Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » Pelindo II Gelar Diskusi Logistik Maritim

PemudaMaritim-Permasalahan pelabuhan menjadi salah satu fokus pemerintahan saat ini. Pasca diangakatnya visi maritim oleh Presiden, menempatkan pelabuhan menjadi ujung tombak sebagai parameter keberhasilan visi maritim presiden. Menanggapi hal tersebut Pelindo II menginisiasi diskusi ilmiah yang melibatkan para pakar internasional dalam bidang logistik.
Diskusi yang berjudul “Indonesia’s Maritime Logistics Panel Discussion” mengangkat komitmen Pelindo II (IPC) untuk membangun Indonesia. Dihadiri oleh lebih dari 200 peserta dan pembicara yang berasal dari perusahaan ternama dalam bidang logistik anatara lain Bank Dunia, McKinsey & Company dan Drwry Maritime Advisor.
Diskusi panel yang mengangkat empat subtema yakni The Role Of Logistic Infrastructure to Drive Indonesia’s Economy yang dipaparkan langsung oleh Direktur utama IPC, R.J Lino. Selanjutnya Improving Indonesia’s Freight Logistic System, yang merupakan hasil kajian dari bank dunia. Subtema selanjutnya yakni Indonesia Maritime Strategy Reform yang dipaparkan oleh Mc Kinsey & Company. Kemudian terakhir adalah Domestic Container Main Sea Corridor yang disampaikan oleh Drewry Maritime Advisors.
Bank Dunia menyampaikan peran logistik sebagai kunci pembangunan ekonomi dalam suatu negara. Sayangnya sektor logistik Indonesia masih jauh dari efisien. Hal tersebut dapat terlihat dari posisi Indonesia yang berada pada peringkat 53 dari 160 negara berdasarkan survey Bank Dunia tahun 2014. Untuk itu perlu dilakukan langkah strategis untuk meningkatkan kekuatan logistik kemaritiman indonesia.
Langkah yang dapat diambil untuk meningkatkan efisiensi logistik indonesia yakni. Menciptakan angkutan logistik yang efisien dan terintegrasi dengan supply chain (rantai pasok) dan value chain (rantai nilai) global dengan fokus pada usaha pembentukan value (bilai tambah). Logistik angutan barang tersebut akan berperan sebagai penghubung wilayah-wilayah penghasil sumber daya yang sebagian besar berada diluar pulau jawa, dengan pasar serta pusat manufaktur yang saat ini banyak berada dipulau jawa dan sumatera.
Kedepan pusat-pusat produksi tersebut dinilai perlu didistribusikan secara lebih merata. Dalam hal ini untuk dapat meningkatkan nilai tambah produksi domestic di Indonesia, karena dapat berimbas terhadap fariasi harga hingga ke daerah-daerah terpencil.
Beberapa manfaatpun diperoleh dari perbaikan angkutan logistik. Langkah ini dapat mengurangi angka kemiskinan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan menghubungkan sumber-sumber permintaan dan penawaran. Selain itu, hal ini dapat menghindari ketimpangan harga antara wilayah-wilayah diIndonesia yang merupakan dampak buruk dari konektivitas yang tidak optimal.
Mc Kinsey menyampaikan bahwa reformasi tidak cukup hanya dilakukan pada industry pelabuhan, namun juga pada industry pelayaran maupun industri pendukung. Pada tahap awal, reformasi perlu dilakukan secara horizontal pada ketiga sektor tersebut, untuk pada gilirannya hasil reformasi akan dirasakan hasil konkretnya oleh para pengguna jasa, yaitu industry-industri yang dilayaninya sebagai pemilik kargo.
R.J Lino menyampaikan “Diskusi panel hasil kerjasama dengan Bank Dunia, McKinsey dan Drewry ini merupakan bentuk kontribusi IPC untuk mendukung pembangunan kemaritiman Indonesia, khususnya dari sisi logistik”
“Mengingat layanan logistik yang efisien menjadi kunci pembangunan ekonomi suatu negara, khususnya untuk negara kepulauan seperti Indonesia”, pungkas Lino
Ia menambahkan “Diharapkan dengan adanya diskusi panel ini dapat membantu para pemangku kebijakan dan pengambil keputusan dalam mengambil langkah tepat terkait pengembangan logistik dinegara ini”.
Lino juga menyampaikan “program Tol laut bukan sekedar membangun pelabuhan dan menambah armada kapal, namun juga membangun sistem transportasi laut dalam jaringan transportasi laut domestic berjenjang dan holistic.

“Termasuk juga standarisasi fasilitas hingga level of service pelabuhan-pelabuhan hub domestic, keteraturan jadwal dan rute pelayaran, kehandalan jadwal pelayanan untuk menekan inventory coast, simplifikasi dan harmonisasi peraturan kemaritiman, hingga konektivitas pelabuhan dengan wilayah pendukung melalui berbagai moda transportasi. Tentu saja program ini musti diimplementasikan secara bertahap. Komitmen IPC adalah dari Tanjung Priok untuk membangun Indonesia”, tutup Lino

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply