Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » Jalan Tol Trans-Sumatera Dinilai Tidak Mendukung Tol Laut

Rencana Pemerintah meneruskan pembangunan jalan tol Trans-Sumatera (JTTS) sepanjang lebih dari 2.000 km mendapat kritikan dari kalangan akademik, karena dianggap tidak sesuai dengan konsep Tol Laut.

Menurut Ekonom Faisal Basri, MA, proyek jalan Tol Trans-Sumatera merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proyek Jembatan Selat Sunda (JSS). Keduanya tercantum di dalam dokumen MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Indonesia).

Dalam blog pribadinya, mantan Dekan Fakultas Ekonomi UI (FEUI) ini menilai proyek JTTS selain tidak layak secara finansial, juga hanya akan memperkokoh dominasi transportasi darat yang bertentangan dengan gagasan Tol Laut yang merupakan program andalan Presiden.

Menurut Faisal, JTTS akan dibangun di pantai timur Sumatera, sementara sudah ada Trans-Sumatera Highway. Oleh karena itu, menurut Faisal, pemerintah sebaiknya fokus saja pada perbaikan beberapa ruas Trans-Sumatera Highwa yang kondisinya buruk.

Jalan Trans-Sumatera non-tol yang sudah ada itu telah membelah Utara-Selatan Sumatera. Sehingga, jika pemerintah ingin membuka isolasi beberapa daerah di Sumatera, maka pilihannya adalah membangun jalur Barat-Timur, sehingga membuka akses ke pelabuhan-pelabuhan di pesisir barat dan timur Sumatera.

Secara terpisah, Dekan Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS, Daniel M Rosyid, Phd, berpendapat senada. Menurut Daniel, Pemerintah semestinya mengutamakan railway double track di Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi. Kota dan kawasan produksi di Pulau Sumatera dapat dihubungkan ke pelabuhan-pelabuhan di Timur dan Barat pulau tersebut, baik dengan jalur kereta, jalan ataupun angkutan sungai. Selanjutnya, jika sudah di pelabuhan, akan masuk dalam sistem transportasi Tol Laut.

“Jalan tol hanya menguntungkan industri mobil Jepang. Mobil dan sepeda motor kini sedang membunuh kota-kota Indonesia”. kata Daniel kepada Redaksi (18/1).

Daniel menambahkan bahwa diperlukan revitalisasi angkutan sungai. Angkutan sungai mensyaratkan perbaikan daerah tangkapan hujan di hulu. Reforestasi hulu akan memperbaiki debit sungai sepanjang tahun untuk menunjang angkutan sungai di Sumatra, dan Kalimantan serta Papua.
Sumber : jurnalmaritim.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply