Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » APMI: Perlu Perkumpulan Pengusaha Boat untuk Majukan Maritim Indonesia

Pemuda Maritim - Perkembangan pembangunan maritim tidak lepas dari alat transportasi laut yakni kapal. Seperti yang kita tahu bahwa bukan hanya merchant vessel yang berperan dalam upaya membangun maritim Indonesia. Tetapi kapal-kapal nonmerchant vessel  turut mempunyai andil yang cukup besar dalam upaya mendorong Indonesia untuk menjadi poros maritim dunia yang seutuhnya.

Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Sekjen Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI) Ahlan Zulfakhri saat ditemui Jurnal Maritim dalam acara Pra Pelayaran Arung Samudera di Wisma UNJ, Jakarta, Rabu, (18/11/15).

Menurutnya, dalam hal ini perlu penyamaan visi dan persepsi terkait peran pengusaha kapal non commercial ship untuk dapat bersama membangun Indonesia sebagai poros maritim dunia.

“Jika kita melihat pengadaan 188 Kapal Negara di Kemenhub, 3500 kapal di KKP, belum lagi kapal TNI AL, Basarnas, Kemenhut, BNPB, BNPP, Kemendesa, Bakamla, dan Bea Cukai, semua kapal tersebut merupakan merchant vessel,” papar Ahlan.

Selanjutnya, Ahlan menerangkan bawha kapal-kapal tersebut bukan sejenis kapal tanker, ro-ro, atau kapal fery. Kapal-kapal tersebut merupakan nonmerchant vessel yang biasanya bisa dibuat dengan menggunakan fiber aluminium atau baja.

“Saat ini untuk perkumpulan pengusaha kapal merchant vessel dan galangan sudah terakomodir dengan baik yakni dengan hadirnya IPERINDO (Ikatan Perusahaan Industri Kapal Dan Lepas Pantai Indonesia-red),” tambahnya.

Namun, sayangnya untuk pengusaha boat belum ada lembaga yang mampu menjadi corong untuk bisa mengakomodir pengusaha tersebut. “Hal ini sangat disayangkan karena dengan banyaknya project yang ada di depan mata seharusnya ada lembaga yang dapat menaungi pengusaha-pengusaha tersebut,” sambungnya.

Tentunya hal ini sangat berkaitan dengan beberapa fungsi perkumpulan pengusaha yakni sebagai sebuah lembaga advokasi, konsolidasi, regenerasi, dan perwakilan. Selain itu rules of the game untuk pengusaha di bidang industri menengah ini juga belum ditentukan secara detail.

“Mulai dari fungsi kontraktor, konsultan, pabrikan, vendor dan lain sebagainya. Jika dibiarkan terus menerus akan sangat menyulitkan, padahal seharusnya pemerintah melihat ke depan. Industri menengah di bidang maritim merupakan salah satu industri penyokong visi maritime,” bebernya.

Lebih lanjut, lulusan Perkapalan Undip ini menghendaki harus ada yang berani memulai untuk menginisiasi sekaligus menjadi motor pengerak perkumpulan tersebut. Karena hal ini sangat berhubungan erat dengan agenda kemaritiman ke depan agar dapat mendukung pemerintah dengan optimal.

Selain itu perkumpulan tersebut dapat menjadi awal menumbuhkan pengusaha-pengusaha baru di bidang maritim, karena menyangkut modal investasi yang masih cukup terjangkau. “Perkumpulan ini nantinya juga sebagai upaya untuk mendorong tumbuhnya maritimepreneurship  dalam mendukung pemerintah menjadi poros maritim dunia,” pungkasnya.

Melihat fenomena itu, rencananya APMI sebagai satu-satunya wadah pemuda maritim dari berbagai spesialisasi ini berniat mejadi motor penggerak untuk mendorong tumbuhnya perkumpulan tersebut.
Sumber : jurnalmaritim.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply