Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » LNG Shipping, Opsi Distribusi Gas Alam Paling Tepat untuk Papua


Pemuda Maritim -  Indonesia diprediksi mengalami defisit gas alam mulai tahun 2019 dan LNG Shipping adalah strategi yang tepat mendukung percepatan pembangunan di kawasan timur Indonesia. Demikian dua poin penting dalam kajian awal tahun dari IMES (Indonesia Maritime and Energy Society) yang diterima Redaksi (4/1/2016).

Adhi Prastowo Direktur Eksekutif IMES mengatakan, jika melihat data Neraca Gas terakhir yang dirilis Kementerian ESDM, kebutuhan gas alam Indonesia dalam lima tahun ke depan diperkirakan mencapai 8,679 MMSCFD alias 1,2 kali dari kebutuhan saat ini. Sebesar 44% dari kebutuhan gas domestik adalah untuk sektor industri, listrik dan pupuk.

Dari sisi suplai, cadangan gas yang dimiliki Indonesia adalah sebesar 149,30 TSCF, dengan 100,26 TSCF cadangan terbukti dan 49,04 TSCF cadangan potensial. Tidak semua dari cadangan terbukti siap ‘on stream’ pada tahun 2019 karena masih dalam tahap pengembangan. Potensi gas alam non-konvensional seperti CBM (Coal Bed Methane) sebesar 453.30 TCF dan Shale Gas sebesar 574 TCF masih dalam tahap eksplorasi sehingga belum bisa diharapkan menutup ancaman defisit gas dalam beberapa tahun ke depan.

Selain itu, produksi gas pada sumur-sumur lama menurun secara alami. Pasokan gas dari Blok Masela yang ‘on stream’ pada 2024 tidak mampu menutupi celah defisit akibat pertumbuhan kebutuhan dan menurunnya produksi gas.

“Jika pertumbuhan demand tidak berubah secara signifikan, misalnya karena perlambatan ekonomi, maka Indonesia akan alami defisit gas alam. Pilihannya adalah impor atau menggunakan sumber energi lain”, ujar Adhi kepada Jurnal Maritim.

Selain soal defisit pasokan, IMES juga menyoroti tentang Infrastruktur distribusi gas. Tantangan distribusi gas alam di Indonesia adalah lokasi sumber dan cadangan yang di sebelah timur Indonesia, sementara ‘demand’ berada di wilayah barat Indonesia.

Proyek listrik 35 GW yang dicanangkan pemerintah cukup untuk menjadi ‘anchor buyer’ gas alam di kawasan timur. Proyeksi kebutuhan gas alam sebagai pembangkit listrik di kawasan timur adalah Sulawesi (147 MMSCFD, 1830 MW), NTT (38 MMSCFD, 450 MW) dan Maluku-Papua (50 MMSCFD, 440 MW). Masih timpang dibandingkan ‘demand’ gas alam di Pulau Jawa yang sebesar (423 MMSCFD, 6.754 MW) dan Sumatera (267 MMSCFD, 2.867 MW).

Perubahan paradigma dari ‘energy follow the people’ menjadi ‘people follow the energy’ perlu diperkuat dengan sejumlah kebijakan yang mampu meningkatkan pertumbuhan Industri di kawasan timur Indonesia. Kebijakan menggeser industri ke sebelah timur harus dibarengi komitmen terhadap penggunaan energi yang bersih, terutama di sektor pembangkit listrik dan transportasi. Data Kementerian ESDM dan PLN menunjukkan ada kebutuhan sebesar 48-50 MMSCFD di Maluku dan Papua. Volume tersebut untuk memenuhi kebutuhan 21 unit PLTMG dengan total daya sebesar 440 MW.

Tekad Presiden Joko Widodo untuk membangun kawasan timur khususnya Papua dan Maluku adalah wujud perubahan paradigma di atas. Terkait dengan alokasi, IMES menilai pemerintah sudah berada dalam track yang benar jika komit dengan paradigma ‘Energy as the Economic Driver’, dibanding ‘Energy as Commodity’. Kebijakan ini memerlukan revisi skema DMO (Domestic Market Obligation), dan kesiapan Pemerintah untuk tidak bergantung dari penerimaan sektor migas.

“Karena secara total akan terjadi defisit gas alam, maka lebih baik pemerintah memprioritaskan penggunaan gas alam pada wilayah yang terdekat dengan sumber gas tersebut, ini akan menghemat biaya pembangunan infrastruktur distribusinya”, jelas Adhi.

Ditambah lagi, mendistribusikan gas alam di kawasan timur Indonesia, terutama Papua dan Maluku menjadi tantangan tersendiri mengingat belum tersedianya infrastruktur distribusi gas di kawasan tersebut. Untuk mendukung langkah Presiden Joko Widodo di atas, IMES merekomendasikan pemerintah memberi prioritas penggunaan jalur laut untuk mendistribusikan gas alam, terutama dalam bentuk LNG (gas alam cair).

Menurut Adhi Prastowo, LNG Shipping (distribusi gas alam cair melalui laut.Red) adalah metode yang paling realistis untuk kawasan timur, secara teknologi sudah proven dengan waktu realisasi yang lebih cepat dibanding pipa.

Selain itu, gas bisa digunakan sebagai penggerak mesin kapal pengangkut LNG (LNG Carrier). Dengan demikian, Indonesia mengimplementasikan penggunaan energi gas yang bersih pada sektor transportasi laut
Sumber :jurnalmaritim.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply