Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » Blok Masela: Tarik Ulur FLNG versus OLNG Masih Berlanjut

 Pemuda Maritim - Tenaga Ahli Bidang Energi di Kemenko Maritim dan Sumber Daya, Dr. Haposan Napitupulu merespon penyataan Faisal Basri tentang pengembangan Blok Masela. Haposan menjelaskan bahwa desakan opsi pengembangan di darat (onshore LNG) semata-mata karena opsi ini lebih menguntungkan Indonesia ketimbang Floating LNG Plant.

Sebelumnya, Faisal Basri menyindir sikap Menteri Koordinator (Menko) bidang Maritim Rizal Ramli terkait pengembangan kilang di Blok Masela, Maluku. Menurut Mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas ini, desakan opsi darat oleh Rizal Ramli telah membuat gaduh dan menciptakan ketidakpastian bagi investor.

Faisal menampik soal nasionalisme dikaitkan dalam pemilihan onshore atau offshore. Menurutnya, tarik-ulur opsi onshore atau floating (offshore) karena adanya kepentingan. Bahkan, ekonom UI ini secara terang-terangan meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk ‘menertibkan’ Rizal Ramli.

Lebih lanjut, Faisal berharap Presiden Joko Widodo memperoleh informasi yang cukup sebelum memutuskan skenario mana yang dipilih. Berdasarkan informasi yang diperoleh Jurnal Maritim, Presiden dalam waktu dekat akan memanggil pihak Inpex, inc sebagai kontraktor pengelola Blok Masela.

Onshore LNG di Pulau Selaru

Dalam keterangan pers yang diterima Redaksi pada Minggu sore (24/1), Haposan menjelaskan mengapa biaya skenario kilang Onshore LNG (Darat) lebih murah, yaitu karena panjang pipa yang akan dibangun (dari Blok Masela ke Pulau Selaru) adalah 90 km. Sebelumnya, skenario onshore dikabarkan memilih Pulau Aru yang berjarak 600 km dari Blok Masela.

Pulau Selaru berada di sebelah selatan dari Pulau Yamdena dan merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Maluku Tenggara Barat, provinsi Maluku. Luas wilayah daratan pulau ini adalah 353.87 km² atau sekitar 35 ribu Hektar.

Mengenai adanya palung laut dengan kedalaman 1000 meter, Haposan mengatakan bahwa kini sudah pipa khusus yang mampu menahan tekanan pada kedalaman ribuan meter, dan fleksible untuk menahan arus dasar laut serta pergerakan dasar laut.

Lebih lanjut, Haposan menyampaikan sejumlah alasan mengapa pihaknya ngotot memilih skenario kilang LNG Darat (onshore). Menurutnya, investasi dan biaya operasi Onshore yang lebih rendah daripada Floating.

Mengacu kepada biaya Floating LNG Laut di Prelude, Australia, maka perkiraan biaya pembangunan skenario Floating LNG Plant untuk Blok Masela sekitar USD 23 – 26 milyar. Sedangkan perkiraan biaya jika Onshore LNG, Haposan mengacu pada biaya pembangunan 16 Kilang LNG darat yang telah terbangun di Indonesia dan 1 Kilang LNG Tangguh Train 3 yang masih tahap perencanaan sebesar USD 16 milyar (termasuk biaya pembangunan jalur pipa laut USD 1,2 milyar dan biaya pembangunan FPSO sekitar USD 2 milyar).

Sehingga, secara ke-ekonomian, Haposan menilaii skenario Floating LNG akan lebih mahal, yang akan berakibat besarnya cost recovery. Dampakny adalah semakin berkurangnya pendapatan bagian negara. Selain itu, di darat lebih fleksible dimana gas alam dapat diproses menjadi LNG dan sekaligus menjadi bahan baku untuk industri petrokimia. Seperti halnya di Bontang, Kalimantan Timur.

Dengan membangun industri petrokimia, pendapatan dari blok Masela tidak seluruhnya terpengaruh oleh fluktuasi harga minyak dunia. Gas yang dipakai untuk industri Petrokimia sudah menjadi produk petrokimia yang dapat dijual dengan harga tetap dengan eskalasi tahunan.

Haposan mengingatkan, dengan harga minyak mentah yang mencapai kurang dari US$ 30/bbl seperti saat ini, skenario Floating LNG akan menyebabkan hampir seluruh pendapatan negara tersedot untuk membayar cost recovery.

Untuk menunjang perkembangan wilayah sekitar Blok Masela, terutama dalam pemenuhan kebutuhan energi, LNG (gas alam cair) dapat didistribusikan dengan menggunakan small LNG Carrier.

“Dengan teknologi Small LNG, keekonomian atau efisiensi distribusi dapat tercapai sehingga harga gas di titik serah masih dapat terjangkau,” imbuh Haposan.

Skenario Onshore LNG yang dikombinasikan dengan industri petrokimia, akan memberikan nilai tambah dan penyediaan lapangan kerja yang jauh lebih tinggi daripada skenario Floating LNG. Haposan menyebutkan, belajar dari pengalaman Australia, akan ada 7000 lebih tenaga kerja akan sia-sia jika memilih Floating LNG Plant. 
Sumber : jurnalmariitm.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply