Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » Nelayan Tradisional Serukan Respon Bencana Kelautan kepada Pemerintah


Pemuda Maritim Sudah lebih dari 14 (empat) belas hari terakhir suasana di tengah laut semakin mencekam. Cuaca ekstrem dan bencana pencemaran kabut asap  pun semakin hari semakin tebal. hal itu terjadi karena terbawa angin yang mengarah ke timur laut dan menyebabkan pandangan menurun serta dapat menimbulkan bencana bagi nelayan. Situasi ini menyebabkan hampir 10.000 nelayan di Kabupaten Langkat tidak berani melaut karena jarak pandang yang nyaris tidak terlihat.

Dalam catatan Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), nelayan tidak dapat melakukan aktifitas melaut akibat Kabut asap dan cuaca ekstrim.

“Di perkirakan kerugian nelayan mencapai milyaran rupiah. Dampak lebih luas dirasakan kepada publik yang lain dengan harga hasil laut yang melonjak disamping semakin menipis pasokan ikan di pasar tradisional Pangkalan Berandan Kabupaten Langkat,” ujar Ketua Bidang Pengembangan Hukum KNTI Marthin Hadiwinata beberapa saat lalau.

Lebih lanjut, Marthin mengungkapkan persoalan bencana asap dan cuaca ekstrim yang terjadi harus menjadi perhatian bersama sebagaimana mandat dari berbagai kebijakan salah satunya Undang-undang No. 32 Tahun 2014 tentang Kelautan.

Bencana asap dan cuaca ekstrim yang mengancam penghidupan nelayan dapat digolongkan sebagai bencana kelautan. Lembaga pemerintah seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan, Badan Keamanan Laut, dan pihak lain seperti Badan Sar Nasional perlu bersama-sama dengan nelayan tradisional untuk bekerja sama.

“Koordinasi dan kolaborasi ini belum terjadi beberapa pekan terakhir,” tegasnya.

Berdasarkan situasi ini, anggota KNTI yang terdampak seperti di Kabupaten Langkat dan Kabupaten Tanjung Balai di Sumatera Utara; Kabupaten Lingga, Kota Batam, Kota Tanjung Pinang, dan Kabupaten Bintan Kepulauan Riau; serta Tarakan di Kalimantan Utara, meminta kepada Presiden Republik Indonesia beserta jajarannya untuk segera:

Pertama, meningkatkan koordinasi dan langkah-langkah pencegahan untuk mengurangi kerugian diterima nelayan tradisional dalam kegiatan menangkap ikan di tengah bahaya asap dan cuaca ekstrem. Kedua, memastikan para Bupati/Walikota melakukan mobilisasi segenap sumberdaya sebagai bentuk tanggap darurat akibat cuaca ekstrem dan kabut asap, utamanya terkait langsung kepentingan kesehatan, pendidikan, dan pangan warga, termasuk keluarga nelayan.

Ketiga, melakukan segera langkah-langkah penyelamatan hutan dan lahan yang terbakar serta menghentikan perijinan dalam pembukaan serta pemanfaatan lahan yang merusak ekosistemnya. Keempat segera melakukan langkah-langkah hukum untuk menuntut pelaku-pelaku kejahatan pembakaran dan perusakan hutan dan lahan.

“Demikian pernyataan sikap yang kami sampaikan kepada pemrntah untuk segera dijalankan agar mengurangi penderitaan para nelayan tradisional,” pungkasnya.

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply