berkembangnya jenis ancaman di laut di masa depan, menjadi akan semakin sulit bagi angkatan laut untuk mendapatkan dominasi di area pertempuran di zona littoral. Agar Angkatan Laut dapat mempertahankan supremasinya di laut, kepemimpinan nasional harus membuat komitmen untuk mendukung jenis sistem persenjataan yang diperlukan untuk memproyeksikan dan mempertahankan kekuatan "di-laut" dan "dari-laut", terutama dalam peperangan litoral. Kekuatan angkatan laut harus memiliki kombinasi antara penyerangan terhadap musuh, waktu mobilisasi yang cukup, kerja sama dengan kekuatan udara, dan medan yang menguntungkan. Angkatan laut perlu mempertahankan serangkaian kekuatan modern yang beragam, yang dapat berfungsi dalam kondisi yang lebih menuntut daripada yang mereka hadapi dalam "perang di laut" dalam.




Daftar Pustaka

Washington Post, 4 Juli 1988. Dapat diakses di http://www.washingtonpost.com/wp-srv/inatl/longterm/flight801/stories/july88crash.htm

The New York Times, 18 November 1988. Dapat diakses di http://www.nytimes.com/1988/11/18/opinion/witness-to-iran-flight-655.html?pagewanted=all&src=pm

History.com, Military Blunders : Iran Airliner Shot Down, 3 Juli 1988. Dapat diakses di https://web.archive.org/web/20070518142130/http://www.history.com/minisite.do?content_type=Minisite_Generic&content_type_id=1271&display_order=3&mini_id=1278

Iran Chamber Society, 3 Juli 1988. Dapat diakses di  http://www.iranchamber.com/history/articles/shootingdown_iranair_flight655.php

Naval Science 302 : Navigation and Naval Operations II. Case Study on USS Vincennes. Dapat diakses di https://web.archive.org/web/20060527221409/http://dolphin.upenn.edu/~nrotc/ns302/20note.html

Nancy J. Cook, Stories of Modern Technology Failures and Cognitive Engineering Successes, CRC Press, 2007, halaman 77

Vincennes : A Case Study. Proceeding Magazines : August 1993 Vol 119/8/1086. Dapat diakses di  https://www.usni.org/magazines/proceedings/1993-08/vincennes-case-study

The Vincennes Incident. Proceeding Magazines : September 1989 Vol 115/9/1039.

Investigation into the Circumstances Surrounding the Downing of Iran Air Flight 655 on July 3, 1988. US Secretary of Defence. Investigation Report.



[1] Nancy J. Cook, Stories of Modern Technology Failures and Cognitive Engineering Successes, CRC Press, 2007, halaman 77.

[2] Vincennes : A Case Study. Proceeding Magazines : August 1993 Vol 119/8/1086. Dapat diakses di  https://www.usni.org/magazines/proceedings/1993-08/vincennes-case-study

[3] The Vincennes Incident. Proceeding Magazines : September 1989 Vol 115/9/1039

[4] Investigation into the Circumstances Surrounding the Downing of Iran Air Flight 655 on July 3, 1988. US Secretary of Defence. Investigation Report.

[5] Iran Chamber Society, 3 Juli 1988. Dapat diakses di  http://www.iranchamber.com/history/articles/shootingdown_iranair_flight655.php



Sumber: Maritim News

KRI Tenggiri-865 Tangkap Tug Boat di Babel


PEMUDA MARITIM – KRI Tenggiri-865 berhasil menangkap TB Sevent dengan TK KKP 03 yang melakukan tindak pidana pelayaran di Selat Bangka, Selasa (12/2).

Penangkapan tersebut bermula saat KRI Tenggiri-865 yang sedang melaksanakan patroli laut di perairan Selat Bangka pada posisi 02° 50’ 61’’ LS – 105° 57’ 42’’ BT mengidentifikasi adanya sebuah kontak pada radar dengan jarakllebih kurang 4 mil laut.

Kontak kapal tersebut mencurigakan karena saat diindentifikasi melakukan penyamaran dengan mematikan lampu. Selanjutnya KRI Tenggiri-865 mendekati target dan dari hasil penglihatan terlihat jelas kapal tersebut jenis tug boat yang sedang menarik tongkang.

Kemudian Komandan KRI Tenggiri-865 Mayor Laut (P) Agus Daryono melaksanakan prosedur komunikasi dengan nakhoda TB Sevent melalui radio VHF FM CH 16 dan menyampaikan bahwa KRI akan merapat di tug boat dalam rangka peran pemeriksaan dan penggeledahan.

Selanjutnya Tim Pemeriksa KRI Tenggiri-865  melaksanakan pemeriksaan dan penggeledahan terhadap kapal tug boat beserta muatan maupun kelengkapan surat/dokumen.

Dari hasil pemerikasaan ditemukan dugaan awal bahwa TB Sevent yang dinakhodai oleh GW melakukan tindak pidana pelayaran karena saat diperiksa nakhoda tidak dapat menunjukkan beberapa dokumen pelayaran yang seharusnya berada di Kapal.

Atas dugaan pelanggaran pelayaran  tersebut, TB Sevent beserta tongkang dan muatanya dikawal menuju pelabuhan Toboali untuk diserahkan kepada Posal Toboali Lanal Bangka Belitung guna pemeriksaan lebih lanjut.



Sumber: Maritim News

DFW-Indonesia Kritisi Penurunan Alokasi Anggaran SKPT


PEMUDA MARITIM – Upaya pemerintah mewujudkan industrialisasi perikanan dengan membangun Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) di wilayah pinggiran akan terhambat dengan menurunnya alokasi anggaran pembangunan SKPT. Keseriusan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membangun SKPT perlu dipertanyakan sebab sejauh ini, kemajuan program SKPT yang telah dibangun sejak 2015 belum menunjukan hasil yang optimal di sejumlah lokasi.

Ironisnya, tahun ini KKP menambah 1 lokasi menjadi 13 lokasi SPT tapi dengan alokasi anggaran yang menurun drastis. Ke-13 lokasi tersebut adalah Natuna, Mentawai, Nunukan, Talaud, Morotai, Biak, Mimika, Merauke, Saumlaki, Rite Ndao, Sumba Timur dan Sabang. Adapun 1 lokasi tambahan tahun ini adalah Moa di Kabupaten Maluku Barat Daya.

Koordinator Nasional DFW-Indonesia Moh Abdi Suhufan mengatakan bahwa KKP menunjukan inkonsistensi perencanaan program SKPT dengan tidak menjaga dan mengawal alokasi anggaran dan perbaikan pelaksanan program SKPT yang sebenarnya menjadi prioritas dan program ungulan KKP sendiri.

"Pembangunan SKPT tidak akan mencapai level yang diharapkan karena anggaran yang ada terus berkurang sejak alokasi awal dan kemudian mengalami pemotongan," kata Abdi.

Menurut catatan DFW-Indonesia, anggaran SPT tahun ini hanya Rp275.7 miliar, menurun dari Rp771,8 miliar pada awal tahun 2017 dan kemudian dipotong menjadi hanya Rp 657,8 miliar pada akhir tahun 2017. Penurunan alokasi sebesar 41,8% tentunya akan menggangu target SKPT secara keseluruhan.

Di samping problem anggaran, kualitas pelaksaanan SKPT sejauh ini belum mengalami perbaikan dari tahun ke tahun. Hal ini dapat dilihat dengan terlambatnya proses pengadan barang dan jasa kegiatan SKPT. Baik untuk pembangunan infrastruktur Unit Pengolahan Ikan (UPI), pelabuhan perikanan, maupun pengadaan bantuan kapal ikan bagi koperasi dan kelompok nelayan.

"Sampai memasuki bulan Februari 2018, belum ada tanda-tanda lelang pembangunan SKPT yang dilakukan oleh KKP. Hal ini akan mengulang kejadian tahun lalu dimana pengadaan kapal dan pembangunan lainnya di kebut pada akhir tahun," bebernya.

Dengan situasi ini, sulit mengharapkan operasionalisasi dan dampak SKPT seperti tujuan awal yaitu untuk memicu produksi perikanan di wilayah pinggiran, melakukan ekspor langsung dan menumbuhkan ekonomi lokasi melalui kegiatan perikanan. Oleh karena itu KKP perlu segera menyegerakan lelang kegiatan SKPT terutama untuk lokasi yang progressnya rendah seperti Saumlaki dan Mimika.

Sementara itu, peneliti DFW-Indonesia Subhan Usman mengingatkan KKP untuk tidak melupakan intervensi penguatan kapasitas kelembagaan nelayan di lokasi SKPT dan konektivitas antar rantai kegiatan. "Penyediaan infrastruktur perikanan dilokasi SKPT, mesti diikuti dengan upaya meningkatkan kapasitas kelembagaan nelayan melalui Koperasi atau BUMDes yang solid dan terkonsolidasi dengan baik," kata Subhan Usman.

Hal ini perlu dilakukan mengingat jenis-jenis bantuan masyarakat dan infrastruktur yang dibangun oleh pemerintah di loaksi SKPT memerlukan dukungan manajemen kelembagaan yang kuat oleh pemerintah daerah maupun oleh nelayan lokal. "Proses naik kelas nelayan lokal yang selama ini hanya mensuplay pasar-pasar lokal, akan bergeser dengan terbangunnya UPI di lokasi SKPT dan akan menyerap hasil tangkapan nelayan," ungkapnya.

Proses transisi dan perubahan orientasi tangkap yang dari tradisional menjadi modern membutuhkan pendampingan karena terkait dengan alih teknologi, dukungan permodalan dan skill yang meningkat oleh kelompok nelayan di lokasi SKPT.



Sumber: Maritim News

Asyiknya Berlibur ke Pantai Tambak Sari di Probolinggo


PEMUDA MARITIM – Di Kabupaten Probolinggo Jawa Timur, masih banyak obyek sisata yang masih belum dikenal masyarakat.

Padahal kondisi geografis Kabupaten Probolinggo yang di sisi utara berbatasan langsung dengan laut Jawa membuat potensi wisata pantai di daerah setempat cukup berlimpah.

Salah satunya pantai Tambaksari, di Desa Sukokerto, Kecamatan Pajarakan, yang masih menawarkan keindahan alami.

Pada liburan panjang kali ini,  di pantai Tambak Sari, tak seperti biasanya. Banyak pecinta pantai dan warga masyarakat yang senang berwisata, berkunjung ke pantai ini. ada yang sendiri, ada yang bersama pacar dan banyak juga bersama keluarganya.

Nuansa alami benar-benar terasa ketika kita sampai di kawasan pantai yang terletak di kawasan paling ujung utara ini.

Gulungan ombak yang stabil dan hamparan pasir yang luas jadi view utama pantai ini Sukokerto tersebut.

Hamparan pohon bakau mangrove yang ada di sepanjang bibir pantai semakin menambah kesan alami. Bagi yang hobi narsis di depan kamera, pantai Tambaksari bisa jadi salah satu jujukan utama. Bahkan, di bibir pantai ini, oleh masyarakat setempat digunakan untuk berfoto-foto dan prewed.

Selain itu, tampak warga dan para pengunjung menikmati nuansa pantai ketika sore hari sambil mencari kerang. Pengunjung sebagian besar sengaja membawa wadah palastik untuk membungkus hasil mencarikerang.

Keindahan alami pantai itu juga kerap dimanfaatkan muda-mudi untuk berpacaran. Selain itu, pantai tambaksari juga jadi salah satu jujukan favorit wisata keluarga.

“Ya, ini saya bersama keluarga ke pantai Tambak Sari. Penasaran ingin tahu nuansanya ketika sore hari sambil mencari kerang. Ternyata sangat asyik juga berwisata ke pantai ini. senang menikmati keramaian disini,”tutur Aisyah, salah satu wisatawan lokal, asal Probolinggo, Sabtu (2/11/2017).

Senada dikatakan Hermawan, asal Paiton. Ia bersama teman komunitasnya sengaja berwisata ke pantai Tambak Sari, sambil mengabadikan pemandangan di sekitar pantai.”Baru kali ini pergi ke pantai ini. pemandangannya syik, cocok untuk dibuat liburan bersama teman-teman,”ungkapnya.

Selain menikmati berbagai pesona alam pantai Tambaksari, para pengunjung juga bisa menikmati suasana memancing di kawasan pantai. Sebab tak jauh dari pantai, ada beberapa tambak milik warga yang disewakan untuk memancing.

Untuk menuju pantai tersebut, Anda harus menempuh jarak sekitar kurang lebih satu kilometer dari jalan raya Pajarakan ke arah utara. Sekitar satu kilometer dari jalan raya.

Area parkir sekitar 200 meter menuju pantai sudah tersdia. Jika penasaran, silahkan berlibur ke pantai Tambak Sari Pjarakan.



Sumber: timesindonesia.co.id

Letkol (Mar) Ali Sumbogo Jabat Kadispen Korps Marinir


PEMUDA MARITIM – Komandan Korps Marinir (Dankormar) Mayjen TNI (Mar) Bambang Suswantono mengukuhkan Letkol Marinir Ali Sumbogo sebagai Kepala Dinas Penerangan Korps Marinir (Kadispen Kormar). Pengukuhan tersebut ditandai dengan penyematan “tanda jabatan” Kadispen Kormar bertempat di Gedung Utama Markas Komando Korps Marinir (Mako Kormar) di Jalan Prajurit KKO Usman dan Harun No. 40 Kwitang Jakarta Pusat, Senin (19/2).

Dankormar berharap agar pengukuhan jabatan ini, dapat membawa semangat dan energi baru serta penyegaran pemikiran yang selalu berorientasi kepada terwujudnya perilaku organisasi yang lebih dinamis sehingga dapat menghasilkan kinerja dan kemampuan profesionalisme yang optimal.

Sebelum menjabat sebagai Kadispen Kormar , Alumni Akademi Angkatan Laut -43 tahun 1997 ini berdinas di Akademi Angkatan Laut sebagai Kepala Markas Latihan Marinir Departemen Marinir. Jabatan strategis lainnya yang pernah dipegang oleh Letkol Ali Sumbogo antara lain Komandan Batalyon Howitzer Resimen Artileri -2 Marinir dan Perwira Staf Operasi Resimen Artileri -2 Marinir.



Sumber: Maritim News