Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » Aditif PALIVO, Solusi Hemat Solar untuk Nelayan

Pemuda Maritim - Bahan bakar minyak (BBM) Solar adalah  komponen pengeluaran operasional nelayan paling besar. Sekitar 60 persen dari biaya melaut nelayan adalah untuk membeli BBM. Fakta tersebut yang mendorong Gama Indra Bangsawan dan kawan-kawan yang tergabung dalam Inergia Inovassi Nusantara (Inergia) mencari tahu penyebab dan solusi untuk menghemat konsumsi solar. Inergia adalah wadah yang didirikan Gama untuk mengumpulkan teman-temannya sesama inventor (penemu) dalam bidang otomotif dan permesinan. 

Gama dan tim-nya menemukan fakta buruknya kualitas Bahan Bakar Minyak (BBM), khususnya Solar di Indonesia. BBM yang digunakan di Indonesia umumnya memiliki Kadar sulfur dan kontaminan terlarut yang cukup tinggi. Selain itu, angka Oktan atau Cetana lebih rendah daripada dijanjikan serta masih terdapat kandungan kadar air dan kotoran lainnya.

Menurut Gama, kualitas BBM yang rendah menyebabkan pembakaran tidak sempurna di dalam ruang bakar mesin. Akibatnya, kurangnya tenaga mesin yang dihasilkan, menghasilkan emisi gas buang yang beracun, dan mempercepat kerusakan mesin.

“Mesin akan mengkonsumsi lebih banyak solar untuk menghasilkan energi yang sama. Kami melihat ada peluang untuk memperbaiki kualitas solar,” ungkap Gama kepada Jurnal Maritim.

Gama dan Inergia meramu aditif, semacam cairan yang ditambahkan ke bahan bakar minyak (BBM), untuk menyempurnakan pembakaran. PALIVO, nama aditif hasil ramuan Gama ini termasuk jenis aditif Fuel Optimizer. Menggunakan teknologi nano sehingga memiliki sifat autohomogen dan tidak perlu diaduk saat penggunaan. Selain itu bersifat Non Flammable sehingga aman dan mudah dalam distribusi.

Gama mengakui bahwa aditif jenis Fuel Optimizer bukanlah barang baru di dunia otomotif dan permesinan. Karena itu, sebelum meramu Palivo, Gama meneliti berbagai merk aditif yang sudah beredar di pasaran. Menurut temuannya, aditif yang ada umumnya lebih fokus pada peningkatan angka oktan/cetana. Mesin terasa lebih enak tetapi tidak terjadi penghematan konsumsi BBM.  

“Mungkin karena tujuannya untuk racing atau balap, jadi fokus pada kecepatan. Secara jangka panjang akan merusak mesin”. jelas Gama.

Banyak aditif yang mengandung logam seperti Timbal untuk meningkatkan angka oktan atau setana, namun akibatnya emisi gas buang menjadi toksik alias beracun. Ada pula aditif yang mengandung Naftalena (seperti kapur barus) yang hanya baik untuk pemakaian sesaat, tetapi menimbulkan kerak dan endapan karbon. 

Semua informasi yang dikumpulkan di atas menjadi masukan dalam mengembangkan aditif yang mampu meningkatkan kualitas BBM tanpa efek samping yang merugikan, baik bagi mesin maupun lingkungan. Misalnya, PALIVO yang dibuat menggunakan bahan campuran destilasi minyak bumi, bahan organik dan katalisator dalam bentuk solvent yang mudah terintegrasi dengan BBM. 

Selain itu, Gama tidak menggunakan logam dan residu (less ash technology) pada aditifnya, sehingga mengurangi emisi gas buang yang beracun. Untuk memelihara usia mesin, Gama menambahkan komponen Pelumas (deterjen) sehingga dapat mengikat air dan kontaminan BBM di Ruang Bakar dan saluran BBM.
“PALIVO lebih berfungsi sebagai katalis, tidak terbakar namun memperbaiki proses pembakaran. Aditif kami juga sudah lulus tes di Laboratorium Mesin FTUI dan Lemigas pada Juni 2015 ,” ungkap Gama.

Selain untuk kapal Nelayan, PALIVO dapat digunakan untuk semua jenis mesin yang menggunakan BBM jenis solar, mulai dari mobil, truk, alat berat, genset, mesin-mesin industri, dan lain-lain. Jika tertarik mencoba PALIVO atau ingin bertanya lebih lanjut, anda bisa menghubungi PT INERGIA INOVASSI NUSANTARA, Ruko Blok RB No. 5 BSD City Sektor I.3  Jl. Anggrek Loka Raya Tangerang Selatan Banten, Telp. +62 21-538 1980 Fax +62 21-538 1981. 

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply