Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

Kembali Digelar, Obrolan Bahari Angkat Tema Membangun Indonesia dari Pesisir


PEMUDA MARITIM – Semarang (11/12) DPD KNTI Kota Semarang kembali akan mengelar kegiatan Talk Show  Obrolan Bahari dengan tema “Membangun Indonesia dari Pesisir” dengan narasumber seorang pakar antropologi maritime, Dedi S Adhuri. Humas KNTI Semarang, Hendra Wiguna mengungkapkan pemilihan tema guna menggugah semangat serta mendorong arah baru pembangun bangsa dan Negara.

“Setelah tema wirausaha untuk pemuda dan peranan wanita, selanjutnya kita pilih tema Membangun Indonesia dari Pesisir. Kita harus mendorong kesadaran bahwa pembangunan bangsa dan Negara ini harus mulai dari pesisir.” Terang Hendra

Selama ini kegiatan Obrolan Bahari berhasil memikat berbagai kalangan untuk hadir, namun yang terbesar adalah dari kalangan pemuda. 

Lanjut Hendra, Kegiatan ini memang diharapkan dapat dijadikan sebagai kelas pembelajaran serta pendorong pemuda yang ada di kota semarang dan sekitarnya untuk peduli terhadap masyrakat pesisir.

Senada dengan Hendra, Staf Bidang pengembangan KNTI Kota Semarang, Erdina Astrid mengatakan pemuda adalah penggerak perubahan, karena pemuda umumnya mau menyalurkan apa yang mereka punya, terutama ilmunya  tanpa ada embel-embel meminta imbalan.

“Pemuda cenderung memiliki banyak ide dan lebih inovatif. Indonesia juga sebentar lagi akan mendapatkan bonus demografi, dimana jumlah pemudanya lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk usia tua. Kalau banyak pemuda yang mau berpartisipasi dalam pembangunan, kemajuan Indonesia bisa menyamai Thailand dan Malaysia. Itu lah kenapa pemuda harus harus ikut andil dalam pembangunan.” Terang Erdina

Lanjut Erdina, Wilayah laut Indonesia itu besar, tapi kesejahteraan masyarakat pesisir yang umumnya berprofesi sebagai nelayan cenderung memprihatinkan. Banyak yang masih hidup dibawah garis kemiskinan dan bahkan di masa paceklik terjerat hutang.

“Menurut saya apabila potensi pesisir, bukan hanya potensi SDA-nya tapi juga SDM dan teknologi perikananya juga dikembangkan secara maksimal, negara kita bisa menjadi eksportir ikan dan negara pengonsumsi ikan yang bisa menyamai Thailand (di Asia Tenggara) ataupun Jepang di beberapa tahun mendatang dan masyarakat pesisir bisa lebih sejahtera dalam hal ekonominya.” Tegas Erdina yang merupakan mahasiswa UNDIP

Lanjut Erdina, Saya berkeyakinan bahwa apabila  masyarakat Indonesia terutama generasi mudanya mau menyumbangkan ilmunya untuk lingkungannya, maka Indonesia bisa menjadi negara yang maju. Oleh karena itu, menurut saya, yang harus dilakukan pemuda untuk masyarakat pesisir adalah menyalurkan ilmu yang sudah di dapat di bangku sekolah atau kuliah dengan masyarakat disana. Bisa melalui pendidikan, pendampingan dan konseling bisnis kreatif, penyuluhan mengenai hal-hal terkait perikanan dan lain-lain.

“Saya yakin apabila banyak pemuda yang tergerak untuk turun ke komunitas sekitar, Indonesia bisa lebih baik lagi kedepannya dan kemiskinan pun bisa menurun.” Jelas Erdina
(AR)

Dhini Sastroatmodjo, Jadilah Perempuan Yang Ber- Kontributif, Partisipatif dan Aspiratif

Dhini Sastroatmodjo

PEMUDA MARITIM – DPD KNTI Kota Semarang kembali menggelar kegiatan talkshow “Obrolan Bahari”, kali ini dengan tema Peranan Perempuan dalam Pembangunan Bangsa. Dhini Sastroatmodjo yang dikenal sebagai aktivis perempuan dalam bidang maritim menjadi narasumbernya dalam kegiatan rutinan ini (7/12).

Dalam pemaparannya Dhini menyampaikan bahwa, banyak sekali peranan yang dapat diambil oleh perempuan, adapun untuk masyarakat pesisir adalah menjadikan mereka lebih peduli lagi terhadap pendidikan dan kesehatan.

“Kita bisa melakukan pemberdayaan kepada masyarakat pesisir, terutama memberikan perhatian dibidang pendidikan. Fasilitas pendidikan dipelesok-pelosok masih minim, perlu kita bantu”. Ujar Dhini

Dhini bersama komunitas yang dibangunnya bersama lima kawanya yakni Damar Nusantara, melakukan perjalanan kepelosok-pelosok negeri terutama di Indonesia timur. Disana ia melihat bahwa akses pendidikan masih kurang, baik sarana pra sarana ataupun jarak yang cukup jauh.

“SD di pulau ini, SMP dipalau sana, dan SMA dikota sana, akses anak-anak nelayan cukup jauh untuk bersekolah.” Terang Dhini yang menceritakan perjalananya selama di Raja Empat

Lanjut Dhini, ada 3 point yang secara garis besar bisa dilakukan oleh perempuan dalam upaya berperan bagi pembangunan bangsa yakni, kontributif, partisipatif dan aspiratif.

“Peran kontributif sebagai perempauan adalah dapat bermanfaat terhadap sesama, peran partisipatif perempauan adalah dapat memaksimalkan diri untuk melakukan kegaiatan positif seperti ikut memastikan keberjalanan kebijakan publik agar tepat sasaran. Sedang peranan aspiratif adalah ikut serta dalam memperjuangkan permasalahan yang ada, seperti ikut dalam menyuarakan perdamian dunia” jelas Dhini yang sangat terinspirasi oleh Meghan Maskle

Sambung Dhini, dalam memulai kegiatan pengabdian atau sosial tidak melulu bicara soal materi, namun lebih mengedepankan niat. Komitmen, visi misi sangat penting ketika kita memulai untuk mengabdikan diri.

“Bagi saya kegiatan sosial adalah bagian dari hidup, penyeimbang hidup dari rutinitas pekerjaan sehari-hari.” Terang Dhini yang kesehariannya bekerja sebagai Staff DPR RI

Kegiatan yang bertempat di ruang studio mini Pusat Informasi Publik (PIP) Kota Semarang ini dihadiri oleh 95% perempuan dari berbagai kalangan.

Fani salah satu peserta yang merupakan seorang mahasiswa mengungkapkan bahwa, materi yang disampaikan luar biasa, bisa membuka mindset dan memacu semangat untuk bisa terus berbuat baik untuk orang banyak.

“Semoga wanita-wanita hebat diluar sana bisa menjadi pelepor masa kini dan masa depan, untuk diri sendiri, anak, nusa dan bangsa” pesan fani yang merupakan mahasiswa fakultas hukum UNDIP
(RA)

Obrolan Bahari, Ajak Perempuan Bangun Indonesia Dengan Semangat Kebaharian


PEMUDA MARITIM – DPD KNTI Kota Semarang kembali akan menggelar Talkshow “Obrolan Bahari”, kali ini dengan tema Peran Perempuan dalam Pembangunan Bangsa. Narasumber yang didatangkan tentunya merupakan pemuda inspiratif seperti halnya narasumber sebelumnya, penuturan Humas DPD KNTI Kota Semarang, Hendra Wiguna.

“Obrolan Bahari dirasa ada manfaatnya, jadi kenapa tidak kita istiqomahkan. Ya, Minimal 1 bulan sekali, kita hadirkan pemuda inspiratif seperti biasanya agar menstimulus kaum muda lainnya untuk peduli terhadap masyarakat pesisir serta mampu mengoptimalkan kekayaan Laut Indonesia”. Terang Hendra

Lanjut Hendra, peserta Obrolan Bahari memang dibatasi, sedikit tidak mengapa. Karna tujuan kita memang mencari dampaknya bukan banyak-banyakan peserta. Biasanya kalau ikan banyak harganya turun, belajar dari situ maka kegiatan ini lebih kepada pembangunan kulitas tidak kuantitas.

Prihal tema yang dipilih, Sekretaris DPD KNTI Kota Semarang, Eka Heryani menuturkan bahwa perempuan juga bisa berperan dalam bidang maritim.

“Antara laki-laki dan perempuan dalam bidang kemaritiaman dan kebaharian memiliki peran yang sama. Memang sebagian besar itu masih lelaki, namun ditidak memungkiri juga kalau perempuan itu berperan aktif dalam bidang maritim.” Jelas Eka

Sambung Eka, perempuan bisa berperan dalam bidang manajemen, olahan hasil perikanan, pokonya perempuan harus lebih peka dan peduli terhadap masa depan kebaharian Indonesia. Makanya, kita dorong lewat kegiatan Obrolan Bahari ini.

Kegiatan “Obrolan Bahari” ini nantinya akan digelar di Pusat Informasi Publik (PIP) Kota Semarang, dengan narasumber Dhini Sastroatmodjo yakni sekretaris Koordinator Bidang Geopolitik Hukum & Keamanan Maritim PP APMI dan pendiri Komunitas Damar Nusantara.

“Semoga kegiatan Obrolan Bahari di bulan desember ini, dapat memompa semangat Hari Nusantara yang akan hadir pada tanggal 13 desember serta Hari Ibu pada tanggal 22 desember. Monggo yang ada di semarang dan sekitarnya bisa hadir dalam kegiatan.” Tutup Hendra


Sikilas KNTI
KNTI merupakan organisasi nelayan tradisional yang begerek memperjuangkan semua hal yang terkait dengan hajat hidup dan kepentingan masa depan nelayan, pembudidaya ikan, dan garam tradisional. KNTI telah berdiri dari diberbagai daerah mulai dari tingkat provinsi sampai ketingkat kabupaten/kota.
(RA)

Obrolan Bahari, Optimalkan Potensi Laut Indonesia Sejahterakan Masyarakat Pesisir

PEMUDA MARITIM –  Semarang (30/11) DPD KNTI Kota Semarang menggelar kegiatan bertajuk Obrolan Bahari dengan tema “Yang Muda Yang Berwirausaha” dengan narasumber seorang pengusaha muda FR. Aziz. Ketua KNTI Semarang, Slamet Ary Nugroho dalam sambutan menyampaikan bahwa salah satu program pengabdian KNTI adalah dalam bidang ekonomi yakni mensejahterakan masyarakat pesisir terutama nelayan.

“Lewat kegiatan Obrolan Bahari diharapkan, ada pemuda yang hadir ditengah-tengah masyarakat pesisir dan mendorong kesehjahteraan mereka lewat wirasuaha bidang perikanan dan kelauatan.”
Senada yang sama disampaikan oleh Aziz, bahwa 2/3 wilayah Indonesia adalah laut, potensinya sangat besar. Lebih dari 6 juta ton ikan/tahun yang dapat dihasilkan dari laut Indonesia, potensi ini cukup untuk mensejahterakan Indonesia.

Sambung Ari, bahwa nelayan Indonesia belum sepenuhnya bias meng-eksplor seluruh Laut Indonesia.

Lanjut Aziz, Jika potensi perikanan kelautan Indonesia dioptimalkan, kita bisa membayar hutang Indonesia. Namun karena masih ada kekurangan di manajemen dan adanya kendala lainnya, sehingga potensi ini belum bisa dimaksimalkan.

Saat ini Aziz telah mendirikan PT. Asap Cair Multiguna (ACM) yang memproduksi asap cair dan produk lainnya. Terkhusus produk Asap Cair, kini telah memiliki cabang di medan, riau, aceh dan jatim dalam waktu dekat akan membuka cabang Jakarta.

Asap Cair sendiri sudah lama ditemukan di Indonesia, kurang lebih 15 tahunan. Bahkan beberapa lestoran bintang 4 sudah banyak yang menggunakannya.

“Asap cair bukan hal yang baru, namun selama  ini belum dikemas secara serius. Karnanya, saya bersama tim berusaha mengemasnya agar bisa menjadi produk yang mempunyai nilai beli yang baik”. Terang Aziz yang merupakan mahasiswa magister Ekonomi Undip

Lanjut Aziz, anak muda atau calon wirausaha jangan fokus ke modal saja, coba cari peluang dengan ikut program-program pemerintah atau lainnya seperti mencari investor lewat infishta dan lainnya.

“Niat merupakan nomer satu dalam berwirausaha, dan tentunya harus dijalankan. Jangan sampai hanya ide dipikiran saja. Jalinlah kemintraan untuk meminimalisir modal dan tentunya memperluas jaringan pemasaran”. Jelas Aziz
(HW)







Obrolan Bahari, Ajak Pemuda Berwirausaha Optimalkan Kekayaan Kelauatan Perikanan Indonesia

PEMUDA MARITIM – Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kota Semarang akan menggelar kegiatan “Obrolan Bahari” bertempat di Pusat Informasi Publik (PIP) Kota Semarang. Kegiatan ini merupakan kegiatan perdana dan kedepan akan dirutinkan, menurut penuturan HUMAS KNTI Semarang, Hendra Wiguna. Semarang (30/11)

“Obrolan Bahari adalah agenda KNTI Semarang yang diharapakan menjadi sarana pemersatu polapikir sebagai bangsa bahari, dan alhamdulillahnya antusias dari peserta luar biasa. Tidak ada salahnya jika kegiatan ini nantinya akan dirutinkan.” Terang Hendra

Lanjut Hendra, Obrolan Bahari perdana ini akan mendatangkan seorang pengusaha muda yang bergelut dalam bidang inovasi perikanan tepatnya Asap Cair. Inovasi ini sangat bermanfaat bagi masyarakat pesisir.

“Mas Aziz bersama timnya, mampu mengimplementasikan ilmu disiplinya kemudian tidak berhenti disitu inovasi ini mampu menjadi startup, tentu ini merupakan sebuah prestasi dan menjadi inspirasi bagi pemuda lainnya.” Jelas Hendra

Saat ini Asap Cair tersebut telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia, dalam naungan PT. ACM (Asap Cair Multiguna).

"Semoga melalui kegiatan ini, akan banyak hadir pengusaha muda terkhusus yang berwirausaha dalam bidang perikanan kelautan. Kita optimalkan kekayaan Indonesia ini." harap Hendra


Sikilas KNTI
KNTI merupakan organisasi nelayan tradisional yang begerek memperjuangkan semua hal yang terkait dengan hajat hidup dan kepentingan masa depan nelayan, pembudidaya ikan, dan garam tradisional. KNTI telah berdiri dari diberbagai daerah mulai dari tingkat provinsi sampai ketingkat kabupaten/kota.
(RA)




Open Recruitment APMI Sulsel


PEMUDA MARITIM –  Halo sahabat maritim, khususnya yang berada di Sulawesi Selatan.
Kabar baik untuk teman-teman yang berusia 17-23tahun dan ingin berkontribusi untuk dan tertarik dalam pengabdian kepada masyarakat, khususnya di wilayah pesisir.
Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia Komisariat Sulawesi Selatan membuka pendaftaran anggota baru yang dilaksanakan pada 26 November - 7 Desember 2018.
Mari bersama kita wujudkan cita-cita bangsa untuk Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

Teman-teman dapat mengakses link berikut untuk melakukan pendaftaran
http://bit.ly/OprecAPMISULSEL

Ikuti trus perkembangan oprec ini dengan follow ig @apmisulsel..

Semangat pemuda, semangat maritim Indonesia.

#apmisulsel
#oprecapmisulsel2018 

Ketua Umum KNTI, Riza Damanik; Empat Tahun Maritim


SUDAH semaritim apakah Indonesia? Pertanyaan ini tepat diulang dalam setiap momentum reflektif kebangsaan, termasuk empat tahun Kabinet Indonesia Kerja.

Hasjim Djalal, diplomat senior yang juga pakar hukum laut internasional, mendefinisikan maritim berbeda dengan kelautan, berbeda pula dengan kepulauan. Maritim terkait langsung kemampuan sebuah negara dalam memanfaatkan laut, termasuk sumber daya alam dan ruangnya—sekalipun negara tersebut tidak memiliki kecukupan laut, seperti Singapura dan Belanda.

Sejalan dengan Djalal, Daniel Mohammad Rosyid—guru besar dari Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya—merinci salah satu ciri negara maritim adalah peran angkutan laut yang menjadi tulang punggung sistem logistik nasional. Rasio gini yang rendah menjadi salah satu indikator kuncinya.

Di negara kepulauan-tropis yang besar, seperti Indonesia, penyelenggaraan transportasi laut dan pemerataan ekonomi sewajarnya memiliki hubungan sebab-akibat (kausalitas). Tanpa konektivitas laut yang memadai mustahil warga di pulau-pulau kecil, di perbatasan, dan di timur Indonesia mendapatkan layanan: sama banyak dan sama rasa.

Laporan empat tahun pemerintahan Joko Widodo–Jusuf Kalla yang diluncurkan pertama kali melalui portal http://presidenri.go.id pada 20 Oktober lalu memperlihatkan adanya perbaikan infrastruktur konektivitas laut pada kurun empat tahun terakhir. Trayek kapal perintis terus bertambah, dari 84 trayek pada 2015 naik menjadi 113 trayek pada 2018. Tol laut yang dimaksudkan untuk memangkas biaya transportasi ke kawasan timur Indonesia juga bertambah. Jika sebelumnya hanya 3 trayek, sekarang menjadi 18 trayek.

Kapal khusus pengangkut ternak juga tersedia enam trayek tahun ini. Sarana dan prasarana pelabuhan komersial dan non- komersial di 19 lokasi juga terus dikembangkan guna mendukung peningkatan layanan transportasi laut nasional. Tentu, sederet pembangunan infrastruktur maritim tersebut belumlah cukup untuk mengatasi (berpuluh-puluh tahun) ketertinggalan Indonesia dalam memanfaatkan laut. Namun, kita patut bersyukur ada kemajuan di sana-sini.

Pertama, telah meningkatnya kapasitas pengangkutan barang melalui laut. Kapasitas kargo yang pada 2014 hanya 16,7 juta TEUs per tahun telah membesar menjadi 19,7 juta TEUs per tahun pada 2017. Berbagai program pemerintah tidak terbatas pada dana desa, program keluarga harapan, BBM satu harga, bank mikro nelayan, tol laut telah mempersempit jurang ketimpangan pendapatan di Kepulauan Indonesia. Badan Pusat Statistik melaporkan, per Maret 2018 angka rata-rata rasio gini nasional sudah berada pada 0,389 atau turun 0,025 dari posisi pada 2014.

Kerja selanjutnya

Presiden Joko Widodo telah menyiapkan fondasi kokoh untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Kerja besar selanjutnya menggunakan fondasi regulasi, infrastruktur, dan ketersediaan sumber daya laut untuk dimanfaatkan sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Masyarakat di pulau-pulau kecil, perbatasan, dan timur Indonesia harus semakin merasakan manfaat sosial-ekonomi dari bertambahnya infrastruktur konektivitas laut. Mobilisasi barang tak boleh berkutat hanya dari pulau besar ke kecil atau dari barat ke timur. Interaksi antarpulau harus saling menguntungkan dan memuliakan. Karena itu, kita perlu lebih memperkuat (lagi) strategi industrialisasi perikanan nasional ke depannya.

Secara lebih operasional, untuk mengimbangi derasnya arus barang dari barat, masyarakat di timur Indonesia dapat mengoptimalkan sumber daya laut yang kian melimpah. Kementerian Kelautan dan Perikanan telah mengeluarkan data terbaru yang menunjukkan potensi ikan nasional telah terkoreksi dari sebelumnya hanya sekitar 7 juta ton dan sekarang tercatat lebih dari 12,5 juta ton (Kepmen KP No 50/2017).

Kapal ikan Indonesia tak boleh lagi sekadar "jago kandang". Pergilah sampai ke zona ekonomi eksklusif Indonesia atau bahkan ke perairan laut internasional untuk memaksimalkan keanggotaan Indonesia di Otoritas Pengelolaan Perikanan Regional (RFMO). Paradigma lawas yang menempatkan kapal kecil selalu lemah dan kapal besar selalu jahat haruslah diubah. Peran nelayan kecil amat penting.

Karena itu, harus dilindungi akses nelayan kecil mendapatkan modal dan pasar. Termasuk dengan memudahkan kapal-kapal besar mendapatkan izin menangkap ikan lebih jauh sehingga tangkapan ikannya lebih banyak dan aktivitas kapal besar tidak mengganggu teritori nelayan kecil dan tradisional. Ibarat lari maraton sejauh 42,195 km—di empat tahun Kabinet Indonesia Kerja—proses menjadi negara maritim telah melewati seperempat perjalanan. Meski kerja ke depan tidak selalu mudah, tugas mulia ini harus dituntaskan.


Penulis:
M. Riza Damanik
Ketua Umum KNTI; Alumnus Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro, Semarang
(OPINI Harian Kompas, 2 November 2018)