Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » Maritim Seharusnya jadi Potensi Belitung Timur, Bukan Pertambangan

Pemuda Maritim - Belitung Timur (Beltim) yang terkenal sebagai daerah penghasil timah terbesar di Indonesia itu ternyata memiliki banyak potensi maritim. Hal tersebut sebagaimana disampaikan oleh Sekjen DPP Garda Nawacita, Akhrom Saleh kepada Jurnal Maritim, Sabtu (31/10) lalu. Menurutnya, potensi Alam di Belitung Timur bukan hanya pertambangan saja melainkan hasil lautnya jauh lebih menguntungkan nilai ekonomisnya.

“Hasil Laut dapat dimaksimalkan sebagai penggerak ekonomi Belitung Timur kelak. Selayaknya Pemerintah Daerah Beltim khususnya Bupati sebagai pengambil keputusan dapat melestarikan alam,” ujar Akhrom.

Lebih lanjut, dirinya mengutip pernyataan founding fathers NKRI, Bung Karno yang menyerukan rakyatnya untuk mencintai lingkungan.”Ingat bahwa Bung Karno saja mencintai lingkungan, bukan alam yang dijual dan hanya akan merusak lingkungan secara permanen,” tandasnya.

Daerah yang banyak dikenal orang melalui film Layar Lebar “Laskar Pelangi” besutan sutradara Mira Lesmana dan Riri Riza itu seakan menjadikan timah yang dikelola oleh PT Timah, menjadi icon Beltim. Padahal di sisi lain film tersebut juga menonjolkan keindahan pantai Beltim tempat dicetuskannya Laskar Pelangi oleh Sang Guru, Ibu Muslimah.

Masih kata Akhrom, bahwa potensi pariwisata kemaritiman Beltim sejatinya lebih disesuaikan dengan corak dan geografis Beltim yang didominasi oleh lautan.

“Belitung Timur kaya akan sumber daya alamnya, Beltim memiliki lada, sawit dan tambang timah. Begitu juga potensi pariwisata kemaritimannya apalagi mengingat sebagian besar wilayah Belitung adalah laut, ini artinya laut sebagai potensi masa depan Indonesia khususnya Beltim,” terangnya.

Sambungnya, “jika potensi itu tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal maka Beltim bisa tertinggal dari kabupaten-kabupaten yang ada di Babel. Sebaliknya potensi alam dalam hal ini pertambangan bukanlah lagi skala prioritas namun yang diutamakan itu seharusnya adalah perkebunan dan pariwisata”.

Akhrom berkeyakinan jika potensi ini dikembangkan maka akan dapat memajukan ekonomi masyarakat dalam jangka panjang. Berbeda jika pertambangan yang diutamakan, justru banyak hal negatif yang didapat. “Bukan keuntungan yang didapat malah kehancuran lingkungan, bahkan lebih dari itu pertambangan juga membawa ketidak mandirian pemerintah dalam mengelola potensi alamnya,” selorohnya.

Hal itu dikarenakan mengelola pertambangan sangat mudah jika hanya bermodalkan ijin yang dikeluarkan. Akan tetapi tambang semakin hari semakin habis dan tidak dapat diperbaharui. Sedangkan, jika potensi perkebunan dan pariwisata yang digalakkan maka hal itu sebagai program jangka panjang pemerintah dalam memajukkan ekonomi kerakyataannya.

Akhrom pun mengkaitkan program itu dengan program Pemerintah Pusat dalam merealisasikan potensi kemaritiman dalam perwujudan poros maritim dunia.  “Coba kita lihat program kemaritiman Jokowi untuk memaksimalkan hasil laut patut diapresiasi dan direalisasikan. Begitulah kiranya sebagai Kepala Daerah seharusnya dapat mengaplikasikan program Pemerintah Pusat, yang tentunya hasil laut sampai kapan pun jua tak akan pernah habis,” tegasnya.

Di akhir penyampaiannya, Ia berharap bahwa kemaritiman yang di dalamnya terkandung banyak hal yang dapat diandalkan sebagai Basic ekonomi Belitung Timur menjadi fokus Pemerintah Daerah. Dan tidak lagi fokus di pertambangan yang memiliki keterbatasan hasil, paling lama sekitar 5-10 tahun kemudian akan habis.

“Pertambangan bukan lagi hal yang utama sebagai penggerak ekonomi, malah sebaliknya tambang hanya merusak lingkungan, perekonomian masyarakat pun akhirnya hanya bersifat sementara. Oleh karena itu sudah saatnya beralih ke maritim,” ujar Akhrom menutup percakapan.
Sumber : jurnalmaritim.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply