Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » Ada Dilema di Kalangan Nelayan Belawan

Pemuda Maritim - Gebrakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti terhadap berbagai hal di bidang perikanan Indonesia membuat banyak orang terkagum-kagum, tak terkecuali kaum nelayan kecil yang selama ini merasa tertindas oleh nelayan kuat.
Namun di tengah gebrakannya itu ternyata muncul dilema di tengah-tengah warga pesisir yang mayoritas nelayan. Dilema itu muncul setelah Menteri Susi tidak memperpanjang izin operasional kapal ikan berbadan besar yaitu di atas 30 GT.

Di satu sisi larangan ini sangat menguntungkan bagi ribuan nelayan kecil di Belawan. Pasalnya, pasca tidak diperpanjangnya izin kapal ikan di atas 30 GT tersebut, penghasilan nelayan tradisional yang sebelumnya pas-pasan kini meningkat tajam karena wilayah operasional nelayan kecil aman dari terjangan pukat kapal-kapal berbadan besar tersebut. Namun di sisi lain, dengan distopnya perpanjangan izin kapal ikan di atas 30 GT, tercatat ribuan nelayan pekerja atau anak buah kapal (ABK) menjadi pengangguran di Belawan.

Awal (47) dan Ismail (58) dua nelayan tradisional di sentra nelayan kecil Belawan yaitu Lorong Ujung Tanjung Kelurahan Bagandeli Belawan kepada MedanBisnis, pekan lalu, mengakui setelah Menteri Susi tidak memperpanjang izin operasional kapal ikan berukuran 30 GT ke atas, penghasilan nelayan kecil di Belawan mengalami peningkatan. Awal mencontohkan sebelumnya ikan cumi hanya musim sekali dalam setahun, tapi sekarang setiap saat nelayan cumi bisa menangkap cumi karena sudah aman dari terkaman kapal-kapal ikan berbadan besar tersebut.

Nelayan jaring kepiting yang beroperasi hanya seorang diri juga demikian. Jika sebelumnya untuk mendapatkan 5 kg kepiting sangat sulit, namun sekarang nelayan yang hanya bermodalkan Rp 60.000 sekali melaut itu sudah bisa mendapatkan rata-rata 15 kg kepiting. Harga kepiting sekarang Rp 35.000 per kg. Jadi kalau dikali 15 kg penghasilannya Rp 525.000 dipotong biaya operasi Rp 60.000 sama dengan Rp 465.000 sekali melaut.

Menurut Awal, kalau pemerintah nantinya mengeluarkan Permen Kelautan dan Perikanan No 02 tahun 2015 yang melarang beroperasinya pukat hela dan grandong awal tahun ini maka dapat dipastikan penghasilan nelayan tradisional akan semakin membaik.

Saat ini jumlah nelayan kecil di Bagandeli Belawan mencapai belasan ribu orang. Karena dari jumlah penduduk Bagandeli sekitar 13.000, sekitar 90 persen lebih adalah nelayan kecil yang selama ini tertindas oleh kapal-kapal berbadan besar milik pengusaha kuat di Gabion Belawan."Mayoritas warga pesisir Bagandeli Belawan adalah nelayan,"kata Awal yang tokoh nelayan tersebut.

Berbeda dengan nelayan kecil warga Bagandeli Belawan, ribuan nelayan yang bekerja sebagai buruh di ratusan kapal ikan berbadan besar di Gabion Belawan menjadi pengangguran. "Saya sudah 3 bulan menganggur karena kapal ikan tempat saya mencari nafkah tak beroperasi lagi,"kata Suyatno warga Kampung Kurnia Belawan.

Dia mengatakan sejak dihentikannya izin operasional kapal ikan di atas 30 GT, ribuan nelayan buruh menjadi pengangguran."Kami sekarang mocok-mocoklah ke kapal ikan lainnya atau kerja serabutan lain,"akunya.

Sekretaris DPD HNSI Sumut Pendi Pohan membenarkan ribuan nelayan buruh menganggur sejak beberapa bulan terakhir. "Saat ini ada ratusan kapal ikan di Gabion Belawan tak beroperasi karena izinnya tidak bisa diperpanjang sesuai kebijakan Menteri Susi,"katanya.

Menurut Pendi Pohan yang bermukim di pemukiman nelayan kawasan Kampung Kurnia Belawan, kebijakan Menteri Susi tersebut bagus dan diapresiasi karena selama ini kapal - kapal berbadan besar tersebutlah yang dikeluhkan nelayan kecil sebagai perusak habitat laut. "Tapi dari sisi lain berdampak bagi nelayan buruh. Jadi kebijakan itu menjadi dilema bagi nelayan,"katanya.

Pendi mengatakan pihaknya berharap pemerintah jangan mematikan usaha kapal besar yang berdampak bagi nelayan buruh tetapi melakukan penertiban dengan mengatur jalur penangkapan disertai pengawasan sehingga nelayan buruh tetap dapat mencari nafkah.
Sumber : medanbisnisdaily.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply