Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » » Sejak Ada KIP Nelayan Tak Bisa Melaut di Teluk Kelabat Saat Musim Angin Barat

Pemuda Maritim - Pasalnya keberadaan KIP tersebut membuat kondisi nelayan semakin terjepit saat musim angin barat seperti sekarang ini karena cuaca ekstrem untuk melaut ke laut lepas.

Justru biasa ketika musim angin barat, nelayan menjadikan Kawasan Teluk Kelabat sebagai tempat mereka memancing ikan karena tidak jauh dan bisa berlindung dari angin kencang dan tingginya gelombang saat musim angin barat.

Dengan adanya KIP otomatis mereka sama sekali tidak lagi bisa melaut lagi ketika musim angin barat ini.

"Kapal isap masih jalan, siang malam masih jalan. Inilah sedangkan surat dari gubernur sudah sampai PT Timah Tbk untuk penghentian sementara. Mengapa KIP berjalan terus. Sama sekali tidak menghargai orang nomor satu (gubernur-red) di Bangka ini," sesal Herman, Nelayan Tanjung Gudang Teluk Kelabat Belinyu kepada bangkapos.com, Senin (25/1/2016).

Dampak yang mereka alami sejak masuknya KIP di Kawasan Teluk Kelabat semakin menyulitkan posisi nelayan.

"Kalau musim angin barat kami tidak bisa melaut ke laut luas pada akhir tahun setiap musim angin barat kami melaut di Teluk Kelabat. Itu daerah operasionalnya kapal isap, daerah kami mancing, jaring, macam-macam lah di situ untuk mencari nafkah buat anak istri kami," ungkap Herman.

Apalagi sekarang diakuinya KIP dikawal Lanal Babel. Saat mendekat ke KIP saja, pihaknya sudah diblokir oleh Lanal Babel.

"Tidak bisa kami dekat dengan kapal KIP kami sudah diblokir dari Angkatan Laut, danlanal. Jadi kami tidak bisa masuk ke kapal isap, mengajak berunding atau bagaimana. Makanya kami ke gubernur," jawab Herman.

Dia mengakui dengan tidak bisa melaut saat musim angin barat ini, tentu saja mereka tidak bisa menafkahi keluarga mereka.

"Dari masa operasinya KIP sampai sekarang kami nggak bisa melaut, sudah tercemar. Airnya sudah keruh, banyak lagi terumbu-terumbu karang kita yang hancur ditambah lagi sedimentasinya," sesal Herman.

Dia nilai percuma Pemkab Bangka mendengungkan Kawasan Teluk Wisata sebagai kawasan wisata karena kenyataannya sudah diobrak abrik oleh KIP.

Untuk itu mereka menyuarakan aspirasi ini kepada Gubernur Babel H Rustam Effendi dan meminta agar surat gubernur untuk meminta PT Timah Tbk menghentikan sementara KIP tidak dicabut.

"Kami lagi berada di kantor gubernur. Kami sekitar 40 orang berada diluar. Proses di dalam kami tidak tahu seperti apa karena ada perwakilan kami. Disana ada Pak Samsul Arifin, dari For Nebak, Wahli Pak Ratno Budi. Kami merasa kecewa sekali (tidak bisa masuk ke ruang gubernur-red) padahal kami diundang oleh gubernur pada hari ini," keluh Herman.

Ia menegaskan, tidak mengharapkan kompensasi dari PT Timah Tbk dan mitra kerja mereka. Mereka tidak menginginkan adanya kompensasi yang penting KIP tidak beroperasi di Kawasan Teluk Kelabat.

"Kami tidak ada urusan dengan Teluk Kelabat. Kamu mau mengusir kapal isap agar tidak berada di perairan Teluk Kelabat," tegas Herman.

Menurutnya, pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat seharusnya bisa menjaga Kawasan Teluk Kelabat demi kepentingan generasi yang akan datang.

"Kami ini membuat lapangan kerja sendiri dengan menjadi nelayan. Sebetulnya kami sudah meringankan beban pemerintah," kata Herman.
Para nelayan di Belinyu menyesalkan masih beroperasinya kapal isap produksi (KIP) di Kawasan Teluk Kelabat.
Sumber : tribunnews.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply