Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » Bertemu Presiden Joko Widodo, Relawan Desak Realisasi Nawacita dan Poros Maritim Dunia

Pemuda Maritim -  Pertemuan Presiden Joko Widodo dengan relawan pendukungnya dilakukan mendadak pada tanggal 7 Januari 2015 lalu di Istana Negara pada acara makan siang. Pertemuan yang dihadiri 30 orang dari 15 elemen organisasi seperti Seknas JOKOWI, KA-PT, Projo, Almisbat, BaraJP, Duta Jokowi, RPJB, Kornas, Pospera, KIB, PIR dan lainnya, banyak membicarakan pencapaian program pemerintah dan yang menjadi tugas presiden ke depan.

Di antaranya realisiasi visi poros maritim dunia dan Nawacita yang menjadi roadmap pemerintahan Jokowi-JK. Menurut Sekjen Seknas JOKOWI, Osmar Tanjung, banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan presiden dalam sisa pemerintahannya. Seperti Infrastruktur untuk lima tahun ke depan dalam menghadapi era pasar bebas menjadi concern utama Jokowi-JK.

“Listrik, jalan, perumahan, maupun program kesejahteraan harus dijalankan sebagaimana Nawacita yang sudah menjadi dokumen politik Jokowi-JK. Ini zaman kompetisi, kita harus menghadapinya dan untuk itu jangan takut,” kata presiden seperti yang disampaikan Osmar kepada Jurnal Maritim.

Osmar juga menyampaikan bahwa presiden sangat memahami karakter masyarakat Indonesia. “Sebagai bangsa yang biasa berjuang, Presiden Jokowi yakin kita dapat menghadapi tantangan pasar bebas,” terangnya.

Osmar Tanjung, yang juga Pengurus Komite Penyelamat Nawacita (KPN) menambahkan presiden ada menyinggung soal kinerja menteri-menteri dengan memberikan kisi-kisi yakni banyak menteri yang sudah diberikan buku nawacita, namun belum sepenuhnya menjalankan program pemerintahan berdasarkan nawacita.

“Banyak menteri yang masih takut mengambil tindakan di kementeriannya walau pemerintahan sudah berjalan 1tahun 3 bulan. Jadi, mana yang sesuai nawacita dan mana yang tidak sesuai nawacita silahkan monitoring dan berikan laporan ke presiden,” tegas Jokowi seperti yang dikemukakan oleh Osmar.

Osmar menambahkan, ada menteri yang tidak berprestasi, yang nyaris tanpa progres, kurang berani melawan pemburu rente akan dipertimbangkan untuk diganti. Kegaduhan yang terjadi selama ini adalah sebuah proses pendidikan politik.

“Di era keterbukaan saat ini, kegaduhan “papa minta saham”, soal kereta cepat, soal listrik 35.000 megawatt, soal infrastruktur, “papa dan mama minta pelabuhan” dan sebagainya, anggap saja sebagai pendidikan politik kelas terbuka dan gratis,” seloroh Osmar.

“Masyarakat semakin faham apa dan siapa yang dimaksud pengusaha yang juga penguasa (pengpeng-red), siapa saja mafia-mafia yang selama ini menggerus kekayan negara dan sumber daya alam Indonesia, bagaimana buruknya reformasi birokrasi, bahkan masyarakat semakin tahu karena cukup telanjangnya berita perang antar geng,” tambah Osmar.

Menurut Osmar, dengan tegas Jokowi menyatakan bahwa reshuffle urusan saya, itu prinsip! Presiden tidak mau didikte oleh siapa saja karena reshuffle merupakan hak prerogatif presiden. Silahkan yang lain minggir dulu. Kepada yang hadir pada pertemuan itu, presiden mengatakan silahkan dan disegerakan memantau semua program dan proyek kementerian, yang mana sesuai nawacita dan yang mana tidak melaksanakan nawacita.

Dalam pertemuan itu, Osmar pun sempat memberanikan diri untuk bicara kepada presiden mengenai kinerja menteri yang sudah lebih dari setahun.

“Setahun kok masih CNN (Cuma nengok-nengok-red) tanpa berani ambil tindakan dan keputusan, pecat saja mentrinya pak presiden,” pungkas Osmar dengan penuh rasa hormat kepada Presiden Jokowi.
Sumber : jurnalmaritim.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply