Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » Pertahanan Indonesia dan Penguatan Poros Maritim Dunia



Pemuda Maritim - Situs Global Fire Power (GFP) baru-baru ini mengeluarkan rilis bahwa Indonesia adalah negara dengan kekuatan militer ke-12 terbesar di dunia. Ada harapan dan kebanggaan melihat bahwa sebuah situs internasional se-mentereng GFP, yang sering jadi rujukan ilmiah para pakar-pakar militer dan pertahanan di seluruh dunia, menempatkan Indonesia di posisi terhormat tersebut. Lebih bangganya karena terjadinya menjelang HUT TNI ke-70, 5 Oktober lalu. Di tengah banyak otokritik di dalam negeri tentang kekurangan dan ketidakmampuan TNI untuk menjaga kedaulatan dan martabat bangsa dan negara di bidang militer, pengakuan justru datang dari luar.

Anggaran pertahanan Indonesia yang meningkat jauh selama 16 tahun terakhir, yaitu 16 triliun pada tahun 1999 sampai 95 triliun (sesuai RAPBN 2016), rupanya sangat berpengaruh pada peningkatan kekuatan tempur kita. Skema penggunaan anggaran pertahanan pun dilakukan secara double track.

Hal ini karena pemerintah juga menganggarkan Minimum Essential Force (MEF) Renstra I tahun 2009-2014 sebesar 150 triliun. Hasilnya sangat signifikan bagi alutsista TNI, terutama AL dan AU. Mengapa dua matra itu saja? Visi Presiden Jokowi untuk membangun “Poros Maritim Dunia” harus didasarkan pada keunggulan angkatan laut dan udara yang kuat, bukan darat. Paradigma pertahanan kita yang selama ini land based oriented harus diganti.

Kekuatan AL dan AU

Sejak MEF Renstra I digulirkan di tahun 2009, TNI AL mendapat porsi anggaran yang paling signifikan. Pengadaan 3 unit Kapal Selam DSME-209 (Changbogo Class) dari Korea Selatan menghabiskan dana $1.1 Miliar. Selain kapal selam, TNI AL kedatangan 2 unit Perusak Kawal Rudal (PKR) Sigma-10514 dari Belanda dan 3 unit Kapal Perang MLRF Nahkoda Ragam Class dari Inggris, yang diberi nama KRI Jhon Lie, KRI Usman Harun dan KRI Bung Tomo. Menurut situs GFP, Indonesia mempunyai 6 kapal fregat, 26 kapal korvet, dan 2 kapal selam (tambah 3 yang sedang dibuat di Korea).

Selain kekuatan tempur laut, angkatan udara juga tidak mau kalah. Pada MEF Renstra I, TNI AU mendapatkan 6 unit Su-30 MK2 (melengkapi 10 unit Su-27/30 yang sudah ada sebelumnya), 16 EMB-314 Super Tucano dari Brazil, 16 unit T-50i Golden Eagle dari Korea Selatan, 24 unit F-16 setara Block 52, dan yang terbaru adalah rencana pembelian satu skuadron jet tempur Shukoi SU-35 untuk menggantikan F-5 Tiger yang sudah puluhan tahun beroperasi.

Dalam paradigma pertahanan maritim kuantitas memang bicara banyak. Jika ada serangan musuh, wilayah udara dan laut yang harus menghadapinya duluan. Begitu pula dengan cara menjaganya, di mana ancaman yang terjadi sekarang tidak lagi ancaman militer, tetapi ancaman non-konvensional, seperti pembajakan, terorisme, penyelundupan narkoba, sampai arus pengungsi dari negara lain yang masuk lewat laut. Jumlah alutsista laut dan udara kita memang belum sebanding dengan jumlah wilayah yang harus dijaga, tetapi jika GFP sudah memasukkan Indonesia sebagai salah satu kekuatan besar militer dunia, sudah seharusnya pemerintah menambah anggaran untuk matra laut dan udara.

Poros Maritim Dunia

Berkaca pada peringkat yang dikeluarkan GFP tadi, Indonesia berada di atas negara-negara tetangga yang kerap menjadi rival, seperti Malaysia, Singapura, bahkan Australia. Tantangan ke depan adalah bagaimana mengejawantahkan konsep poros maritim dunia ke dalam tataran operasional yang dipahami bersama. Menurut penulis, langkah awalnya adalah melalui optimalisasi sektor pertahanan untuk keamanan. Keamanan tidak akan berjalan tanpa dukungan kekuatan pertahanan (tempur). Poros maritim dunia tidak akan efektif tanpa adanya jaminan keamanan dari pemerintah. Untuk itu, penguatan kekuatan tempur kita sudah benar adanya, terutama sejak MEF I, yaitu memfokuskan diri pada kekuatan laut dan udara.

Kepemilikan kapal selam dan kapal-kapal perang yang kecil tetapi lincah, seperti frigat dan korvet membuat efek deterrence bagi siapa pun yang ingin masuk wilayah kita tanpa izin. frigat dan korvet sangat tepat digunakan menjaga wilayah perairan kita, terutama untuk mengejar kapal pembajak, maupun kapal nelayan asing yang sering merampok ikan kita. Jumlahnya saja yang menurut penulis memang harus ditambah 2 sampai 3 kali lipat. Penambahan Komando Armada menjadi empat, juga akan membantu pengamanan wilayah laut kita. Selama ini, Koarmabar dan Koarmatim tidak memiliki coverage area yang cukup untuk melindungi keseluruhan wilayah laut kita, untuk itu perlu ditambah dua lagi di wilayah Timur dan Utara Indonesia.

Sejalan dengan kekuatan laut, skuadron udara yang siap diluncurkan kapan saja akan membuat wilayah udara dan laut kita aman. Penempatan pesawat tempur pun harus diperhatikan. Tempatkan pesawat-pesawat terbaik AU di lanud-lanud yang berada di perbatasan terluar, seperti Lanud Ranai di Natuna, Lanud Marauke, dan Lanud Eltari di Kupang. Masalah keamanan seringkali terjadi di daerah perbatasan yang kurang dijaga.

Selama ini kita tidak bisa pungkiri bahwa laut dan udara adalah wilayah di mana sering terjadi masalah keamanan, hal ini karena tidak ada tindakan yang memadai dari pemerintah. Untuk itu,  langkah awal poros maritim dunia harus dimulai dari keamanan laut dan udara. Dengan adanya jaminan keamanan, investasi dan arus perdagangan akan lancar masuk dan keluar wilayah Indonesia.

Semakin meningkatnya kekuatan tempur laut dan udara militer kita membuat Indonesia makin disegani di mata dunia. Tiongkok bisa merajalela menguasai perdagangan di sekitaran Asia Timur, adalah karena kekuatan militernya yang sangat kuat, terutama di laut. Kegiatan bisnis yang dilakukan melalui laut akan berjalan baik jika keamanan kawasan dijamin oleh negara-negara yang disinggahi. Jalur perdagangan melalui laut diakui lebih efektif. Mereka bisa singgah di pelabuhan, lalu menawarkan dagangannya. Jalur perairan juga dinilai lebih cepat dan dapat mengangkut lebih banyak muatan seperti makanan dan barang-barang lainnya.

Inilah captive market yang bisa dimainkan Indonesia jika sukses menerapkan konsep poros maritim dunia. Posisi yang strategis di antara dua benua dan dua samudera membuat mau tak mau negara ini harus mengandalkan sektor maritim jika ingin menjadi global player. Adanya jaminan keamanan oleh pemerintah, yang dilakukan lewat penguatan kekuatan tempur laut dan udaranya, dapat menjadi awalan ambisi itu terwujud. Yang harus dilakukan pemerintah adalah menambah anggaran pertahanan Indonesia, terutama matra laut dan udara, agar stabilitas keamanan kawasan tetap terjamin.

Terakhir, peningkatan anggaran pertahanan bukan berarti mengurangi anggaran untuk kesejahteraan rakyat. Semakin kuat pertahanan kita, semakin dunia internasional percaya pada Indonesia. Alhasil, arus investasi akan banyak masuk karena investor percaya dengan kondisi keamanan di Indonesia, termasuk kondisi keamanan kawasan juga. Ketersediaan alutsista laut dan udara yang kuat akan membantu penguatan poros maritim dunia ala Presiden Jokowi ini. Semoga militer kita akan makin disegani di dunia internasional, di mana salah satu alasannya adalah karena kita memiliki konsep “Poros Maritim Dunia”.Sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply