Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » Solar Turun Tak Berpengaruh bagi Nelayan

Pemuda Maritim - Kebijakan pemerintah yang menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) premium dari Rp 7.300 per liter menjadi Rp 7.150 dan solar dari Rp 6.700 menjadi Rp 5.950 per liter terhitung Selasa (5/1) tak membuat nelayan di Marelan dan Belawan senang.
Pasalnya, jikapun nelayan melaut dengan harga BBM solar yang baru namun hasil melaut tidak seimbang dengan biaya operasional akibat masih bebasnya kapal pukat harimau (trawl) beroperasi sehingga ratusan nelayan tradisional enggan melaut.

Sejumlah nelayan tradisional yang ditemui MedanBisnis di bantaran Sei Deli Jalan Young Panah Hijau Labuhandeli Kecamatan Medan Marelan, Rabu (6/1), mengatakan, menyambut baik atas kebijakan pemerintah yang menurunkan harga BBM solar yang menjadi bahan pokok dalam beroperasi nelayan dari Rp 6.700 per liter menjadi Rp 5.950 per liter terhitung Selasa (5/1).

Namun demikian, kata Chaidir Ibrahim (75), seorang nelayan senior di Kecamatan Medan Marelan, selama ini nelayan tidak terlalu pusing dengan harga BBM. "Kami hanya meminta agar pemerintah tegas menghentikan operasional pukat hela atau pukat harimau (trawl) yang sangat mematikan mata pencarian nelayan kecil"katanya.

Selama pukat harimau milik pengusaha kuat di Gabion Belawan masih bebas beroperasi, kehidupan nelayan kecil tetap memprihatinkan karena tuasan maupun rumpon di tengah laut sudah rusak dihajar kapal pukat harimau yang beroperasi malam hari.

"Jadi kami minta supaya pemerintah segera menghentikan keberadaan kapal pukat harimau sebelum nelayan turun tangan,"katanya.

Chaidir Ibrahaim yang sudah 41 tahun menjadi nelayan itu mengatakan, ketika Soeharto berkuasa kapal pukat harimau bisa dibasmi melalui Kepres 39 tahun 1980. Ketika itu kehidupan nelayan jauh lebih baik. Tapi setelah itu pukat harimau kembali beroperasi dengan hanya mengganti nama menjadi kapal pukat ikan (PI) dan pukat udang (PU).

Nelayan lainnya Suardi alias Ucok mengatakan, saat ini ratusan nelayan kecil tak melaut karena kerap merugi. Sekali melaut misalnya nelayan mengeluarkan biaya operasional Rp 500.000. Tapi pulang melaut hanya berpenghasilan Rp 200.000. Akibatnya, banyak anak nelayan yang terpaksa putus sekolah karena untuk biaya hidup sehari-hari sajapun sulit.

Suardi dan Chaidir Ibrahim sama-sama mengatakan, kendati ratusan nelayan kecil di Marelan yang terdiri dari nelayan cumi, pukat layang dan pukat langgei sudah menderita akibat sepak terjang kapal pukat harimau, namun organisasi nelayan yang katanya pembela nelayan tak pernah berbuat apa-apa. "Pengurus HNSI hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa pernah peduli terhadap nelayan kecil," katanya.

Sejumlah nelayan kecil di Bagandeli Belawan mengatakan, pukat harimau yang bermarkas di Gabion Belawan telah mematikan mata pencarian nelayan kecil. Meskipun harga solar turun, tapi jika pukat harimau tetap bebas beroperasi maka kehidupan nelayan kecil tetap begitu saja.

Yang paling penting menjadi perhatian pemerintah kata Ruslan Sani (44), nelayan pukat udang di Bagandeli Belawan adalah keberadaan kapal pukat harimau yang baru-baru ini dilarang beroperasi oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti lewat Permen No 2 Tahun 2015. "Itu yang paling penting ketimbang harga BBM solar yang menjadi bahan utama nelayan diturunkan," katanya.

Mereka meminta Pengawasan Sumber Daya Kelaautan dan Perikanan (PSDKP), TNI-AL, Satpolairdasu dan Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) segera trun tangan menghentikan operasional kapal trawl milik pengusaha kuat di Gabion Belawan ysng sudah dilarang beroperasi itu.
Sumber : www.medanbisnisdaily.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply