Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » KETIMBANG KOMENTARI MENTERI LAIN, RIZAL RAMLI LEBIH BAIK BENAHI PEJABAT KEMENKOMAR YANG HAMBAT POROS MARITIM DAN NAWACITA

PemudaMaritim-Menteri Kordinator Maritim dan Sumberdaya, Rizal Ramli (RR), beberapa kali mengeluarkan pernyataan kontroversial yang justru diarahkan kepada rekan sesama menteri dalam Kabinet Kerja, atau pejabat negara lain. Pernyataan-pernyataan yang dipopulerkan sebagai ngepret tersebut, menimbulkan berbagai tanggapan.
Tanggapan keras disampaikan oleh Komite Pimpinan Nasional (KPN) GARDA NAWACITA. Melalui Ketua Umum-nya, Irwan Suhanto, Garda Nawacita menyampaikan bahwa sikap Rizal itu paradoks, apabila melihat dengan jujur bagaimana kondisi didalam lingkungan Kemenkomar dan Sumberdaya itu sendiri. Menurut Irwan, banyak pejabat didalam Kemenkomar dan Sumberdaya yang mengambil kebijakan atau berperilaku diametral dengan visi posros maritim dan ruh Nawacita. Oleh karenanya, Rizal diminta fokus membenahi sdm didalam kementerian kordinator yang dia pimpin, ketimbang sibuk mengomentari orang lain.
Dijumpai di Jakarta, Senin 23 November 2015, Redaksi berkesempatan mewawancarai Irwan. Berikut petikannya :

Redaksi :
Anda sekali lagi mengkritik Rizal Ramli, kenapa ?

Irwan :
Bukan hanya Rizal, siapapun pejabat negara yang kita anggap dapat membahayakan agenda Nawacita, maka wajib kami ingatkan.

Redaksi :
Rizal Ramli dianggap membahayakan agenda Nawacita ?

Irwan :
Begini, ketika Rizal Ramli selaku Menkomar dan Sumberdaya membuat pernyataan terbuka tentang menteri atau pejabat lain, itu pasti karena ada alasan dan motivasinya. Walaupun secara etik, sikap itu tidak lazim, karena Rizal adalah bagian integral dari kekuasaan pemerintahan ini. Berkali-kali Garda Nawacita menyampaikan bahwa perilaku itu diluar kepatutan dalam tata kelola pemerintahan. Masa menteri ngomentarin menteri lain didepan umum, dimana aturannya.
Kami justru merasa aneh dengan sikap Rizal tersebut, pertama karena kalau Rizal nyaman dengan karakter tersebut, lalu kenapa tidak jadi anggota DPR saja, kalau jadi anggota dewan khan memang tugasnya mengkritisi pemerintah. Kedua, kami punya banyak informasi yang akurasinya dapat dipertanggungjawabkan, bahwa ada pejabat di lingkungan Kemenkomar dan Sumberdaya yang kebijakan dan perilakunya justru tidak mendukung visi poros maritim, bahkan bertabrakan dengan semangat Nawacita.
Nah, ketimbang sibuk mengomentari menteri atau pejabat lain, kenapa Rizal gak ngepret kedalam kementerian kordinator yang dia pimpin. Itu khan justru bagus. Kalau Rizal mengomentari menteri atau pejabat lain, tapi membiarkan praktik yang diametral dengan visi poros maritim dan Nawacita terjadi di kemeterian kordinator yang dia pimpin, maka Rizal dapat kita anggap membahayakan agenda Nawacita.

Redaksi :
Pernyataan anda masuk akal. Bisa anda beri contoh, salahsatu perilaku pejabat di Kemenkomar dan Sumberdaya tersebut, yang anda anggap tidak sejalan dengan visi poros maritim dan Nawacita ?

Irwan :
Coba saja anda lihat, di deputi bidang infrastruktur saja, tidak terdengan agenda kongkritnya. Mengawang-awang. Padahal kementerian dimana mereka jadi pejabat itu, jadi pendulum kebijakan bagi kementerian dan instansi lain, terutama di sektor maritim. Kalau gak perform, mending dicopot saja sekalian. Lalu deputi sumberdaya dan jasa. Sama saja. Anda tahu apa yang selama ini mereka lakukan ? bikin seminar. Lho, ini pejabat kok mentalnya kayak EO (event organizer-red). Kalau cuma  bisa bikin seminar, ngapain mereka menjabat disitu, dan kalau cuma bisa bikin seminar banyak kok yang lebih jago dan perform ketimbang mereka.
Visi Poros Maritim dan agenda Nawacita butuh kebijakan kongkrit. Bukan hanya bikin seminar. Kayak begitu kok gak dikepret sama Rizal.

Redaksi :
Seminar menjadi tidak penting bagi anda tampaknya

Irwan :
Kami tidak katakan tidak penting. Tapi masa sekelas deputi atau asisten deputi ngurusin seminar. Itu kasih saja ke EO atau bawahannya yang paham. Mereka sebagai pejabat urus yang kongkrit, yang material. Yang dapat memperkuat visi poros maritim dan agenda Nawacita.
Negara ini tidak butuh banci panggung, yang cuma kepingin tampil, seremonial, lalu ditepuktangani banyak orang. Sesuai nama kabinet sebagai Kabinet Kerja, yang gak bisa kerja dikepret keluar saja khan.

Redaksi :
Tandanya, Rizal Ramli harus segera membenahi pejabat internal di kementerian kordinatornya ?

Irwan :’
Itu harus. Beberapa kawan yang bergiat di maritim mengeluhkan perilaku yang sok tahu dan sok berkuasa beberapa pejabat disana (kemenkomar dan sumberdaya-red). Gimana poros maritim bisa jalan kalau para stakeholder dan penggiat maritim dikecewakan, mending kalau mereka lebih paham soal maritim, ini tidak. Diadu sama mahasiswa maritim saja mereka keteteran kok.
Nah, oknum-oknum itu memang sepanjang ini suka laporan yang asal bapak senang (abs). Menjilat-jilat, bilang semua beres. Soal ini Rizal tahu gak ? Jangan-jangan malah dia gak tahu.

Redaksi :
Lalu menurut anda apa yang harus dilakukan Rizal Ramli untuk mengatasi masalah ini ?

Irwan :
Kami tidak mau mengintervensi kewenangan Rizal. Tapi kalau kita berpijak kepada visi poros maritim dan agenda Nawacita, maka kita wajib pertanyakan, setahun setelah dibentuk apa saja kerja para pejabat di kemenkomar dan sumberdaya itu. Apakah sesuai otoritasnya, mereka sudah bekerja maksimal, atau hanya jalan ditempat. Kalau tidak perform dan tidak punya progres yang berarti ya ganti saja, ketimbang jadi beban revolusi.
Daripada mereka didalam tapi menghambat Nawacita, menghambat poros maritim, dan hanya suka bikin seminar. Lebih baik ganti saja.
Sebenarnya gak sulit untuk Rizal mencari informasi tersebut. Berbasis pengalamannya sebagai aktifis, bukan perkara sulit bagi Rizal untuk menggali informasi dari bawah di kementeriannya. Tanya saja pada karyawan disana bagaimana perilaku pejabat atasan mereka. Kalau jujur, pasti Rizal gemes mendengarnya.

Redaksi :
Sudah pernah sampaikan ini kepada Rizal Ramli langsung ?

Irwan :
Belum. Kami suatu saat akan berkunjung menghadap ke Kemenkomar dan Sumberdaya, bertemu dengan pak menteri dan menyampaikan semua temuan dan informasi kepada beliau. Tapi sebagai organisasi yang berpegang kepada nilai-nilai agenda Nawacita, maka Garda Nawacita akan meneriakkan semua pemegang kuasa kebijakan agar tidak mengingkari Nawacita dalam bekerja. Koreksi dan kritik adalah cara efektif mengontrol para pejabat. Ini semua agar kita tidak gaduh, tapi malah kehilangan substansi. Rizal Ramli jangan asik mengkoreksi menteri dan pejabat lain, tapi hilang taring kalau menertibkan barisannya sendiri. Jangan semut diseberang lautan tampak, gajah dipelupuk mata tak tampak. (red).

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply