Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

Analisa Kehadiran US Coast Guard terhadap Strategi China di Laut China Selatan


Oleh: Kolonel Bakamla Salim*


“Kapal-kapal ikan negara China yang diawaki oleh Maritime Militia menyebar keseluruh dunia untuk memenuhi kebutuhan makan bangsanya, akan tetapi pada akhirnya Kapal – kapal tersebut dipaksa untuk berhadapan dengan Coast Guard Negara lain".


Model Maritime Coercion China
Melihat perkembangan Laut China Selatan, tampaknya  Beijing akan terus berusaha untuk mencapai sasaran strategisnya dengan menggunakan model kekuatan Maritime Coercion untuk menghindari konflik militer. Hal tersebut terlihat dari beberapa fakta perkembangan kejadian-kejadian yang melibatkan Kapal Coast Guard China dengan Nelayannya yang di deploy pada wilayah – wilayah yang dianggap sengketa antar negara di Laut China Selatan. 
 
Pendekatan Maritime Coercion yang dilakukan oleh China yaitu melalui peningkatan penggunaan Coast Guard dan Maritime Militia. Strategi tersebut akan terus dilakukan dalam setiap scope ancaman untuk merespon setiap operasi yang dilaksanakan. Pada akhirnya nanti akan terlihat bahwa China akan meningkatkan secara cepat dan simultan penggunaan kapal Coast Guardnya dalam jumlah besar, kapal negara dan kekuatan Militianya. Beijing juga bermaksud untuk meningkatkan eskalasi melalui postur kekuatannya dalam jangkauan Over The Horizon PLA Navy.

Model peningkatan cara bertindak yang diterapkan oleh China mulai dari tahapan menghadirkan maritime non naval, meningkatkan jumlah asset yang dititikberatkan pada prioritas ancaman, menggunakan paksaan yang diperlukan saat adanya ancaman hingga pengorganisasian untuk mempertahanan operasi jika diperlukan. Pada akhirnya model pengerahan yang diterapkan, Cina akan mengaktifkan rencana contingency untuk mendukung operasi dalam jangka yang lebih panjang dengan melampaui kemampuan lawan dan mempertahankan operasi serta memperkuat kehadiran kapal-kapal non-naval dan dengan asset-aset militer. Inilah yang mungkin tidak diinginkan oleh negara – negara yang berada di Kawasan LCS.

Dari model cara bertindak China yaitu pemaksaan secara maritim, dapat disimpulkan bahwa Konsolidasi pengendalian wilayah yang disengketakan akan terus dilakukan sambil menghindari konflik regional dan campur tangan pihak luar. Tahapan selanjutnya China akan terus meningkatkan penggunaan kekuatan kapal-kapal non-naval sebagai opsi koersif dalam aktivitas di LCS, melalui pendayagunaan Kapal-kapal Coast Guard, Milia Maritim dan bila di perlukan akan menggunakan kekuatan Angkatan Laut China.

Kehadiran US Coast Guard
Beberapa bulan lalu kehadiran U.S. Coast Guard Cutter Bertholf berlayar melalui Laut Cina Timur, kapal-kapal Chinamembayangi di laut lepas. Sinyal tersebut menandakan bahwa sebagai pengingat bagiorang – orang Amerika tentang di mana mereka berada: sebagai symbol bahwa “anda berada padadaerah yang strategis beberapa ratus mil dari pantai China.”

Kejadian tersebut merupakan respons dari Amerika Serikat yang mengindikasikan bahwa keadaan yang berkembang merupakan respon terhadap kebangkitan misi operasi peran Coast Guard dan China yang biasanya lebih dekat dengan pekarangan rumah. US Coast Guard semakin mengarahkan dirinya ke China. Komandan US Coast Guard Laksamana Karl Schultz, mengatakan bahwa ketika Departemen Pertahanan mengalihkan fokusnya untuk bersaing dengan Rusia dan China, Angkatan Laut "oversubscribed”dua kapal perusak Angkatan Laut yang terlibat dalam tabrakan maut pada tahun 2017.

Disisi lain menunjukkan bahwa pengerahan US Coast Guard  ke wilayah Asia-Pasifik dari Alameda, California, pada beberapa bulan lalu menandai perluasan operasi  US Coast Guard dan US Coast Guard telah melakukan beberapa misi yang biasanya ditugaskan untuk Pentagon, termasuk transit  di Selat Taiwan pada bulan Maret bersama dengan USS Curtis Wilbur, sebuah kapal perusak Angkatan Laut, yang dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa “Jalur pelayaran internasional dekat China tetap terbuka.”

Analisa dari kehadiran US Coast Guard dikawasan LCS menunjukkan bahwa penegakkan hukum pada saat damai Amerikan akan berusaha mengimbangi Strategi model China dengan dan akan menghadirkan unsur unsur Non Naval. Kehadiran Amerika bila menggunakan US Coast Guard akan berdampak pada peningkatan kerjasama negara-negara sekitar Laut China Selatan khususnya dalam peningkatan kapasitas maupun kemampuan Coast Guard negara-negara yang berdekatan dengan LCS.

Kebutuhan kehadiran kapal-kapal Coast Guard tidak hanya sekedar melawan China namun menunjukkan pada era perkembangan saat damai berkepanjangan Law Enforcement at Seakhususnya akan mengedepankan pengerahan kapal-kapal Non-Naval maupun Coast Guard. Namun apakah persepsi ini juga akan mewakili pengertian bahwa kehadiran US Coast Guard sebagai Kekuatan Pengganda atau peningkatan Diplomasi Maritim, kita tunggu selanjutnya.



*Penulis: Plh.Direktur Kerjasama Bakamla

Nelayan Dan Kedaulatan

doc. antara foto
Oleh: Hendra Wiguna*

PEMUDA MARITIM – Nelayan memiliki hubungan erat dengan aktivitas di laut, karnanya secara wilayah secara tidak langsung memiliki hak eksekutif untuk memanfaatkan laut. Selanjutnya nelayan bisa menentukan kemana ia akan beroperasi melangsungkan proses penangkapan ikan, ini adalah sebuah pembuktian bahwa bangsa ini bisa menentukan nasib sendiri. Berbekal perahu dan jala nelayan secara turun temurun memenuhi kebutuhan hidupnya dari aktivitas penagkapan ikan sebagai tanda bahwa mereka bisa berdiri diatas kemampuan sendiri.


Diatas adalah beberapa uraian yang menandakan bahwa nelayan adalah gambaran bangsa yang berdaulat, tak ayal jika keberadaan nelayan adalah bagian dari kedaulat Bangsa dalam hal penguasaan wilayah teritorial ataupun dalam pemenuhan pangan dalam negri.

Hamparan laut Indonesia yang memiliki luas 3,25 juta km2 serta ditambah dengan 2,55 juta km2 Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), diyakini menjadi sumberdaya ikan yang melimpah yang sudah pasti cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan terlebih ditambah dengan aktivitas budidaya. Namun, kesemua itu hanya menjadi catatan saja apabila tidak adanya pelaku utama perikanan Indonesia yakni yang kita kenal dengan Nelayan.

Tanpa adanya Nelayan, kemungkinan besar di meja makan kita tidak kehadiran menu hasil perikanan. Yah, nelayan adalah pemiliki, penjaga dan yang menjadikan laut Indonesia lebih bernilai.

Lantas akhir-akhir ini kita menjumpai konflik-konflik lokal antara nelayan dengan kepentingan lainnya, kita temui alur layar atau jalur penangkapan ikan sedikit banyak bersinggungan dengan aktivitas sector lainnya. Sangat disayangkan memang, namun inilah panggilan untuk kita semua agar sedikit banyak lebih memperhatikan nelayan. Tidak hanya sekedar menikmati hidangan ikan diatas meja makan, kita-pun harus bisa memastikan mengenai kesejahteraan nelayan itu sendiri.

Pemilu 2019 tinggal menyisakan perhitungan ulang serta penetapan hasil pemilu, semoga siapapun yang terpilih akan lebih memusatkan perhatiannya kepada laut serta nelayan, agar kita menjadi bangsa pembelajar yang baik terhadap sejarah. Karena, bukankah catatan sejarah menyatakan bahwa kejayaan nusantara ini ada ketika pemerinatahannya menaruh perhatian lebih kepada aktivitas laut.

Namun bukan sekedar menggantungkan harapan kepada penyelenggara Negara saja, kita-pun mesti ikut andil didalamnya dengan memberikan perana sesuai dengan kemampuan masing-masing baik secara individual ataupun secara kelompok. Dan membentuk kelompok atau pagayuban nelayan adalah satu bentuk langkah yang dirasa baik, agar nelayan bisa diberdayakan serta berkembang. Misalnya dengan membentuk kelompok usaha seperti koperasi ataupun kelompok penjaga kelestarian laut dan lain sebagainya.

Nelayan adalah kekuatan utama bangsa dan negri ini sebagai perwujudan kedaulatan wilayah teritorial dan pangan. Karnanya, memberikan perhatian lebih kepada mereka adalah keberpihakan nyata dalam langkah mewujudkan pembangunan Indonesia.


*Humas DPD KNTI Kota Semarang

Kegigihan Perempuan Pesisir, Catatan di Hari Kartini

doc.books-for-women.blogspot.com
Oleh: Hendra Wiguna*

PEMUDA MARITIM –  Hari Kartini identik dengan penghayatan perjuangan seorang perempuan Indonesia, yakni Raden Adjeng Kartini. Beliau mencetuskan pemikiran-pemikiran berkenaan dengan kondisi sosial perempuan Indonesia. RA Kartini lahir di Jepara, daerah yang terletak di pesisir pantai utara Jawa Tengah. Daerah ini terkenal dengan kerajinan ukir serta populasi nelayan yang cukup besar.

Selain RA Kartini, perempuan pesisir yang menjadi inspirasi perempuan Indonesia adalah Laksamana Malahayati, seorang laksamana laut perempuan pertama di dunia. Beliau adalah panglima perang Kesultanan aceh yang tersohor karena keberaniannya saat melawan armada angkatan laut Belanda dan portugis pada abad ke 16 M. Dan bisa jadi banyak sekali perempuan-perempuan pesisir yang dapat dijadikan inspirasi, baik perempuan pejuang dimasa silam ataupun sekarang ini.

Indonesia memiliki laut yang lebih luas dari daratannya, panjang garis pantai Indonesia sendiri sekitar 99.093 km menjadikannya terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Kebanyakan di sepanjang garis pantai inilah terdapat perkampungan, yang pada umumnya cukup padat.  Mayoritas masyarakatnya menjadi nelayan tradisonal bagi yang laki-laki sedang perempuannya berdagang. Adapun aktivitas nelayan tersebut waktu melautnya bisa di pagi hari ataupun dimalam hari, durasi waktunya kebanyakan antara 8-10 jam. Sedang perempuan biasanya menjajakan hasil tangkapan suaminya baik berupa ikan mentah ataupun ikan yang sudah diolah.

Jika kita perhatikan dengan seksama, aktivitas atau durasi jam kerja perempuan di pesisir itu lebih panjang ketimbang dengan aktivitas nelayan terutama untuk di daerah Kota Semarang.

Jika nelayan melaut dari pukul 05.00 WIB, maka perempuan atau istri nelayan ini menyediakan perbekalan sebelum jam 05.00 WIB artinya perempuan ini memulai aktivitasnya lebih awal dari nelayan/suaminya.

Ketika nelayan melaut, istri nelayan ini menyelesaikan tugas rumah tangga seperti bersih-bersih ataupun menyiapkan perbekalan anaknya ketika hendak bersekolah. Kemudian dilanjut dengan aktivitas mengolah hasil tangkapan ikan, ataupun ketika nelayan sudah pulang ikut membersihkan ikan hasil tangkapan terutama kerang, adapula yang aktif membuat kerjinan dari kulit kerang.  Selain itu, mereka juga kadang langsung menjajakan hasil tangkapan dan pengolahan ikan ke pasar.

Jadi selain mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri, perempuan pesisir secara tidak langsung terlibat dalam proses produksi hasil perikanan serta kegiatan pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Bahkan dibeberapa daerah bisa dijumpai perempuan pesisir ini menjadi nelayan, seperti di Desa Purworejo Kabupaten Demak dan di Desa Torosiaje Laut Kabupaten Pohuwato. Sekarang sudah berdiri sebuah organisasi yang menaungi perempuan-perempuan nelayan yakni Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI).

Melihat begitu gigihnya perempuan pesisir ini, perlu perhatian lebih dari pemerintah terutama dalam bidang pendidikan. Hal ini dimaksudkan sebagai perwujudan dari penghayatan Hari Kartini, momentum ini jangan semata-mata hanya sebagai agenda tahunan saja.

Namun, menjadi refleksi bagi keberjalanan pemerintah sudah sejauh mana memberikan perhatian kepada perempuan pesisir. Karena perempuan adalah tiang negara, Annisa ‘imadul bilad, idza sholuhat sholuhal bilad.

*Penulis adalah Humas KNTI Kota Semarang

Ayo Kembali Ke laut, Demi Kesejahteraan Rakyat

Kolonel Bakamla Salim

“Konsekwensi tidak adanya Garis Besar Haluan Negara, dihadapkan pada wilayah laut kita yang luas maka proses membangun kelautan Indonesia tidak cukup dengan satu dua rezim pemerintahan saja, namun diperlukan keberlanjutan pembangunan  yang bervisi Maritim.”


Siklus 7 abad Kejayaan Maritim Nusantara diawali Kerajaan Sriwijaya abad 6-7, Majapahit pada abad ke 13 -14 dan Indonesia saat ini abad 20 – 21. Adalah Visi Presiden ke-7 Republik Indonesia untuk menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia merupakan Tonggak sejarah lanjutan dalam menyongsong kebangkitan dan kejayaan Bangsa Indonesia. Setidaknya ada beberapa Milestone dalam visi maritim Presiden Jokowi sejak diberi mandate sebagai Presiden RI dengan akhir pidato pengangkatannya mengucapkan “Jales Veva Jaya Mahe”.

Sempurna memang belum akan tetapi fondasi itu telah dibangun untuk keberlanjutan pembangunan maritim. Jangkar pertama dengan adanya kebijakan kelautan Indonesia. Hampir 73 tahun merdeka Indonesia tidak memiliki Road Mapatau peta jalan yang jelas, baru kali ini Indonesia memiliki dokumen sebagai guide atau pemandu pembangunan kelautan dengan diluncurkannya perpres  Nomor 16 Tahun 2017 tentang Kebijakan Kelautan Indonesia (Indonesia Ocean Policy).

Jangkar kedua adanya konektivitas laut. Konsep konektivitas laut ini sebenarnya pengejahwantahan dari sila ke lima Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Selama ini pembangun dipusatkan di Pulau Jawa yang telah melupakan Pulau – Pulau terdepan maupun terpencil sehingga lambat laut ketimpangan pembangunan kian terasa tidak hanya bagi rakyat tapi juga bagi negara. Ketimpangan tersebut khususnya transportasi antar wilayah maupun pulau dan biaya hidup maupun barang.

Jangkar ketiga sebagai fondasi pembangun maritim Presiden Jokowi telah dapat menyelamatkan kekayaan sumber daya laut, tidak terkecuali perikanan. Salah satu dari 9 srikandi dalam pemerintahan Jokowi adalah Menteri Kelautan ibu Susi yang tidak hanya akan dirasakan manfaatnya oleh nelayan maupun rakyat Indonesia akan tetapi telah diakui oleh dunia Internasional baik perorangan maupun atas nama negara. Berpuluh-puluh tahun lautan Indonesia sebagai ajang perampok mencuri ikan maupun mafia baik dalam dan luar negerinamun selama pemerintahan Jokowi keok dan tidak muda lagi dilakukan meski masih ada celah untuk dilakukan.

Berdasarkan laporan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI menyebutkan mulai dari November 2014 hingga Agustus 2018 sebanyak 488 kapal pencuri ikan ditenggelamkan. Saat ini, sesuai Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 50 Tahun 2017, potensi lestari ikan di laut Indonesia mencapai 12,5 juta ton. Dimana sebelumnya potensi ikan Indonesia berpuluh-puluh tahun sekitar 5, 6 atau 7 saja.

Kelanjutan Visi Maritim
Pilpres telah berlangsung meskipun visi maritim dalam debat Presiden tidak dijadikan materi utama, namun rakyat akan menunggu kelanjutan visi maritim negara untuk menyongsong kejayaan bangsa Indonesai sebagai negara maritim yang besar. Siapapun Presidennya visi maritim harus terus dikumandangkan. Beberapa hal yang seharusnya menjadi prioritas keberlanjutan Visi Poros Maritim Dunia antara lain:

Pertama, dihadapakan pada perkembangan lingkungan strategis regional maupun global khususnya menghadapi Belt And Road Initiativeyang diluncurkan oleh Cina dan konsep Indo Pasifik oleh Amerika, terkait maritime securitymaka dalam keadaan damai berkepanjangan Indonesia harus mengedepankan Law enforcementkhususnya diwilayah perairan Indonesiayang sering mengalami sengketa. Oleh karena itu peningkatan dan pengembangan Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla RI) yang mengemban fungsi Coast Guard (Maritime Security, Maritime Safety, Maritime Defence)bukan suatu kemewahan akan tetapi suatu kewajiban untuk meneggakkan hukum di wilayah perairan dan wilayah yurisdiksi Indonesia.

Kedua, dampak dari maritime security adalah kita harus dapat memastikan bahwasannya diplomasi maritim kian strategis baik dalam kontek kawasan maupun multinasional. Diplomasi maritim akan sangat terkait dalam menjaga perdamaian kawasan terutama penyelesaian perjanjian batas wilayah dengan negaratetangga, serta memperluas dan menekan bea masuk produk-produk perikanan dan kelautan Indonesia ke negara-negara tujuan ekspor.Dalam kontek multinasional Indonsia dengan kekuatan maritimnya akan dapat memberikan kontribusi yang positif bagi terciptanya perdamaian dunia.

Ketiga, Peningkatan kesejahteran masyarakat maupun nelayan dengan memperkuat kreative masyarakat khususnya nelayan guna meningkatkan nilai dari produk-produk kelautan serta peningkatan kualitas hidup masyarakat. Dari total 17,9 juta hektare potensi lahan untuk kegiatan perikanan budidaya di darat maupun laut, baru 1,3 juta hektare yang termanfaatkanitupun dengan produktifitas yang rendah oleh karena itu kedepan perlu peningkatan dan kita bisa mengambil peluang untuk kesejahteraan Rakyat.

Lupakan riuhnya Pilpres yang terpilih adalah yang terbaik, dan visi membangun Poros Maritim Dunia harus terus dilanjutkan… Semoga.. Aamiin YRA


Oleh: Kolonel Bakamla Salim
(Plh Direktur Kerjasama Bakamla)

Humas KNTI Kota Semarang ; Setelah Terpilih, Jangan Lupakan Nelayan

PEMUDA MARITIM – Tatkala datangnya Pemilu, hampir semua energi bangsa ini mengarah kepada agenda politik tersebut. Bukan sepenuhnya negatif, hanya saja jangan sampai kita melupakan keberadaan atau keadaan sekitar.

Pemilu 2019 ini dirasa-rasa tetap sama saja, di mana para kandidat terutama calon legislatif lebih banyak membicarakan tentang pesona personal ketimbang gagasan apa yang akan ia bawa ketika ia menjadi bagian dari legislatif.

Bangsa Indonesia mewarisi bagian bumi bak surga, tak ayal menjadi rebutan hingga sekarang. Indonesia memiliki luas wilayah 7,81 juta km2, dengan luas lautnya 3,25 juta km2, ZEE 2,55 km2, sedang daratanya hanya 2,01 juta km2. Karenanya Indonesia perlu mengarahkan pandangannya ke pengelolaan laut. Bukan pengelolaan serta merta, namun pengelolaan yang dapat dipertanggungjawabkan karena di laut terdapat hajat orang banyak termasuk masa depan generasi penerus bangsa ini.

Jika menilik laut dengan seksama, maka di sana kita dapati bahwa nelayanlah yang mewarisi laut Indonesia siang atau malam mereka bergantian bersama laut. Kehidupan mereka bergantung dengan laut, akan tetapi akhir-akhir ini jumlah nelayan kian berkurang.

Selain itu, di Tambak Lorok yang merupakan perkampungan nelayan terpadat di Kota Semarang masih didapati nelayan-nelayan tradisional yang belum memiliki kapal. Mereka melaut ikut kapal tetangganya yang nantinya menerima bagi hasil.

Tentu hasil yang didapat oleh nelayan ini tidak seberapa, mengingat kondisi laut jawa terutama area yang berdekatan dengan aktivitas pabrik serta minim kesadaran akan pembuangan sampah menjadikan kondisi laut memprihatinkan. Selain tantangan kondisi laut yang tak lagi menjadi rumah ikan yang baik serta keadaan cuaca yang tidak bisa diprediksi, ditambah lagi dengan sulitnya mendapatkan BBM.

Itulah sedikit uraian mengenai keadaan nelayan saat ini, mungkin beberapa caleg ada yang sudah mendapatinya ketika berkampanye di lapangan. Namun, yang terpenting adalah akankah mereka dapat menyelesaikan permasalahan tersebut ketika sudah terpilih nanti. Karena sejatinya nelayan adalah penjaga kekayaan bangsa ini, karena mereka kita bisa menikmati hasil laut.

Merekalah yang tetap menjaga budaya leluhur kita yang konon katanya seorang pelaut, mereka berada paling depan wilayah negri ini.

Jangan lupakan nelayan jika sudah terpilih nanti, ingat mereka rela libur melaut untuk ikut memilih


Sumber: Hendra Wiguna/Humas DPD KNTI Kota Semarang

Simposium PERHIMATEKMI; Kesiapan Sektor Maritim dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Kolonel Bakamla Salim, SE

PEMUDA MARITIM – Surabaya (9/2), Bersamaan dengan Musyawarah Kerja Nasional PERHIMATEKMI, diselenggarakan Simposium yang mengangkat tema "Kesiapan Sektor Maritim dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0" dengan pembicara Kolonel Bakamla Salim, S.E. Tema ini diangkat mengingat cita-cita indonesia untuk menjadi poros maritim dunia bersamaan dengan kemajuan teknologi Revolusi Industri 4.0. Kegiatan Simposium ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Teknik dan Ilmu Kelautan Bapak Dr. Viv Djanat Prasita, M.App.Sc dan Wakil Dekan III Bidang Kerjasama dan Kemahasiswaan Bapak Dwisetiono, S.T., M.MT. Simposium ini diselenggarakan untuk memberikan gambaran kepada mahasiswa tentang bagaimana Sektor Maritim Indonesia dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0.

Kegiatan Simposium dibuka dengan sambutan oleh Dekan Fakultas Teknik dan Ilmu Kelautan, dilanjutkan oleh Ketua PERHIMATEKMI Muhammad Fathan kemudian oleh Ketua Panitia Musyawarah Kerja Nasional PERHIMATEKMI Randy Rumbawa. Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Teknik dan Ilmu Kelautan menyatakan bahwa Revolusi Industri 4.0 sangat erat hubungannya dengan era digital dan diharapkan para generasi muda bangsa sudah siap dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0.


Kolonel Bakamla Salim memulai dengan menjelaskan sejarah kemaritiman sejak jaman kerajaan Sriwijaya, bagaimana Sriwijaya tetap kokoh berdiri walaupun berada di dua kekuatan besar India dan China. Kolonel Bakamla Salim menekankan bahwa Indonesia sangat berpotensi sebagai poros maritim dunia.

Sebagai penutup, Kolonel Bakamla Salim menyatakan beberapa poin-poin penting sebagai berikut :
1. Pentingnya mengerti jatidiri bangsa sebagai energi penggerak untuk mempercepat kejayaan Indonesia sebagai Bangsa Maritim.
2. Indonesia memiliki sumberdaya manusia dan sumberdaya alam yang kuat untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0, dan kita siap untuk menghadapi era baru ini dengan jiwa gotong royong dan perilaku yang baik.
3. Untuk menjaga kesinambungan pembangunan, perekonomian maritim harus dibangun dengan agresif, dan digerakkannya pemahaman budaya maritim dalam setiap aspek kehidupan berbangsa.
4. Poros Maritim Dunia adalah cetak biru upaya memperkuat DNA Indonesia sebagai bangsa maritim yang inovatif. Cita-cita ini akan bisa segera tercapai apabila kita mampu beradaptasi dengan Revolusi Industri 4.0
5. Revolusi Industri 4.0 sudah didepan mata dan kita tidak bisa menolak atau menghindarinya, wajib untuk mempersiapkan dan berbenah diri agar kita menjadi pemenang.
6. Indonesia adalah negara besar yang berada di tengah-tengah persaingan pengaruh dua negara adi daya dunia, tetap waspada dan meningkatkan ketahanan bangsa dan waspada terhadap kegiatan yang dilakukan negara lain di perairan kita yang  dapat mengganggu kedaulatan dalam era Revolusi Industri 4.0

Kolonel Bakamla Salim berfoto bersama panitia penyelenggara



Sumber: KMI PERHIMATEKMI

Mahasiswa KKN Undip Ajak Pemuda Pesaren Menyongsong Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia


Diskusi Bersama Pemuda Pesaren
PEMUDA MARITIM – Batang- “Poros Maritim Dunia 2045”. Merupakan inisiatif yang disusun oleh Bappenas bersama Kementerian Perhubungan,  Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan,Kementerian ESDM,Kementerian BUMN,Kementerian Kelautan dan Perikanan sejak 2011 untuk mewujudkan Indonesia sebagai kekuatan dunia yang berbasis kemaritiman. Insiatif ini kemudian akhirnya kembali disung oleh Presiden Joko Widodo di mana yang menitikberatkan pada pembangunan infrastruktur dan segala unsur yang berkait.

Untuk itu mahasiswa KKN Tim I 2018/2019 melalui program pengabdian kepada masyrakat mengajak Pemuda Pesaren untuk menyiapkan diri dan siap bersaing di tengah masyarakat. Melalui acara diskusi yang dihadiri sekitar 15 pemuda yang berkisar umur 17-24 tahun, tampak antusias dari pemuda untuk mengikuti forum diskusi ini.

Program diskusi ini merupakan salah satu program monodisplin dari mahasiswa Undip, yakni Timora P. Sinaga, dia yang juga sebagai pemateri pada diskusi ini mengingatkan kembali dan mengajak para pemuda untuk tidak berleha-leha di tengah persaingan ekonomi global dan kondisi perekonomian yang tidak menentu sekarang ini. Dalam diskusi,  pemateri memparkan landasan Indonesia sebagai poros maritim dunia, serta beberapa aspek pendukung dan potensi tol laut dan sistem serta stakeholder yang ada di dalamnya.

Dalam diskusi, Timora telah memaparkan aspek-aspek penting serta apa saja kontribusi yang bisa di upayakan pemuda sekarang. Di tengah sesi diskusi ada pertanyaan dari Firman Hendriyanto sebagai anak SMK yang masih belajar.Firman bersekolah di SMK N 1 Warungasem. Dalam pertanyaan dia ingin mengetahui apakah peran yang bisa dilakukan serta bisa diarahkan kemana. Untuk menanggapi pertanyaan tersebut , Timora sebagai pemateri memaparkan  beberapa institusi pendidikan, maupun pelatihan yang siap di dunia pekerjaan. “Ini ada beberapa Universitas serta Perguruan Tinggi pendikan yang membidangi maritim, serta ada sekolah pelayaran yang bisa kamu pertimbangkan sebagai setelah kamu lulus SMK” imbuh Timora menjawab pertanyaan dari Firman. Timora juga memberikan saran untuk mengikuti pelatihan 6 bulan untuk mengambil sertifikat berlayar jika Firman berminat menjadi ABK (anak buah kapal).


Acara yang berlangsung di Posko KKN Desa Pesaren ini, juga di tutup dengan minum kopi serta menyicipi beberapa gorengan. Dengan adanya kegiatan ini Agus sebagai pemuda yang juga para pembimbing pemuda ini merasa sangat tercerahkan dan semakin menambah wawasan pemuda disini. “Saya sangat berterimakasih kepada mas dan mbak KKN yang sudah mau berbagi ilmu kepada pemuda yang ada di tempat kita ini, harapannya makin menambah semangat kami ke depannya” imbuh mas Agus di akhir diskusi tersebut. “Semoga dengan ada nya diksusi ini, harapannya Pemuda di sini semakin giat untuk mempersiapkan diri dan mampu bersaing di dunia perkerjaan kelak, dan buat adik-adik yang masih bersekolah jangan merasa puas sampai di SMA/SMK saja, mungkin bisa keluar dari zona nyaman dan mau bersekolah ke jenjang lebih tinggi” pesan sekaligus penutup dari Timora yang juga selaku Koordinator KKN Desa Pesaren.


Sumber: Timora Parulian Sinaga (Koordinator Desa Pesaren, Mahasiswa Teknik Perkapalan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro)