Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » Dijanjikan Rp 2 Juta, Nelayan Ini Ikut Bunuh Aktivis

Pemuda Maritim - Setelah sempat buron, Saimun (45), warga Desa Bungo, Kecamatan Wedung, Demak, diringkus Unit Resmob Polres Demak, di wilayah Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Saimun adalah salah satu tersangka pelaku pembunuhan aktivis lingkungan Abdul Jamil pada pertengahan September lalu.

Penangkapan tersangka dipimpin langsung Kasatreskrim Polres Demak AKP Philip Samosir didampingi Kanit Resmob Ipda Sumarno.

Sementara itu, Kapolres Demak AKBP Heru Sutopo saat gelar perkara, Rabu (4/11/2015), mengatakan, sebelum tertangkap, tersangka mengaku pulang ke kampung halamannya di Gombong, Kabupaten Kebumen.

Dia pulang kampung untuk mohon ampun kepada orangtuanya karena telah membunuh orang.

Ibu Saimun kemudian menyarankan anaknya itu agar pulang ke Demak. Namun, di tengah perjalanan, tersangka kehabisan bekal dan akhirnya menginap di rumah adik iparnya di Desa Bandengan, Kendal.

"Anggota yang mengetahui keberadaan tersangka langsung meluncur ke lokasi dan menangkap tersangka," kata Heru Sutopo.

"Bersama rekannya yang sudah tertangkap, tersangka Saimun ini kami jerat dengan pasal yang sama, Pasal 338 juncto Pasal 340 KUHP, pembunuhan berencana. Ancamannya sampai seumur hidup," kata dia.

Sementara itu, tersangka Saimun mengaku puas berhasil menghabisi nyawa Abdul Jamil karena dendamnya terbalas.

"Saya ikut membunuh bukan masalah pengerukan sungai, melainkan memang punya dendam lama. Dendam saya terbalas, rasanya puas," kata Saimun yang sehari-hari berprofesi sebagai nelayan.

Rusak harga pasar

Di mata tersangka Saimun, korban yang juga tetangganya itu selalu menghalang-halangi pekerjaannya.

Selama delapan tahun terakhir, setiap mendapat pekerjaan ngedos atau menjadi buruh panen padi, Abdul Jamil selalu menawarkan jasanya dengan harga sangat murah.

Intinya, Abdul Jamil dianggap merusak harga pasar jasa ngedos. Akibatnya, banyak pemilik sawah yang memilih untuk menggunakan jasa korban.

"Untuk ngedos 6–7 bahu sawah, harga yang saya tawarkan Rp 1 juta, tetapi dirusak oleh Abdul Jamil (korban). Dia berani Rp 800.000–Rp 900.000. Siapa yang tidak sakit hati, diserobot seperti itu. Ini terjadi bertahun–tahun," ujar Saimun.

Tersangka Saimun yang menaruh dendam lama terhadap korban kemudian diajak Soleman yang juga sedang bermasalah dengan Abdul Jamil.

Gayung pun bersambut, apalagi Saimun juga dijanjikan uang Rp 2 juta jika mau membantu menghabisi Abdul Jamil.

"Janjinya mau dikasih duit Rp 2 juta, tetapi cuma Rp 400.000. Uangnya untuk bayar cicilan sepeda motor," ujar Saimun.

"Setelah membunuh, saya juga ikut melayat, bahkan ikut mengusung jenazah dan menguburkannya," tambah bapak empat anak ini.

Sebelumnya diberitakan, Soleman (49), warga Desa Bungo, Kecamatan Wedung, Demak, harus berurusan dengan kepolisian.

Pegawai negeri sipil (PNS) yang bekerja sebagai mantri pengairan UPTD Pekerjaan Umum Klambu Kiri itu diduga membunuh seorang aktivis lingkungan, Abdul Jamil (60), yang juga adalah tetangganya.

Pembunuhan yang terjadi pada Kamis (17/9/2015) itu dipicu persoalan pengerukan Sungai Wulan yang mengalami pendangkalan.

Proyek normalisasi sungai yang diduga ilegal dan melibatkan tersangka Soleman ini ternyata bermasalah.

Masalah tersebut berbuntut perselisihan di antara keduanya yang berujung pada kematian Abdul Jamil.
Sumber : kompas.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply