Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » » The Jakarta International Photo Summit (JIPS) : Membumikan Bahari dengan Seni

Pemuda Maritim  -  The  Jakarta  International  Photo  Summit  (JIPS)  merupakan  muara  dari  rangkaian  kegiatan  fotografi internasional berjangka tetap yang diadakan setiap tiga tahun sekali. Galeri Nasional Indonesia menjadi rumah  bagi  titik  temu  baik  karya-karya  yang  bermuatan  opini  visual  perihal  komplikasi  impak  permasalahan  urban  sekaligus  menjadi  forum  gathering  bagi  para  fotografer  berbagai  aliran  dalam  menatap realita peradaban terkini. Perhelatan arus utama dalam dunia fotografi ini pondasinya diletakkan  Galeri Foto Jurnalistik Antara, Galeri Nasional Indonesia dan  Dewan Kesenian Jakarta sejak tahun 2007. Kegiatan  ini  bertujuan  memperluas  cakrawala  pembacaan  saujana  peradaban  urban  secara  personal. Tak  sekadar  melihat,  seperti  yang  selama  ini  menjadi  pakem  fotografi  (the  art  of  seeing),  namun sekaligus  menghamparkannya    secara  personal  serta  demokratis  dimana obyektivitas  bisa  terbaca  sebagai subyektivitas.  

JIPS 2014: City of Waves   Pada pelaksanaan yang ketiga setelah sempat tertunda satu tahun, JIPS 2014 mengangkat tajuk  “City  of  Waves.”  Suatu  tema  kelautan  yang  menautkan  manusia  dan  kebaharian  dengan  upaya  pendayagunaannya  sebagai  sumber  alam  yang  menjanjikan.  Namun  keberadaan  lautan  yang membentang sepanjang teritori Indonesia ternyata memiliki batasan yang terkait dengan posisi kita yang berdiri pada cadas-cadas perkasa dalam kerawanan lempeng-lempeng dan sesar-sesar bencana yang potensial mengundang tsunami. Masih  membekas  betapa  tragedi  akbar  pernah  menenggelamkan  Aceh  dan  Nias  di  belahan Sumatra yang sungguh rawan posisinya. Pameran foto ini digelar sebagai cerminan yang bermula dari bencana alam yang memporak-porandakan kehidupan bahkan menghapus keberadaan sejumlah pulau-pulau serta membinasakan harta benda kawasan dalam sekejap. Seperti yang terjadi pada suatu pagi di hari Minggu, 26 Desember 2004 itu, yang berisikan satu lagi sejarah yang pasti akan kembali berulang.  Suatu  catatan  terburam  tentang  penderitaan  peradaban  kemanusiaan  di  jaman  modern  ini. Dimana lautan Teduh telah menjelma menjadi sekeping kiamat bagi sejarah perairan dunia.  230-an ribu orang tewas, dari pesisir Aceh sampai pantai timur Afrika. Bencana akbar itu ternyata telah terbaca sebagai sebuah solidaritas. Pertautan yang merekatkan hati warga dunia untuk membangun dan membangkitkan kembali kawasan dari amuk samudra semesta demi  kemanusiaan.  Anugerah  alam  dari  keberadaan  samudra,  laut,  muara  dan  akhirnya  anak-anak sungai  sejak  dahulu  kala  telah  menjadi  inspirasi  dan  sumber  kehidupan.  Jika  kemudian  kita  hanya menelantarkan  keberadaannya  demi  keuntungan  materi  sesaat,  maka  kita  telah  menyia-nyiakan anugerah semesta alam. Samudra Pasifik atau Lautan Teduh  adalah kumpulan air terbesar di seantero permukaan dunia. Ia  mencakup  kira-kira  sepertiga  permukaan bumi.  

Terbentang  seluas  179,7  juta  km² dengan  panjang sekitar 15.500 km, dari Laut Bering di Arctic hingga batasan es di Laut Ross, Antartika di selatan. Mulai dari  pantai  terluar  Indonesia  hingga  pesisir Kolombia.  Sekitar  25.000  kepulauan  (mayoritas  terletak  di selatan khatulistiwa) berada dalam teritori Samudra Pasifik. Di  bawah  tajuk  “City  of  Waves“,  JIPS  2014  digelar  sebagai  sebentuk  prakarsa  budaya  visual yang sejatinya adalah refleksi dari keseharian kebaharian internasional.  Karena fotografi telah menjadi peradaban visual milik setiap orang, maka kekuatan kisah-kisah perihal samudra yang menatap lapisan demi  lapisan  gejala  sosial  itu  kembali  ditampilkan  dalam  pameran  besar  para  fotografer  tanah  air  dan sejawat global mereka dari sejumlah sudut manca negara. Keberagaman samudra semesta ini diharapkan sebagai suatu rumah betang yang menjadi ajang pertemuan ide, agar segala sepak terjang para pengelola negara menjalankan kebijakan kebahariannya dalam  koridornya  yang  menguntungkan  namun  tak  mengorbankan  keberadaan  lautan  sebagai  bahan komoditi untuk kepentingan jangka pendek. Pameran foto karya enampuluhan fotografer domestik dan mancanegara dari 12 negara tersebut kiranya akan menciptakan pengikat tali persahabatan diantara mereka yang melihat kebaharian sebagai masa depan yang harus diraih sehingga menjadi gerbang yang mumpuni bagi generasi baru Indonesia untuk menatap dengan meyakinkan keberadaan diri sebagai masyarakat bahari yang sesungguhnya.   

Program kegiatan yang akan diadakan dalam JIPS 2014: “City of Waves”, yaitu: 

1. Pameran Foto JIPS 2014: “City of Waves”, Galeri Nasional Indonesia, 5-28 Desember 2014. Pameran ini  merupakan  kerjasama  Galeri  Nasional  Indonesia  dan  Galeri  Foto  Jurnalistik  Antara.  Pembukaan pameran foto ini rencananya akan dibuka oleh Menteri Pendidikan Dasar & Menengah dan Kebudayaan Republik  Indonesia,  Anies  Baswedan  dan  Menteri  Kelautan  dan  Perikanan  Republik  Indonesia,  Susi Pudjiastuti. Pameran ini adalah muara pertemuan karya-karya fotografer dunia dengan para fotografer di tanah air. 13 fotografer mancanegara dan puluhan fotografer di tanah air yang akan terlibat di dalam pameran karya fotografi tersebut. 

Adapun daftar sementara peserta pameran foto JIPS 2014: “City of Waves” yang terdaftar antara lain: Bruce Connew - New Zealand, Craig Golding – Australia, Juan Manuel Castro Prieto – Spain, Andrew Testa – England, Jake Price – USA, Michael Christopher Brown – USA, Oleg Klimov – Russia, Corey  Arnold – USA, Daniel Silva Yoshisato – Peru, Tomas Munita – Chile, Kadir Van Lohuizen – Netherland, Beat Presser – Switzerland, Mimi Mollica – England 

Fotografer Indonesia diantaranya : Agung Kuncahya Bayuaji, Agus Ohee, Agus Susanto, Agus Zeth Tanati, Ahmad Arif, Ampelsa, Andi Ari Setiadi, Andri Tambunan, Aniz Efizudin, Anton Rex Montol, Arum Tresnaningtyas, Bahana Patria Gupta, Bedu Saini, Benny Soetrisno, Budi Fatria, Chaideer Mahyuddin, Cipto Aji Gunawan, Deni Sambas, Diana Surya, Didi Sugandi. Donny Rachmansjah, Dwi Oblo, Eddy Hasby, Edward Hutabarat, Edy Purnomo, Evelyn Pritt, Feri Latief, Fikria Hidayat, Galih Donikara, Hasbi, Heru Sri Kumoro, Himanda Amarullah, Husni OA, I Putu Swantara Putra, I Wayan Agus Efryanto, Idealita Ismanto, Irwansyah Putra, Iwan Setitawan, Jay Subyakto, John Suryaatmadja, Junaidi Hanafiah, Kristianto Purnomo, Lasti Kurnia, Lucky Pransiska, M. Anshar, Maha Eka Swasta, Mamuk Ismuntoro, Marzuki Jafar, Michael Eko, Muhammad Akbar, Muhammad Fadli, Naheson Wanda, , Octa Christi, Oscar Motuloh, Prabhoto Satrio, Priyambodo, Putu Sayoga, Reynold Sumayku, Reza Bayu Pahlavi Ayomi, Rio Simatupang, Romi Perbawa, Ronaldy Irfak, Rony Frederik Rumbarar, Rony Zakaria, Rudi Waisnawa, Sari Asih, Syahrul Rizal, Tomas Munita, Wawan H. Prabowo, Wisnu Widiantoro, Yeri Rumanasen, Yoppy Pieter, Yori Antar, Yosep Arkian, Yusuf Ahmad, Zabur Karuru, Zulkarnaini. 

Selain karya dari personal juga terdapat beberapa project seperti Muoro Jambi, Ekspedisi Cincin Api Kompas, Ekpedisi Garis Depan Nusantara, Gambara Flores, Aceh 10 Tahun Tsunami, Papua.

2. Diskusi Foto: “Favela in Rio de Janeiro”, by Mimi Mollica 
Pembicara  : Mimi Mollica     
Waktu    : Sabtu, 6 Desember 2014 

3. Gallery Talk  “Hari Maritim” 
Speakers    : Ipong Witono, from Garis Depan Nusantara expedition team 
Waktu       : Sabtu, 13 December 2014 4.
Gallery Talk  “Samudra Rumah kita : Tuah dan Musibah”
Speakers    : Arif Ahmad, from Kompas's Ring of Fire expedition team 
Waktu       : Sabtu, 20 December 2014 

5. Movie Screening: 

- Inerie (Mama Cantik) Lola  Amaria  Production  bekerjasama  dengan  pemerintah  Australia,  melalui  Australia  and  Indonesia Partnership for Maternal and Neonatal Health ( AIPMNH), memproduksi film dokumenter berjudul Inerie (Mama  Cantik).  Film  yang  pengambilan  gambarnya  dilakukan  di  Kabupaten  Ngada,  Nusa  Tenggara Timur, tepatnya di desa Tololela, Bajawa, Pulau Flores, ini menyajikan kisah dramatis yang realitis yang menggambarkan tantangan-tantangan yang dihadapi masyarakat terpencil dalam memastikan persalinan  yang aman bagi para wanita dan bayi mereka.   
Waktu Diskusi & Pemutaran Film  : Minggu, 7 Desember 201
Pembicara        : Lola Amaria dan Lasti Kurnia

- Atambua 39oC Miles  Production  mengangkat  potret  kehidupan  masyarakat  di  kota  Atambua  pasca  referendum  Timor Timur.  Pemikiran  untuk  membuat  film  tentang  para  pengungsi  Kota  Atambua  ini  melihat  kondisi    yang memprihatinkan terjadi disana, seperti pendidikan, kesulitan air bersih, listrik dan secara ekonomi juga di bawah rata-rata. 
Waktu Diskusi & Pemutaran Film  : Minggu, 14 Desember 2014  
Pembicara        : Riri Riza & Edward Hutabarat

- The Mirror Never Lies , The  Mirror  Never  Lies  sebuah  film  drama  yang  diproduksi  Set  Film  and  WWF  Indonesia  dengan sutradara  Kamila  Andini.  Film  ini  merupakan  merupakan  potret  tentang  Indonesia  supaya  dapat memahami  budaya  laut  atau  maritim  Indonesia.  Ini  kisah  mereka  yang  hidup  mengikuti  laut.  Laut memberi kabar baru dengan caranya sendiri. 
Waktu Diskusi & Pemutaran Film  : Kamis, 18 Desember 2014  
Pembicara        : Kamila Andini, Veda Santiaji WWF 

- Fitzcarraldo   Fitzcarraldo adalah film tahun 1982 yang disutradarai oleh Werner Herzog ini bercerita mengenai kisah  Fitzgerald, petualang dan pecinta opera untuk membangun sebuah gedung opera di pedalaman hutan Peru. Ia membutuhkan dana besar untuk mewujudkan impiannya. Fitzgerald melakukan berbagai usaha untuk mengumpulkan dana, seperti mengakuisi kapal uap mengarungi sungai Amazon untuk membawa hasil usaha karetnya ke seberang sungai yang lain.
Waktu Diskusi & Pemutaran Film  : Minggu, 28 Desember 2014 

6. Photo Buku Club ,  Komunitas Photobook Indonesia beserta beberapa fotografer muda yang telah menerbitkan buku fotografi mereka berkumpul dan saling berbagi mengenai proses mereka membuat buku foto.   Waktu: Tentative 

7. Kunjungan Sekolah selama pameran berlangsung ,  Selama  pameran  berlangsung,  kami  juga  menyiapkan  pemandu  pameran  yang  akan  menceritakan mengenai tema dan sudut pandang dari proses kreatif dari karya seni yang terpajang di area pameran. Selama  pameran,  beberapa  sekolah  dan  Unit  Kegiatan  Mahasiswa  Fotografi  juga  kami  undang  untuk mengikuti panduan pameran ini.

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply