Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » Nelayan Mentawai Dibohongi Pedagang Hongkong

Pemuda Maritim - Kapal Cheung Kamwing asal Hongkong berbendera Indonesia memanipulasi harga ikan karang jenis kerapu kepada nelayan di Kecamatan Sikakap, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Kapal yang datang tujuh bulan sekali ke Sikakap itu mendadak menjatuhkan harga ikan dengan alasan bobok ikan belum laiak jual, Minggu (17/1/2016).

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Kepulauan Mentawai, Junaidi menjelaskan, tiga hari sebelumnya, pihak kapal dan nelayan sudah sepakat mematok harga ikan kerapu sebesar Rp70 ribu per kilogram dengan bobot minimal tiga kilogram.

Ketika kapal itu datang ke Sikakap, para nelayan budi daya ikan kerapu pun membongkar keramba apungnya dan memanennya dengan bobot per ekor nyarata-rata 3 kg.

"Kapal Hongkong itu kan tidak bisa merapat. Jadi kapalitu buang jangkar di tengah laut tapi tidak jauh dari pemukiman masyarakat Sikakap. Maka semua nelayan budi daya ikan kerapu ini pun membongkar keramba apungnya dan membawa ikannya ke kapal. Bobot ikan itu per ekornya kan memang tiga kg dengan usia sekitar dua tahun," kata Junaidi dalam relis yang diterima kinciakincia.com.

Menurut Junaidi, setelah ikan dibawa ke atas kapal Hongkong tersebut dan kemudian dibongkar, justru pihak kapal tidak mau membeli ikan para nelayan tersebut. Alasannya, ikan tersebut masih berbobot tiga kilogram,sedangkan pihaknya hanya membeli ikan yang berbobot empat kilogram perekornya.

"Kita kecewa dan marah. Sebab kesepakatannya kan memang bobot ikan tiga kilogram per ekornya dengan harga Rp70 ribu. Sekarang malah ikan yang berbobot tiga kilogram tidak mau beli. Mereka beli yang berbobot empat kilogram dengan harga per kilonya Rp60 ribu," jelas Junaidi dengan nada kecewa.

Dalam hal ini, lanjut Junaidi, nelayan dirugikan oleh sikap monopoli dari pihak kapal Hongkong. Sebab ikan yang sudah dibongkar di atas kapal Hongkong tersebut sudah dalam kondisi lemah, dan dipastikan jika dimasukkan kembali dalam keramba juga akan mati.

"Total yang kita bongkar ikan dalam keramba itu sedikitnya lima ton, sedangkan yang mereka siap beli satu ton dengan harga Rp60 ribu per kilogramnya dan bobot empat kilogram per ekornya. Jadi empat ton ikan kerapu milik nelayan budi daya kerapu di Sikakap bakal membusuk karena tidak laku dijual. Sekali lagi, ini ada monopoli harga dan sikap kesewenang-wenangan," tegasnya.

Sementara itu, Yosmeri, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Barat kepada wartawan membenarkan adanya transaksi ikan karapu budi daya nelayan dengan kapal asing berbendera Indonesia. Tapi ia mengatakan, jarang transaksi langsung dilakukan dengan kapal asing.

“Tak lazim dilakukan transaksi langsung dengan kapal asing. Biasanya mereka punya agen di Jakarta. Transaksinya dengan agen,” kata Yosmeri.

Menurutnya, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Barat akan menelusuri hal ini lebih lanjut.

Nelayan Dirugikan

Junaidi menambahkan, selama dua tahun para nelayan memberi makan ikan dalam keramba tersebut sudah menghabiskan uang jutaan rupiah untuk biaya perawatan dan pakannya. Namun tiba saat panen, justru pihak pembeli memonopoli harga.  Dalam hal ini, para nelayan budi daya ikan kerapu di Sikakap sangat dirugikan.

"Kita masih koordinasi kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kepulauan Mentawai untuk mencarikan solusi terhadap empat ton ikan kerapu yang tidak dibeli oleh kapal Hongkong. Sebab empat ton ikan itu bakal membusuk. Hasil bongkar keramba saya sendiri satu ton, sedangkan kapal Hongkong hanya mau membeli 200 kg. Jadi 800 kg tidak mau beli karena bobot ukurannya kurang. Analisa kami, mana ada bobot ikan kerapu kantang dengan usia dua tahun bisa mencapai empat kilogram. Soal ikan kami lebih paham, jadi jangan dimonopoli," kecam Junaidi, yang juga memiliki keramba ikan.

Terpisah, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kepulauan Mentawai, Edi Sukarni menyatakan, bahwa saat ini sedang terjadi aksi monopoli harga ikan di Kecamatan Sikakap, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Sebab sudah ada kesepakatan antara nelayan dan kapal Hongkong terkait harga dan bobot ikan. Namun ketika panen, justru pihak kapal sendiri yang memanipulasi harga.

"Mereka beralasan, kalau di Hongkong ikan lagi murah,apalagi bobotnya tidak sampai empat kilogram per ekornya. Sikap mereka ini tentu tidak sesuai dengan kesepakatan awal kepada para nelayan budi daya ikan kerapu kantang," jelas Edi.

Edi Sukarni mengharapkan, media turut membantu menyoroti masalah monopoli harga ikan di Mentawai yang dilakukan pihak kapal Hongkong tersebut. Diharapkan, adanya solusi yang tepat dan tidak merugikan nelayan.

"Harusnya kapal Hongkong itu kan bisa membantu perekonomian para nelayan budi daya ikan kerapu di Mentawai. Justru yang terjadi malah monopoli. Biasanya yang datang ke lokasi keramba itu agennya, kalau sudah deal, baru dibongkar. Nah sekarang ini, agennya tidak datang, tapi pihak kapal menyuruh nelayan untuk membawa ikannya ke atas kapal untuk dibeli. Ketika di atas kapal, justru hampir empat ton tidak dibeli dengan berbagai alasan," jelas Edi Sukarni.

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply