Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » PORMAR-ITS: Blok Masela OLNG atau FLNG, Indonesia Siap

Pemuda Maritim - Sudah puluhan tahun rencana pengembangan dan pengelolaan lapangan gas abadi, Blok Masela diinisiasi, namun sampai sekarang belum ada titik terang kapan akan dimulai. Masalah utama adalah perbedaan konsep teknologi yang akan diterapkan yaitu menggunakan Onshore LNG Plant atau Floating LNG Plant. Pada dasarnya LNG adalah Gas alam untuk kebutuhan energi, bukan sebagai bahan baku industri.

Menurut PORMAR (Pelopor Maritim) ITS dalam rilisnya yang diterima Redaksi, masing-masing konsep teknologi mempunyai keuntungan dan kelemahan, dan memiliki kandungan lokal yang bisa dibilang hampir sama. Hal ini tergantung kebijakan pemerintah pusat dalam membuat PSC Contract dan POA (Principal Of Agreement).

Pemerintah dapat mencantumkan persyaratan seperti mengutamakan penduduk pulau Aru dan sekitarnya sebagai tenaga kerja, membangun downstream industry (pupuk, petrokimia, gas, dan lainnya), termasuk membangun infrastruktur terminal pelabuhan dan bandara jika diperlukan. SKKMIGAS bisa menggunakan PTK 77 untuk memastikan tercapainya TKDN yang optimal.

Secara teknis kedua konsep dapat dilaksanakan dan keduanya memerlukan Logistic Shore Base, kapal penunjang operasi hulu, kapal pengangkut LNG dan fasilitas distribusi LNG. Sebagai contoh, jika LNG Plant dibangun di darat, misalnya, maka operasi di laut masih memerlukan sarana terapung seperti FPSO untuk proses AGRU, Condensate, GLYCOL dan Compressor. Jika FLNG yang dipilih, diperlukan setidaknya 3 Unit Tug Boat 8000 BHP untuk membantu proses STS (Ship To Ship) Transfer.

Peluang kandungan lokal lain adalah pada aspek Hilir, yaitu distribusi LNG. Jika skema DMO belum berubah, maka terdapat 40% LNG produksi Blok Masela yang harus didistribusikan ke beberapa wilayah di dalam negeri. Pada aspek hilir ini, baik OLNG dan FLNG sama memerlukan sarana pengangkut LNG (LNG Carrier), LNG export/receiving Terminal, fasilitas penyimpanan dan Regas hingga sarana pengangkutan di darat. Galangan kapal Indonesia mulai sekarang dapat mempersiapkan fasilitas dan SDM-nya agar memiliki kemampuan membangun kapal pengangkut LNG. Dapat dicapai melalui kerjasama TOT (Transfer of Technology) dengan galangan kapal atau penyedia teknologi perkapalan LN.

Untuk Blok Masela, Onshore ataupun Offshore, semua bisa dan insinyur Indonesia tetap dapat berkarya. Apa yang menjadi prioritas, apakah pemerataan pembangunan, kecepatan realisasi, murahnya investasi, atau apapun adalah wilayah kepemimpinan. Pemimpin harus mengambil sikap. Kerugian terbesar justru karena ketiadaan bersikap, atau terlalu lama mengambil sikap. 
Sumber :jurnalmaritim.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply