Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » PELABUHAN YANG KUAT SYARAT MUTLAK KESIAPAN INDONESIA DALAM ASEAN PORT CONNECTIVTY (ASP) DAN MEA

PemudaMaritim-Konektivitas Pelabuhan ASEAN dan MEA adalah sebuah matarantai yang utuh dan tidak terpisahkan. Karena pelabuhan adalah instrumen utama dalam berjalannya tata kelola pelayaran niaga yang juga berarti menjadi salahsatu faktor penentu dalam kesiapan Indonesia dalam menghadapi MEA. Untuk itu, kuatnya sistem, infrastruktur dan kepemimpinan di pelabuhan-pelabuhan yang dimiliki Indonesia menjadi parameter penting dalam mengukur kesiapan kita.
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum GARDA NAWACITA, Irwan Suhanto diselah-selah acara Seminar Nasional dan Program Ilmiah Mahasiswa bertema “KEDAULATAN MARITIM INDONESIA DIHADAPAN MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA)” yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FPIK Universitas Diponegoro, Semarang, Minggu 8 November 2015.
Menurut Irwan, mustahil kita mampu menghadapi MEA, mustahil kita mampu menjalankan Konektivitas Pelabuhan ASEAN, dan omong kosong kita bicara kedaulatan maritim serta berjalannya Program Tol Laut, apabila kita tidak segera membangun sistem, infrastruktur dan kepemimpinan yang kuat di semua pelabuhan di Indonesia. Otoritas pelabuhan menjadi tulang punggung dalam pertarungan tersebut.
Berikut wawancara lengkapnya :

Redaksi :
Kenapa pelabuhan yang menjadi garda terdepan dalam Program Tol Laut dan MEA ?

Irwan :
Apabila kita melihat skenario Tol laut, maka disainnya adalah sebuah sistem pelayaran niaga yang sustainable berbasis pelabuhan ke pelabuhan (port to port). Tol itu analoginya “lancar”, lancar sehingga tidak ada lagi sistem dan prosedur kepelabuhanan yang rumit dan praktik pungli, lancar sehingga siapapun yang ingin berniaga di laut di Indonesia tidak khawatir akan adanya gangguan keamanan di laut. Melihat hal tersebut, maka kita harus jujur untuk mau menempatkan pelabuhan sebagai garda terdepan.
Kaitannya dengan MEA adalah dikarenakan pelayaran niaga adalah kegiatan berekonomi. Indonesia tidak akan mampu menghadapi MEA apabila tata kelola pelayaran niaga kita amburadul, pelabuhan-pelabuhannya lemah dan tidak perform. Asean Port Association (APA) membangun Asean Port Connectivity/APC (Konektivitas Pelabuhan Asean) khan bukan tanpa maksud. Di ASP kita bisa membuat parameter dan komparasi yang objektif tentang kondisi kepelabuhanan kita dibanding negara-negara Asean lainnya. Untuk itu dukungan dari dalam negeri amat dibutuhkan.

Redaksi :
ASP juga membuka kesempatan untuk saling mentransfer ilmu dan informasi antara pelabuhan-pelabuhan negara Asean, bagaimana menurut anda ?

Irwan :
Ya, itu betul. Tapi yang harus kita ingat adalah bahwa pada ujungnya, kita harus menempatkan negara lain sebagai pesaing, bukan sekedar partner, apalagi tempat menimba ilmu. Kita bisa belajar dan menggali informasi di APC, tapi kita juga harus siap bertarung dengan rekan sesama APA dalam konteks kesiapan menghadapi MEA. Jangan berharap kita akan dibantu terus. Kalau kita tidak segera mempersiapkan diri maka kita akan digilas.

Redaksi :
Negara-negara Asean anda tempatkan sebagai partner sekaligus kompetitor ?

Irwan :
Jelas. Karena pada praktiknya khan memang seperti itu. Jangan takut untuk bertarung, kita harus bantu pelabuhan-pelabuhan kita agar dapat mempersiapkan diri menghadapi pertarungan itu. Jangan malah diobok-obok dan diperlemah.
Redaksi :
Anda melihat upaya pelemahan terhadap pelabuhan kita ?

Irwan :
Ya, sangat terang terlihat. Coba anda perhatikan isu kegaduhan di Pelindo II. Sampai muncul pansus dan bahkan Menko Maritim ikut ‘gebukin’ direktur utama Pelindo II. Padahal kalau kita urut secara objektif dan terbuka, substansi permasalahan yang disampaikan tidak jelas. Permasalahan tersebut lalu ditarik-tarik kedalam ranah politik. Anda bayangkan sudah berapa besar energi Pelindo II terkuras menghadapi serangan-serangan politik tersebut. Padahal seharusnya Pelindo II justru mempersiapkan diri di APC dan MEA.
Kalau permasalahannya adalah masalah hukum, maka biarkan proses hukum berjalan secara normal. Kalau tidak suka pimpinan Pelindo II ya kirim saja surat ke Presiden untuk menggantinya. Untuk apa membuat keramaian yang tidak perlu dan menguras energi yang tidak perlu ?
Pernah tidak terpikirkan bahwa apabila kita terjerembab kedalam konflik panjang maka Pelindo II akan gagap bahkan kalah dalam pertarungan antar pelabuhan di Asean, pernah tidak kita pikirkan hal tersebut akan berpengaruh bagi kekuatan pelabuhan kita menghadapi MEA. Kalau Pelindo II berantakan, maka yang untung kompetitor kita sesama negara Asean, bisa Singapura, Malaysia atau bahkan negara lain.
Saya curiga jangan-jangan ini memang disetting sedemikian rupa sehingga Pelindo II tidak perform, lalu kita dipaksa bergantung kepada pelabuhan asing, pelabuhan negara lain, dalam hal ini pelabuhan negara Asean lain. Ini memang pendapat yang konspiratif, tapi dalam bisnis barbar di era liberalisme seperti sekarang bukankah praktik saling memakan menjadi perkara lumrah ?

Redaksi :
Analisa anda masuk akal. Apa bahaya terbesar sesungguhnya yang ditakutkan negara lain apabila pelabuhan-pelabuhan kita kuat dan perform ?

Irwan :
Simple saja. Anda tau, bila pelabuhan kita kuat dan program Tol Laut berjalan maksimal maka akan tercipta distribusi barang yang merata dan harga barang yang sama diseluruh pelosok Indonesia, dikarenakan kita berhasil merubah karakteristik kawasan timur dari kawasan konsumen menjadi kawasan produsen. Faktor ikutan berupa pembangunan infrastruktur dan industri di timur Indonesia akan memperkuat basis ekonomi, tentu saja itu akan terkonversi menjadi menguatnya daya ekonomi negara. Kalau ini tercapai, maka menghadapi MEA bukanlah masalah.

Redaksi :
Begitu sederhana ?

Irwan :
Memang harus sederhana, yang suka memperumit khan justru pengambil kebijakan kita sendiri. Yang gemar menciptakan hantu-hantu bahwa kita gak siap menghadapi MEA juga pemimpin-pemimpin kita sendiri. Kita siap kok dan sikap-sikap optimistik itu harus kita bangkitkan dimana-mana di republik ini.

Redaksi :
Kembali ke persoalan Pelindo II, anda yakin RJ. Lino (Dirut Pelindo II) adalah salahsatu figur yang cukup kuat menjadi salahsatu panglima dalam ‘pertarungan’ di APC dan MEA ?

Irwan :
Biarkan Presiden Jokowi yang menilai. Jangan semua orang merasa berhak menilai Lino. Mengukur seorang pejabat publik khan ukurannya terang benderang, tidak bisa subjektif. Kumpulkan saja prestasi Lino, lalu kumpulkan juga kekurangannya. Kenapa kekurangan tersebut hadir, siapa yang bertanggungjawab. Buka semua fakta, siapa saja yang terlibat dalam bisnis berkaitan dengan Pelindo II selama Lino memimpin.
Kalau buat saya, apabila diperkenankan berpendapat, maka saya akan katakan Lino cukup layak menghadapi APC dan MEA.

Redaksi :
Ada catatan lain ?

Irwan :
Nah, ini penting. Saya melihat Badan Intelijen Negara (BIN) masih terkesan ‘kering’ menghadapi persoalan-persoalan ini. Saya khawatir BIN tergagap-gagap didalam APC, juga terkaget-kaget menyikapi pertarungan MEA. Dalam permasalahan Lino saja, saya pikir apabila BIN segera membentuk biro khusus bidang maritim, maka BIN bisa memasok data akurat tentang silang sengketa tersebut. Kalau jujur dan objektif, saya yakin para penggebuk Lino akan tiarap karena Presiden bisa segera menghentikan manuver mereka berdasarkan data akurat dari BIN.
Yang memuakkan adalah para penggebuk Lino ini asik saja menghantami Lino seakan-akan tidak ada orang yang tahu dan punya kemampuan menyisir apa motivasi mereka, bisnis siapa yang mereka sedang lindungi, konsesi-konsesi bisnis apa yang mereka sepakati. Kita aja mampu kok menelanjangi mereka, apalagi BIN. Tapi kalau tidak ada spesifikasi khusus maritim, akan sangat berat bagi BIN untuk menggali informasi dan menganalisanya.
BIN adalah lembaga penting bagi negara ini, sudah saatnya BIN melakukan gerakan yang ‘out of the box’. BIN harus segera total masuk kedalam sektor maritim. Apabila APC adalah salahsatu parameter bagi negara-negara Asean dalam menghadapi MEA, maka BIN harus membantu Presiden dan pelabuhan-pelabuhan kita. Memasok info dan analisa yang akurat dan progresif. Tidak bisa ditunda-tunda. (Red.)     


«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply