Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

Kolonel Salim ; Indonesia Menuju Negara Maritim Di Antara Dua Negara Adidaya

Kolonel Laut (P) Salim

PEMUDA MARITIM – Indonesia kini tengah menuju negara maritim yang besar di tengah dua pengaruh negara adidaya, Amerika Serikat dan China. Harapan itu semakin membesar ketika melihat sejarah maritim Nusantara, di mana Kerajaan Sriwijaya bisa tampil menjadi peradaban besar di tengah hegemoni peradaban India dan China kala itu.

Demikian disampaikan oleh Dansatrol Lantamal III Kolonel Laut (P) Salim dalam Seminar Nasional bertajuk “Peran Pelajar dalam Menggali Potensi Maritim dan Pelestarian Lingkungan di Pelabuhanratu” pada rangkaian acara Sukabumi Education Fair 2019 di GOR Pelabuhanratu, Sukabumi, (12/1/19).

“Kita saat ini seperti Kerajaan Sriwijaya, yang menguasai jalur perdagangan di antara Selat Sunda dan Selat Malaka di tengah kekuatan India dan China,” ujar Salim.

Lulusan AAL tahun 1995 itu menyatakan hal tersebut juga bisa dilakukan Indonesia saat ini di tengah hegemoni China dan AS saat ini. Terutama dalam membangun aspek kemaritimannya. Karena hanya lewat maritim, negara ini bisa besar.

“Sriwijaya dulu seperti itu, dengan visi maritimnya akhirnya bisa menguasai kawasan. Sekarang kita bagaimana?” tegasnya.

Walaupun visi pemerintah saat ini ingin menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia namun ada beberapa hal tahapan yang masih kurang. Di antaranya, Indonesia saat ini belum memiliki doktrin dan strategi maritim yang mumpuni.

“Lihat kejadian tsunami di anak gunung Krakatau, apa yang terjadi? Alatnya rusak,” ujarnya.
Di antara dua kekuatan besar itu menjadi tantangan Indonesia saat ini. Negara ini bisa besar atau sebaliknya, hancur di tengah gelombang globalisasi  tersebut.

“Kita tidak ingin Indonesia belum smpai 100 tahun usianya sudah hancur. Makanya itu harus dibangun maritimnya. Sanggup untuk kembalikan kejayaan maritim indonesia?” tanya Salim kepada para peserta seminar yang berasal dari pelajar dan mahasiswa se-Kabupaten Sukabumi.
(AN)

Menyongsong Generasi Emas Maritim 2045 Dari Pelabuhanratu


"Cita-cita Indonesia Emas tahun 2045 yang bervisikan maritim harus dibangun dengan mempersiapkan generasi sejak sekarang."

Hal itu disampaikan oleh Dansatrol Lantamal III Jakarta Kolonel Laut (P) Salim dalam Seminar Nasional bertajuk “Peran Pelajar dalam Menggali Potensi Maritim dan Pelestarian Lingkungan di Pelabuhanratu” pada rangkaian acara Sukabumi Education Fair 2019 di GOR Pelabuhanratu, Sukabumi, (12/1/19).

“Sekarang kita sudah makmur dari maritim apa belum? Itu tugas-tugas anda sebagai generasi emas di tahun 2045. Untuj menuju negara maju kita harus menguasai dan bervisi maritim. Kita tidak ada waktu lagi untuk leha-leha,” ujar Salim. Penulis buku Kodrat Maritim Nusantara ini berbicara di hadapan ratusan pelajar dan mahasiswa-mahasiswi se-Kabupaten Sukabumi.

Lulusan AAL tahun 1995 ini menekankan benar-benar agar generasi mendatang menyiapkan diri untuk membangun maritim Indonesia.

“Budaya maritim kita harus dibangun di atas 5 keunggulan maritim kita di antaranya letak geografis dan kekayaan sumber daya kelautan,” ungkapnya.

Ia mencontohkan keunggulan itu potensi yang dimiliki oleh Pelabuhanratu yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia.

“Kita nggak tahu di sebelah selatan Penlabuhanratu ini mengandung sumber daya alam apa saja? Yang pasti negara lain sudah berkeinginan untuk menguasai lautan sebelah selatan kita,” tegasnya.

Di lain sisi, negara kita saat ini belum memiliki doktrin maritim, strategi maritim, dan strategi keamanan maritim nasional yang memadai. Maka dari itu generasi saat ini harus berfikir keras supaya hal itu bisa terbangun.

“Dari sekarang anda harus berfikir dari sekarang untuk menyusun negara maritim. Jadi kita tidak hanya menjiplak konsep maritim dari luar,” tegasnya lagi.

Sebagai Perwira Menengah TNI AL, Salim sudah mengunjungi hampir 70 negara. Hampir seluruhnya, negara-negara itu sudah membangun maritimnya dari puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu.

“Saya sudah mengunjungi 70 negara, banyak di antaranya sudah membangun maritimnya. China membangun maritim dari 70 tahun lalu. Inggris sudah dari tahun 1600-an. Alfred Thayer Mahan sudah memikirkan bagaimana Amerika menjadi negara maritim yang maju,” pungkasnya.
(AN)

Dorong KPU Masukan Isu Maritim Pada Tema Debat Capres, KNTI Ajak Publik Tanda Tangani Petisi

Doc. https://www.change.org

PEMUDA MARITIM – Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) melalui siaran pers-nya, mendorong Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara Pemilu 2019 harus memasukan isu kemaritiman dalam tema debat. KNTI mengingat bahwa posisi laut dan berbagai sumber daya yang terkandungnya secara ekonomi, sosial, budaya dan politik serta pertahanan dan keamanan adalah masa depan bangsa. Selama 73 tahun Indonesia berdiri, kita bersepakat bahwa kita adalah bangsa kepulauan dengan dikelilingi lautan sebagai penghubung. Debat Capres sebagai ajang penyampaian gagasan, visi, misi dan program kerja capres kedepannya jika terpilih nanti, merupakan ajang penilaian publik bagaimana pola pikir kandidat pemimpin negara tersebut. Dalam Debat Capres kita dapat menilai kemana kelak orientasi pembangunan pada masa pemerintahnya. (Jakarta, 10/1)


Sejarah telah membuktikan kepada kita bahwa Kebesaran, Kejayaan, Kesentausaan dan Kemakmuran negara kita hanya dapat dicapai apabila kita menguasai lautan".
Ir. Soekarno, 6 oktober 1966 diatas geladak RI Tjandrasa


KNTI mencatat dalam empat tahun terakhir, Pemerintah Indonesia yang dipimpin oleh Presiden Jokowi sebagai Capres nomor urut 01 mengusung visi utama Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Alangkah baiknya, jika debat capres ini menjadi sarana pasangan Capres petahana memaparkan capaian kinerja masa pemerintahannya  serta mengenalkan program lanjutannya dalam bidang kemaritiman. Kemudian, dari pasangan Prabowo Subianto sebagai Capres nomor urut 02 dapat menjadikan debat capres ini sebagai evaluasi kinerja petahana sekaligus mengenalkan visi, misi dan program kemaritiman yang harusnya dapat lebih baik. Sehingga perdebatan besar gagasan kemaritiman Indonesia dapat membuahkan arah gerak besar negara kelautan dan kepulauan Republik Indonesia yang lebih baik.

KNTI Menilai bahwa isu kemaritiman termasuk didalamnya antara lain, perikanan, kelautan, kepulauan, perhubungan laut, bahkan termasuk geopolitik regional dan internasional. Di sisi lain, sebagaimana kita ketahui bersama, Indonesia adalah pemilik dari negara dengan garis pantai terpanjang, jumlah pulau terbanyak serta laut yang luas dibandingkan daratan. Oleh karena itu, pola pembangunan sudah sepatutnya yang berorietasi kepada kemaritiman sebagai pijakan pembangunan yang sesuai dengan karakteristik bangsa Indonesia. Jangan sampai beda pemimpin beda pijakan pembangunanya, karna hal ini dapat memperlambat Indonesia untuk maju. Adapun cara pencapainnya boleh berbeda, sesuai dengan gaya kepemimpinan masing-masing.

Masih ada waktu KPU untuk memutuskan dan memasukan tema kemaritiman sebagai agenda tersendiri dalam debat capres, agar debat capres ini sesuai dengan kepribadian bangsa yang memiliki sejarah panjang kejayaan maritim. Dimana pemimpinya kala itu memiliki orientasi pembangunan pada sektor kemaritiman, sehingga dalam masa kepemimpinannya pola pembangunan tidak kalang kabut. Karena memiliki pijakan yang sesuai dengan karakteristik bangsa dan negaranya.

KNTI yang dimotori oleh pengurus DPD KNTI Kota Semarang menggalang dukungan untuk petisi meminta KPU menjadikan isu kemaritiman sebagai debat tersendiri. Petisi yang digalang oleh KNTI tersebut dapat dibuka dan diisi pada laman berikut: https://bit.ly/2ssXxmB.



Sumber: Humas KNTI
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi:
Iing Rohimin, Sekretaris Jendral DPP KNTI, +62812 1478 7405
Slamet Ari Nugroho, DPD KNTI Kota Semarang, +62823 2666 5413
Marthin Hadiwinata, Ketua Harian DPP KNTI, +62812 8603 0453

Lautku Harapanku (Kolonel Laut Salim)

Kolonel Laut (P) Salim
"Sejarah telah membuktikan kepada kita bahwa Kebesaran, Kejayaan, Kesentausaan dan Kemakmuran negara kita hanya dapat dicapai apabila kita menguasai lautan". (Ir. Soekarno, 6 oktober 1966 diatas geladak RI Tjandrasa).

Tidak dengan darah dan air mata, tidak pula dengan desingan peluru maupun tumpahan bom harapan dan masa depan harus diperjuangkan, perjuangan para diplomat dan para ahli hukum laut kita, akhirnya membuahkan hasil. Pada Konperensi Hukum Laut International Ketiga, di Jamaica, tahun 1982, atau United Nantions Convention on Law of The Seas (UNCLOS), Konsep Indonesia sebagai Negara Kepulauan akhirnya diakui Dunia.

Setelah luas wilayah perairan Indonesia ditetapkan dan diakui Dunia dalam UNCLOS 1982, maka kini tiba waktunya saat ini dan masa depan kita untuk memanfaatkan sebesar-besarnya potensi sumberdaya kelautan kita secara lestari bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia.

Kenapa dilautan tersimpan harapan yang besar? diantaranya adalah karena di dalam air terhimpun sumberdaya hayati, utamanya ikan, namun juga terumbu karang, mangrove dan padang lamun. Keanekaragaman hayati laut Indonesia memang luar biasa. Jenis ikan di perairan Indonesia mencapai 8.500 jenis, terbanyak di Dunia, dengan kapasitas tangkap maksimum secara lestari sekitar 7 juta ton/tahun, namun volume dari masing masing jenis ikan adalah minimal sehingga proses pengolahan ikan menjadi penting agar tidak ada ikan tangkapan non-target yang terbuang. Dalam hal ini, sistem rantai dingin, teknologi pengolahan ikan dan cold storage menjadi penting.

Laut juga menjadi harapan masa depan ketika potensi sumberdaya non-hayati perairan Nusantara mencakup posisi strategis kepulauan Indonesia yang berada diantara dua samudera besar, Pasifik dan Samudera Hindia. Teori “Conveyor Belt” memperlihatkan bahwa arus laut bergerak dari Samudera Pasifik menuju Samudera Hindia melewati selat-selat Nusantara, utamanya melalui Selat Makassar - Selat Lombok dan masuk ke Samudera Hindia. Namun, sebagian dari arus laut bergerak kearah Laut Banda dan keluar menuju Samudera Hindia melewati Selat Wetar. Pola arus lintas Indonesia (ARLINDO), atau"The Indonesian Throughflow” menjadi perhatian ahli-ahli oseanografi dan hidrografi Dunia, mengingat pola arus dan deviasinya, sekaligus dikorelasikan dengan "The lndian Ocean Dipole (IOD)", menjadi indikasi kehadiran variabilitas iklim seperti EI Nino dan La Nina.

Ahli-ahli geologi kita memprakirakan cadangan migas Indonesia masih 222 milyar barrel dan sebagian besar dijumpai di batuan Pra-Tersier di lautan kawasan Timur Indonesia. Berbagai teknologi baru untuk eksplorasi dan menemukan migas di dasar laut harus kita kuasai, utamanya teknologi perekaman, pengolahan dan interpretasi data seismik multi-kanal tiga-dimensi.

Oleh karena itu harapan terbesar bangsa ini ketika sumber daya kemaritiman yang luar biasa diatas dapat digunakan untuk membangun Kemaritiman Indonesia secara keseluruhan baik dimasa kini maupun untuk masa yang akan datang, yang digunakan untuk kesejahteraan bersama bangsa dan rakyat Indonesia.

Jip Layar telah kita kembangkan, dan talipun telah kita kencangkan.  Tiada alternative dan pilihan lain selain maju kedepan sesuai dengan haluan bangsa guna menghadapi semua tantangan.

Insha Allah Atas rahmmat Tuhan Yang Maha Kuasa, kita akan berhasil

Koperasi Berdayakan Nelayan


PEMUDA MARITIM –  Gotong royong selain mengandung nilai kebersamaan, juga mengandung arti kesadaran untuk mencapai suatu tujuan. Lebih dari itu, gotong royong menjadi bagian dasar filsafat Indonesia, seperti yang dikemukakan oleh M. Nasroen.

Sifat gotong royong merupakan jatidiri bangsa Indonesia, sampai sekarang masih melekat terutama dalam keseharian masyarakat pesisir. Misalnya, saat ada hajatan, bangun rumah, atau pada saat ada kendala disalah satu kapal milik nelayan lainnya. Keistimewahan dari gotong royong adalah sangat baik diterapkan dalam setiap sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Harapannya, nilai gotong royong yang merupakan kekayaan bangsa Indonesia ini dapat menjawab permasalahan yang ada dimasyarakat pesisir terutama nelayan. Salah satunya dengan membangun sebuah usaha bersama atau koperasi yang didalamnya ada nilai-nilai gotong royong.

Perlu kita ketehui bahwa penguatan ekonomi nelayan, melalui koperasi, adalah mandat Undang-Undang No.7/2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam. Keberadaan Koperasi sangat penting guna memperkuat sektor ekonomi nelayan, maka dari itu koperasi harus ada disetiap kampung-kampung nelayan.

Mengingat penghasilan nelayan yang tidak menentu serta sebagian besar profesi nelayan adalah profesi utama dan tunggal. Sehingga ketika cuaca tidak mendukung untuk meluat, nelayan hanya berdiam diri sedangkan kebutuhan tetap ada.

Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) di beberapa tingkat kepengurusan daerah sendiri sudah memiliki koperasi, seperti di Surabaya, Bintan, Medan, Tanjungbalai, dan Pulau Pari sedang untuk KNTI Semarang dalam proses pembentukan. Keberadaan koperasi sangat membantu nelayan terutama menunjuang ketersediaan kebutuhan nelayan sehari-hari.

Bahkan diantaranya sudah ada yang mengembangkan diri kearah usaha pengolahan hasil perikanan, parawisata dan tabungan pendidikan, sehingga anggota koperasipun semakin bertambah.

Jika melihat program kerja pemerintah saat ini, banyak sekali yang diberikan untuk koperasi nelayan seperti; bantuan kapal, alat tangkap, serta bantuan modal. Selain itu, ada beberapa pemerintah daerah juga yang memberikan perhatian lebih kepada koperasi nelayan. Karenanya, semangat koperasi ini yang juga di gelorakan oleh Bung Hatta menjadi semangat bersama untuk maju bersama.

Pemerintah daerah terutama yang memiliki kekayaan sumber daya nelayan, harapanya dapat membentuk koperasi-koperasi nelayan agar nelayan dapat berdaya. Tentunya sebelum pendirian koperasi perlu dipupuk semangat gotong royongnya, agar koperasi menjadi milik bersama.

Hendra Wiguna
Humas KNTI Semarang

BUDAYA MARITIM SEBAGAI SUMBER KEKUATAN BANGSA

Kolonel Laut (P) Salim


"Secara politik, masyarakat maritim mempercayakan kepemimpinan pada orang-orang yang benar-benar kompeten dan memiliki kepedulian kepada survival dan kesejahteraan mereka. Bukan kepada orang-orang yang hanya pintar bersolek menjadi pesohor atau memiliki tumpukan kapital"

Kata maritim akan merujuk pada suatu aktivitas yang dilakukan di laut, seperti pelayaran yang tujuannya entah untuk berdagang atau mencari ikan. Melalui masing-masing arti kata dari kata penyusun “budaya maritim, kita bisa mendapatkan makna sebenarnya dari “budaya maritim” ini. Budaya merupakan keseluruhan gagasan manusia yang mampu menghasilkan berbagai tindakan dan hasil karya. Bila kata “budaya” disandingkan dengan kata “maritim”, menurut hemat saya kata “maritim” menjadi penanda atas sebuah tempat yang letaknya dekat dengan laut atau lebih sering kita kenal dengan pesisir. 

Budaya merupakan milik kolektif karena budaya menjadi sebuah nilai yang disepakat dan dijalani secara bersama-sama oleh sekelompok orang. Maka “budaya maritim” dapat kita pahami sebagai keseluruhan gagasan yang mampu menghasilkan tindakan dan perilaku yang menjadi milik suatu kolektif yang tinggal dan hidup dekat dengan laut. 

Dan apabila membicarakan hal tersebut pikiran kita akan menuju pada sebuah lanskap dari suatu masyarakat yang hidup dengan kultur melaut. Masyarakat yang tinggal di daerah pesisir yang dalam kesehariannya selalu bersinggungan dengan laut, karena laut menjadi tempat mereka tinggal dan beraktivitas. Bumi secara geografis terdiri atas daratan dan lautan. Daratan seperti yang kita lihat dalam bola dunia terletak terpencar-pencar karena dipisahkanoleh lautan yang bermaterikan air, dan manusia tidak dapat hidup didalamnya.

Oleh karena itu, lautan seolah memisahkan antara manusia yang satu dengan yang lain dari berbagai belahan dunia ini. Dalam tulisan ini yang ingin saya sampaikan adalah bahwa lautan itu sebenarnya tidak memisahkan, tapi justru menjadi sebuah rute perjalanan yang nantinya mempertemukan bangsa-bangsa dari berbagai belahan dunia, karena dunia itu sebenarnya adalah satu dan saling terhubung antara satu tempat dengan yang lain. 

Kemudian, timbul pertanyaan bagaimana bisa lautan yang memisahkan manusia dari berbagai daerah ini justru menjadi sebuah jalur perhubungan? Jawabannya adalah “budaya maritim”. Dengan adanya “budaya maritim”, manusia dari berbagai belahan dunia menjadi saling terhubung. Berlayaradalah salah satu bentuk dari “budaya maritim”, dan menurut saya hal tersebut merupakan suatu hasil kebudayaan yang hebat dari manusia, karena dengan ditemukannya teknologi pelayaran, manusia bisa melakukan perjalanan yang jauh dari pulau satu ke pulau yang lain dan bertemu dengan bangsa yang lain dari berbagai belahan dunia. 

Hal ini menyebabkan dipahaminya dunia sebagai satu kesatuan. Seperti yang diujarkan oleh ErickWolf dalam bukunya Europe and People without History
:“…the world of humankind constitutes a manifold, a totality of interconnected process…” , (Wolf, 1994:4) Dalam pernyataan itu disebutkan bahwa dunia ini merupakan proses saling berhubungan. Macam-macam masyarakat yang ada di dunia mengalami satu proses yang sama dalam perkembangan peradaban umat manusia, karena sejatinya berbagai ras manusia itu terklasifikisikan dalam satu golongan yaitu “manusia”. 

Adanya budaya maritim inilah yang membuat manusia dari berbagai belahan manusia terhubung dalam satu proses bersama yaitu perkembangan peradaban umat manusia.Singkatnya, antara satu tempat dengan tempat yang lain di seluruh belahan dunia ini saling terkoneksi, begitulah kira-kira yang ingin disampaikanoleh Erick Wolf. 

Dikatakan terkoneksi karena sesuatu yang ada di suatu tempat terkadang berasal dari tempat lain yang jauh sekali dari tempat tersebut. Apa buktinya? Salah satu buktinya adalah ditemukannya musik keroncong yang menjadi salah satu musik rakyat di Indonesia. Musik keroncong ini sebenarnya adalah bawaan dari bangsa portugis yang pada jaman dahulu berlayar hingga ke daerah tersebut untuk mencari rempah-rempah. 

Musik ini awalnya dimainkan oleh budak-budak keturunan portugis dan beberapa orang maluku. Dimainkannya musik keroncong sebagai musik rakyat di daerah tersebut menunjukkan terbentuknya koneksi antara Eropa dengan Indonesia. Begitu juga ditemukannya rempah-rempah dengan kualitas yang baik di Eropa.Berdasarkan iklim yang terdapat di Eropa, rempah-rempah sebenarnya tidak dapat tumbuh dengan baik, namun orang-orang Eropa berlayar ke negara-negara tropis untuk mencari rempah-rempah berkualitas tinggi. 

Imbasnya adalah terjadinya hubungan antara orang Eropa dengan orang-orang yang berasal dari negara-negara beriklim tropis yang jelas berbeda kulturnya dengan mereka orang-orang Eropa. Lainnya, coba kita lihat orang-orang cina yang ada di Indonesia. Secara historis apakah mereka orang asli Indonesia? Tidak, mereka memang berasal dari negeri Tirai Bambu yang melakukan pelayaran hingga sampai Indonesia untuk berdagang. 

Namun, beberapa dari mereka menikah dengan orang Indonesia dan menetap di Indonesia, hingga membentuk peradaban Indo-cina di Indonesia yang sekarang cukup banyak juga jumlahnya. Imlek yang merupakan perayaan Tahun Baru Cina pun turut dirayakan disini, karena memang jumlah orang-orang keturunan Cina di Indonesia cukup banyak. Kita juga dapat pecinan di beberapa daerah Indonesia. 

Tapi, tidak hanya bangsa luar yang terus menerus melakukan penjelajahan ke berbagai belahan dunia. Kerajaan Majapahit yang terletak diIndonesia ini pun pernah melakukan pelayaran untuk pergi ke tempat yang letaknya cukup jauh dari Indonesia, karena mereka dikenal sebagai kerajaanyang cukup besar kekuatan maritimnya. Irawan Djoko Nugroho (2011) dalambukunya Majapahit: Peradaban Maritim memaparkan betapa besarnya kekuatan maritim Indonesia kala itu.

Diceritakan bahwa Kerajaan Mataram memiliki kapal sejumlah 2.800 buah, lebih banyak hampir tiga kalinya dari pada kapal-kapal milik Kubilai Khan yang hanya sejumlah 1.000 buah ketika melakukan penyerangan ke Jawa. Kapalnya pun bukan kapal-kapal kecil, tapi kapal yang besar. Bahkan menjadi kapal paling besar di dunia pada jamannya.

Disini kita dapat membayangkan betapa besarnya kekuatan maritim bangsa kita pada waktu itu, melalui cerita-cerita tentang Kerajaan Majapahit tersebut. Bukti fisik dari peradaban besar maritim Kerajaan Majapahit ini adalah ditemukannya bangsa Melayu-Merina yang memiliki kulit sawo matang dan tinggal di Madagascar, yang mungkin tertinggal atau menetap di situ.

Saatnya kita mengembalikan kekuatan bangsa dengan memahami jadi diri bangsa maritim, dari konsekuensi kita sebagai manusia maritim dengan memahami dasar-dasar ontologis hingga kosmologis tentang eksistensi kita, yang kemudian menjadi bahan dasar kita dalam menata cara hidup dan kebudayaan yang berbasis pada dunia laut dan pesisir.

Manusia-manusia yang hidup berkembang dalam dimensi spasial perairan secara alami akan menjadi kelompok masyarakat hibrid, yang berpikiran terbuka, adoptif, sekaligus adaptif. Tatanan sosial, ekonomi, dan politik sebagai produk budaya maritim tentunya akan memiliki kekhasan tersendiri dan berbeda dengan produk budaya yang lahir di atas konteks alam yang lain (Radhar Dahana, 2011). Secara adab, budaya maritim lebih toleran terhadap perbedaan-perbedaan karena interaksinya yang lentur dan intens antara satu kelompok dengan kelompok yang lain.

Hal ini tidak seperti budaya daratan yang dipenuhi konflik dan peperangan berkat kondisi geografis dan geologis yang memaksa mereka untuk melawan atau menguasai manusia, binatang, atau lingkungan di sekitar mereka. Sebagaimana yang kita dapat ikuti di Timur Tengah baik pada masa silam atau saat ini yang terus saja dipenuhi dengan peristiwa-peristiwa kekerasan dan peperangan.

JALES VEVA JAYA MAHE

Penulis:
Kolonel Laut (P) Salim
Dansantrol Lantamal III

Obrolan Bahari, Nelayan Harus Dilibatkan (Subjek) Dalam Perumusan Kebijakan

Dedi S Adhuri (Pakar Antropologi Maritim)

PEMUDA MARITIM –  Semarang (26/12), Kegiatan rutin DPD KNTI Semarang “Obrolan Bahari” membahas soal Membangun Indonesia dari Pesisir. Pakar Antopologi Maritim LIPI, Dedi S Adhuri menjadi narasumber tunggal dalam kegiatan tersebut. Kegaiatan dihadiri oleh dosen perguruan tinggi, aktivis lingkungan serta mahasiswa –mahasiswi perguruan tinggi.

Diskusi diawali dengan membahas cara pandang terhadap nelayan yang selama ini dianggap kurang tepat terhadap mereka, dimana nelayan dijadikan objek.

“Selama ini Nelayan selalu dijadikan objek, padahal seharusnya nekayan menjadi subjek. Dalam setiap program pembangunan nelayan atau masyarakat pesisir harus diikut sertakan dalam perumusan pembangunan.” Terang Dedi 

Lanjut Dedi, nelayan memiliki Pengetahuan Tradisional hal tersebutlah yang menjadikan nelayan istimewah. Ada hal-hal yang berkaitan dengan alam yang tidak terjangkau oleh pengetahuan modern, namun mampu terjawab oleh pengetuhuan tradisonal nelayan.

“Perlu adanya sinergisitas antara science traditional dan science modern agar menghasilkan kesepakatan sebelum pelaksanaan suatu program atau kebijakan. Hal itu bisa didapat dengan adanya ruang untuk berdiskusi antara Pemerintah atau LSM dengan masyarakat pesisir sebelum program berlangsung.” Jelas Dedi

Sambung Dedi, selain di ikut sertakan dalam ruang diskusi untuk perumusan program, nelayan juga harus berkelompok besar agar mempunyai bargaining yang baik.

Ketua KNTI Kota Semarang, Slamet Ary Nugroho, menerangkan bahwa saat ini KNTI di Semarang rutin setiap bulannya menggelar kegiatan diskusi dengan nelayan-nelayan. Dan seminggu sekali diskusi ditingkat KUB nelayan, di Tambak Lorok yang merupakan kampung nelayan terbesar di semarang ada sekitar 34 KUB.

“Setiap bulan kita agendakan diskusi dengan nelayan, membahas agenda bersama agar nelayan sejahtera. Terutama guna menyatukan semangat maju bersama nelayan, salah satunya dengan pembentukan Koperasi Nelayan.” Jelas Ary

Dedi juga mengkritisi program pemerintah yang selama  ini mengeluarkan kebijakan berupa pelarangan, akan tetapi kurang memberikan alternative bagi nelayan.  Ataupun kalau ada, alternative tersebut tidak terjangkau oleh kemampuan dasar nelayan.

“Menyoal kesejahteraan nelayan, nelayan harus dipersatukan, dorong nelayan ke tengah laut dan tentunya harus didukung dengan sistem yang tuntas dari mulai operasional sampai pemasaran hasil tangkapan.” Terang Dedi

(AR)