Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » Syam Kamaruzaman, Sosok Mantan Buruh Pelabuhan yang Menjadi Agen Hebat

Pemuda Maritim -  Tentu kita masih ingat dengan film “Pengkhianatan G30S/PKI” karya Arifin.C. Noer yang ditayangkan pertama pada tahun 1984. Dalam film tersebut, terdapat adegan seorang pria yang menghabiskan berbatang-batang rokok dan beberapa gelas kopi hitam kala memimpin suatu rapat untuk merancang pelaksanaan operasi Dewan Revolusi. Pria tersebut adalah Syam Kamaruzaman, ketua Biro Chusus PKI, suatu badan Intelijen PKI yang berhubungan langsung dengan ketua CC PKI, DN Aidit.

Terlepas dari kontroversinya film tersebut, terdapat suatu penelusuran ilmiah saat kita hendak mengetahui siapa sebenarnya Syam Kamaruzaman itu. Berbagai buku dan ulasan sejarah telah merangkum riwayat tokoh ini dari berbagai sudut pandang dan versi.

Pria yang akrab disapa Syam ini lahir di Tuban, 30 April 1924. Syam merupakan mantan ketua Serekat Buruh Kapal dan Pelabuhan di Tanjung Priok pada tahun 1947. Konon pria inilah yang menyelamatkan Aidit dan Lukman saat kedapatan tidak memiliki tiket di Tanjung Priok sewaktu kembali dari Vietnam tahun 1950. Kedua tokoh tersebut berstatus sebagai buron pasca peristiwa Madiun 1948, sehingga harus bersembunyi di Vietnam sampai situasi aman.

Kedekatan Syam dengan Aidit yang beberapa tahun kemudian menjadi tokoh yang diperhitungkan di perpolitikan Indonesia sangatlah istimewa. Karena terlalu istimewanya, sehingga tidak ada anggota Politbiro lainnya seperti Nyoto, Sudisman, Lukman, dan lainnya dapat berhubungan dengan Syam.

Fenomena itulah yang kemudian membawa kerumitan yang luar biasa saat mengurai benang merah peristiwa 1965. Anton WP dalam bukunya menempatkan Syam sebagai salah satu tokoh paling misterius di Indonesia.
Menurut versi lain, Syam adalah anggota militer berpangkat Letnan yang mengawali karirnya sebagai pasukan BKR Jogja dibawah Letkol Suharto. Hal itu dibenarkan oleh Subono Mantovani SH, salah seorang anggota Mahmilub saat melihat foto Syam. Subono dahulu juga berpangkat Letnan Satu yang bersama dengan Syam sebagai pasukan Pathuk dibawah pimpinan Letkol Suharto.

Menjadi anak buah Suharto hingga menyandang jabatan Intel di Resimen 22 brigade 10, Divisi Diponegoro. Bahkan bersama-sama dengan Suharto pernah masuk Seskoad dibawah komando Kolonel Soewarto.

Hal tersebut disampaikan oleh Subandrio saat memberi kesaksian yang menyatakan Syam merupakan intelijen perwira AD yang bermitra denganCIA. Diduga hubungan tersebut terjalin saat memiliki kedekatan dengan Kolonel Soewarto yang merupakan teman dekat dari Guy Pauker, orang penting CIA dalam hubungannya dengan Indonesia.

Menurut AM Hanafi, Syam memiliki nama asli Syamsul Qomar Mubaidah seorang anggota BKR Pathuk yang kemudian dididik oleh Johan Syahruzah, tokoh PSI di kelompok Pathuk. Sehingga dari sinilah Syam mengenal gerakan-gerakan kiri yang akhirnya mengantarkan dirinya menjadi ketua Serekat Buruh Kapal dan Pelabuhan.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, Syam merupakan orang yang berjasa kepada Aidit. Bukan hanya ketika menyelamatkan Aidit di Tanjung Priok, tetapi Syam juga yang memperkenalkan Aidit dengan Moedigdo, yang di kemudian hari menjadi mertua dari Aidit.

Peran Syam di Peristiwa 1965

Syam sebagai kepala Biro Chusus PKI, bertugas mempersiapkan suatu gerakan Dewan Revolusi untuk mencegah pengambil alihan kekuasasan oleh Dewan Jenderal. Operasi Dewan Revolusi itu pun dipimpin oleh Letkol Untung Syamsuri dan Brigjen Supardjo sebagai wakilnya.

Bersama perwira-perwira menengah AD dan AU, Syam intens mengadakan rapat pada malam hari menjelang 30 September 1965. Hasil dari rapat itu, Syam kemudian melaporkan kepada Aidit mengenai kesiapan operasi.
Setelah berjalannya operasi pada malam satu Oktober, gerakan ini pun dengan mudah dapat dilumpuhkan. Setelah berhasil menculik Perwira tinggi AD, menduduki RRI, Telkom, dan melumpuhkan Ibukota, Pangkostrad Mayjen Suharto langsung membabat habis pasukan yang dipimpin oleh Letkol Untung tersebut.

Seluruh pimpinan Dewan Revolusi dan PKI pun lari menyelamatkan diri. Tidak terkecuali Syam, yang kemudian tertangkap di Cimahi tahun 1967. Setelah melalui sidang di Mahmilub tahun 1968, Syam divonis hukuman mati. Namun baru tahun 1972, Syam dipindah dari RTM Salemba ke LP Cipinang. Dan pada tahun 1986, baru terdengar kabar bahwa Syam dieksekusi di Kepulauan Seribu.

Misteri tentang Syam tidak berhenti sampai disitu, pasca Reformasi ada yang menyatakan bahwa Syam masih hidup beserta segala kemewahan setelah berhasil dalam menjalankan tugas dengan baik.

Misteriusnya seorang Syam menyebabkan Peristiwa 1965 pun sukar terungkap dan dipecahkan. Namun siapapun Syam, ia tetap orang hebat dan genius yang pernah dilahirkan di bangsa ini. Seorang agen ganda yang merangkap sebagai agen PKI, CIA, dan AD dalam sekaligus.

Seorang buruh kapal yang menjadi agen andal ini pun meninggalkan pelajaran baik positif maupun negatif. Andaikata hari ini ada buruh kapal yang memiliki kaliber seperti Syam, ada dua kemungkinan yang bakal terjadi. Pertama, Indonesia akan bangkit menjadi mercusuar dan poros maritim dunia karena mampu mengungguli negara-negara adidaya. Dan yang kedua, Indonesia akan semakin hancur dan tenggelam ketika orang yang berkemampuan seperti Syam hanya memiliki niatan untuk memperkaya diri sendiri serta hanya untuk meraih kekuasaan semata. Mari kita renungkan bersama.

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply