Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » » Satria Patriosiando Pebisnis Kapal Fiber Muda

PemudaMaritim-Satria Patriosiando (32) memilih menggeluti bisnis pembuatan kapal fiber. Pengusaha lulusan Desain Produk Institut Teknologi Bandung (ITB) itu mengaku sempat dihadapkan pilihan sulit ketika baru lulus kuliah pada 2005. Dia harus memilih bekerja di luar negeri atau buka usaha.
"Kini saya merasa beruntung dengan pilihan ini, sekarang bisa menghidupi keluarga, merawat orangtua sekaligus mewujudkan cita-cita ayah membuat kapal," kata Satria saat berbincang dengan Money.id, di kantornya, kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Jumat 18 Desember 2015.
Pada 2005 Satria bersama ayahnya seorang pensiuan PT PAL (Persero) sepakat membuat perusahaan bernama PT SS Boatyard. Perusahaan itu bergerak di bidang pembuatan macam-macam kapal fiber, mulai dari kapal patroli, penumpang hingga barang. Pemesan biasanya dari institusi pemerintahan dan perusahaan swasta.
Di perusahaan tersebut Satria menjabat sebagai Direktur Utama PT SS Boartyard sekaligus pemilik perusahaan tersebut. Produksi pembuatan kapal dilakukan di Jalan Raya Pulau Cangkir KM 2,5, Kronjo, Tangerang, Banten.
Memang belum pernah ada perorangan yang memesan kapal pada Satria, tapi namanya sudah cukup tenar di berbagai instansi pemerintahan, apalagi kementrian. Apabila ada pengadaan kapal, SS Boatyard selalu diberi kesempatan untuk mengikuti lelang.
Harga kapal sangat murah membuat PT SS Boatyard selalu terpilih jadi pemenang tender pengadaan kapal. Pasalnya, kapal produksi mereka disesuaikan keinginan dan keuangan konsumen. Semua komponen 70 persen menggunakan produk lokal, sedangkan 30 persennya terdiri dari mesin, radar dan perangkat elektronik masih impor.
"Saat ini kami sedang membuat satu kapal pesanan Kementrian Kelautan dan Perikanan harganya Rp4,7 miliar, kira-kira Desember sudah selesai, Januari bisa digunakan. Tahun depan kami akan memproduksi 3.500 kapal lagi pemesannya masih dari kementrian yang sama," terang dia.
Modal alakadarnya
Satria menceritakan, membangun perusahaan hingga seperti saat ini tidak mudah, perjalannya sangat panjang. Modal awal digunakan tidak lebih dari Rp150 juta. Uang tersebut hasil pinjaman dari rekannya. "Sampai saat ini uangnya belum saya bayar, kami bagi hasil terus," ucapnya.
Uang tersebut digunakan untuk membeli lahan untuk galangan kapal atau tempat produksi di Tangerang. Awalnya, tempat itu hanya menggunakan tiang bambu dan atap dari terpal. Kata dia, uang Rp150 juta pada 2005 sangat besar, saat itu satu hektar tanah di Tangerang hanya seharga puluhan juta rupiah.
"Setelah punya tempat produksi, saya hanya jualan gambar (desain) ke sana-sini, berharap ada orang percaya dan mau buang duit buat bikin kapal," ujar dia.
Setelah memiliki tempat produksi di Tangerang, Satria menyewa sebuah ruangan kantor di gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Luasnya hanya 3x7 meter.
Selagi menunggu peruntungan mendapatkan pesanan kapal, Satria memanfaatkan keahliannya semasa kuliah, dia menjual berbagai desain, misalnya di Indonetwork. "Tugas saya saat itu hanya meyakinkan orang untuk membeli produk saya. Ternyata orang itu ada," imbuhnya.
Ketika itu PT SSboatyard hanya jadi sub kontraktor dari beberapa galangan kapal besar. Kapal yang dibuatnya bukan kapal miliaran rupiah, mereka hanya memproduksi kapal kecil seharga Rp200 jutaan hingga Rp300 jutaan.
"Untungnya juga sangat kecil, paling 20 persen, belum lagi dipotong biaya lain-lain. Tapi waktu itu punya untung segitu serasa besar," terang dia.
Disepelekan pejabat
Satria mengatakan, mendapatkan kepercayaan dari instansi pemerintahan untuk menjalankan proyek tidak mudah. Awalnya ketika datang mengajukan proposal mengikuti tender kerap dipandang sebelah mata, baik itu pemerintah daerah maupun kementrian. Hanya pengusaha bermodal besar saja yang lolos verifikasi.
"Biasanya mereka lebih percaya orang Tiongkok dan perusahaan besar. Saya sering disepelekan bahkan pernah dimaki pejabat. Tapi saya sabar, itu konsekuensi," ucapnya
Satria mengaku pernah menang tender proyek di salah satu pemerintah daerah. Meski semua pekerjaan sudah dilakukan dengan maksimal tetapi ada saja yang dianggap kurang. Dia terus mendapatkan tekanan, tapi di sisi lain tidak ingin mengecewakan konsumen, akhirnya pria keturunan Sunda-Palembang itu harus rela merugi.
"Saat itu saya rugi Rp1,5 miliar. Jadi sekaya apa pun pengusaha, di hadapan pejabat daerah kami dianggap stratanya lebih rendah dari mereka. Kami dianggap bisa makan kalau ada mereka," keluhnya.
Dia mengatakan, saat ini beberapa pejabat sempat menyepelekannya itu sudah jadi tersangka kasus korupsi. Bahkan ada yang sedang menjalani hukuman. Namun Satrio enggan menyebutkan nama-nama pejabat tersebut.  
Jatuh bangun
Seiring waktu berjalan PT SS Boatyard mulai menjelma jadi perusahaan besar. Beberapa tahun setelah didirikan penghasilannya mulai meningkat, setahun bisa meraup omzet Rp2 miliar. Jumlah tersebut tidak didapat dengan mudah, Satria harus memutar otak untuk terus mengembangkan usaha.
Salah satu strateginya dengan membuat berbagai desain unik dan menarik supaya banyak perusahaan swasta dan instansi pemerintahan yang melirik kapal hasil desainnya. Pasalnya perusahaan dikelola Satria harus bersaing dengan perusahaan pembuatan kapal lainnya yang memiliki modal lebih besar.
Dengan desain kapal yang menarik omzet PT SS Boatyard terus meningkat hingga bisa mencapai Rp4 miliar per tahun, kemudian Rp15 miliar per tahun, dan pada 2012 sampai 2013 mencapai Rp50 miliar per tahun.
"Sebagai orang kreatif saya terus berinovasi supaya beda dengan yang lain, tiap tahun selalu membuat desain baru. Kami menargetkan satu tahun satu desain," ujarnya.
Tetapi menurutnya, mendapat proyek besar tidak mudah. Akibat terlalu banyak produksi akhirnya kualitas tidak terkontrol, sehingga banyak kapal yang hasilnya tidak maksimal, konsumen pun komplain. Kemudian dia berinisiatif menambah orang-orang ahli dengan gaji sangat besar, namun ketika order sepi omzet tidak bisa menutup gaji pegawai.
"Mengurus hal yang besar itu tidak gampang, akhirnya orang-orang ahli itu saya berhentikan, tapi tetap difasilitasi untuk jadi rekanan bisnis. Saya suruh mereka bisnis di bidang ini," terang dia.
sumber: http://www.money.id/

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply