Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » Nelayan Pro Kapal Isap Diberi Rp 1,3 Juta Perbulan

Pemuda Maritim - Pro kontra aktivitas Kapal Isap Produksi (KIP) membuat masyarakat pesisir terprovokasi.

Badrun Helmi dan dua temannya yang juga nelayan Belinyu ingin mengungkapkan alasan warga mendukung beroperasinya KIP.

Tiga nelayan ini dari kubu pro KIP di perairan Teluk Kelabat. Bukan tanpa alasan mereka memilih bersikap mendukung, karena mereka merasa diuntungkan.

"Kami ingin bicara mengapa kami mendukung.Saat musim paceklik, angin kencang kami tak melaut tetapi kami dapatkan kompensasi dari adanya Kapal Isap," kata Badrun Helmi, seorang nelayan Bagan Tancap Belinyu ketika berbincang di kedai kopi di Pangkalpinang, Minggu (3/1).

Ia berharap sekali kompensasi dari kapal isap mitra PT Timah Tbk bisa dipertahankan.

"Kami beharap sekali masyarakat yang kontra itu dapat mengerti, mengapa kami setuju," katanya.

Ada sekitar 400 kepala keluarga yang mendapatkan dampak ekonomi secara langsung dari kapal isap. Kompensasi itu berupa uang yang dibagikan sebagai bentuk bagi hasil.

"Kami yang terdampak mendapatkan Rp1,3 juta per bulan. Itu tergantung hasil kapal isap itu juga," kata Buyun.

Selain kompensasi, berbagai bantuan diberikan. Mulai dari program CSR (Corporate Social Responsibility), bantuan mesin kepada nelayan, bahkan ada beberapa warga yang diajak bekerja di KIP.

Menurutnya, hampir semua masyarakat pesisir di Tanjung Gudang, Kampung Kapitan dan Romodong yang mendapat kompensasi itu.

"Dengan kondisi ekonomi seperti sekarang ini, kami sangat terbantu. Ada rezeki tambahan untuk keluarga kami," kata Buyun.

Sementara itu Samsul yang hampir separuh umurnya menjadi nelayan pancing di perairan Bangka Utara mengatakan kegiatan penambangan telah berlangsung sejak tahun 1970.

"Kami heranya mengapa menolaknya baru sekarang. Lagi pula yang menolak itu justru dari luar masyarakat pesisir, bahkan ada yang juga penambang di daratan. Paling ada beberapa orang yang dari warga kami," kata Samsul.

Ia mengatakan dengan kondisi saat ini membuat situasi rentan terprovokasi. Padahal masyarakat sebagian besar telah mengerti.

"Teluk Kelabat ini sudah ditambang sejak lama. Di Teluk Kelabat sebelah Bangka Barat kapal isap itu beroperasi, kami tak mendapat apapun. Namun kali ini kebetulan daerah kita yang terdampak, mereka dari KIP ingin memberikan kompensasi," katanya.

Mereka menyadari dampak dari penambangan adalah kerusakan.

"Yang namanya menambang pastilah ada kerusakan, tetapi kami rasa cukup sebanding dengan kompensasi yang kami terima," katanya.

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply