Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » Nelayan Keluhkan Limbah di Teluk Jakarta

Pemuda Maritim - Sejumlah nelayan tangkap tradisional yang tinggal di kampung nelayan Muara Angke, Jakarta Utara, mengaku khawatir atas limbah yang terus mengalir di Teluk Jakarta. Munculnya limbah, membuat ikan-ikan di pinggir pantai sulit bertahan hidup atau bahkan sebagian sudah mati. Akibatnya, nelayan harus melempar jaringnya lebih jauh ke laut dengan konsekuensi biaya lebih tinggi.

Seperti diungkapkan nelayan tradisional Muara Angke, Fayumi, 56 tahun, beberapa tahun terakhir pencemaran pantai dari aliran sungai ke Teluk Jakarta terus meningkat. “Kalau menjaring di pinggir pantai sudah tidak ada hasilnya, ya harus ke tengah laut utara Jawa baru dapat ikan. Untuk tangkapan dibawah 3 km dari lepas pantai sudah tidak ada ikan lagi, pada mati karena limbah sungai,” ungkapnya, kepada Koran Jakarta,  Rabu (2/12).

Fayumi mengaku, hasil tangkapan ikan di teluk Jakarta beberapa tahun terakhir semakin tak menentu. Seperti sekarang ini, akhir tahun mulai banyak tangkapan hingga pertengahan tahun depan. Namun memasuki September atau Agustus, tangkapkan ikan anjlok.

Nelayan tradisional ini menuturkan, dalam melakukan penangkapan ikan hanya dengan mengandalkan kapal tradisional dibawah bobot mati 2 ton ( dibawah 2 GT). Dengan bekal seadanya, ditemani dengan dua rekannya, dia mengaku saat sekarang mampu menangkap hingga 1 kuintal ikan.

Untuk sekali jalan ke laut, memerlukan bekal seperti lumsum (bekal makanan) dengan BBM jenis solar. Ia perbekalan ini membutuhkan dana sekitar 300 ribu rupiah sekali berlayar. Syukur-syukur mampu menangkap 1 kuintal, yang dijual ke tengkulak kurang lebih 1 juta rupiah.

“Dari hari ini, setelah dikurangi biaya lalu dibagi bertiga bersama temennya. Ya sehari bersihnya sekitar 700 ribu rupiah, dibagi-bagi itu. Itu kalau mampu menangkap 1 kuintal, dan ini tidak pasti tergantung situasi.”

Sementara, nelayan Muara Angke lainnya, Syahrir, 54 tahun, merupakan Kelompok Usaha Bersama Nelayan (KUB) ingin merubah kehidupan tidak hanya menggantungkan hidup dari menangkap ikan walau dirinya merupakan menekuni profesi nelayan turun temurun. “Ya kami ini nelayan, memang tidak ada pilihan, ya kepenginnya tidak terus jadi nelayan kan, kalau ada tawaran lainnya.”

Demikian pula dikatakan Nunung, 55 tahun, nelayan Muara Angke, mencari ikan tidak bisa berada di pinggiran pantai karena sudah keruh.  Bahkan kalau musim sepi, pencarian ikan bisa kea rah barat hingga Sumatra maupun arah timur. “sudah keruh dipingiiran akibat pembuangan limbah,” ujarnya.

Nelayan lainnya, Warnita, 53 tahun mengatakan, nalayan sebenarnya belum ada keluhan yang berarti. Hanya saja, yang dirasakan selama ini adalah peningkatan konsumsi bahan bakar solar untuk melaut. Sedangkan, kematian kemarin hanya siklus tahunan karena suhu yang tinggi sehingga endapan naik.”Terkait hal ini mestinya, ada posko terpadu,” katanya.

Corporate Communication Pluit City, Pramono  mengatakan, sebagai perusahaan yang ditugaskan untuk pengembangan wilayah pesisir pantai pluit, Jakarta utara, terus mengakomodir kepentingan para nelayan tradisional khususnya nelayan Muara Angke. “Kehadiran Pluit City, juga merupakan berkah bagi nelayan, karena mampu bersinergi untuk kesejahteraan bersama.”

Pramono menuturkan, seperti penyerapan tenaga kerja hingga sekarang sudah mencapai 3000 pekerja yang melibatkan masyarakat sekitar Pluit City. Selain itu, dalam proses pembangunan kawasan Pluit City, juga akan terus ditingkatkan penyerapan pekerja bahkan hingga 10-15 ribu pekerja.
Sumber : koran-jakarta.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply