Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » The New Nation – Kesadaran Identitas Kolektif Masyarakat Komunitas ASEAN

Pemuda Maritim - Serumpun

Yang terpikirkan secara langsung jika disebutkan ASEAN maka yang terdeskripsi adalah organisasi negara-negara serumpun, bisa juga ditambahkan organisasi negara-negara dengan latar belakang yang nyaris serupa yaitu bekas jajahan (kecuali Thailand tentunya), tanpa mengesampingkan jawaban secara geografis berada dalam kawasan yang sama. Keinginan untuk membentuk organisasi yang mengintegrasikan kawasan dengan dimulai pada titik termudah kerjasamanya menunjukkan ada kesungguhan tiap-tiap negara anggotanya.

Walau masih sebatas “paguyuban” masyarakat komunal di tingkat Internasional, tetapi dengan program-program kerjasama yang disepakati dengan maksud menuju kepada pelaksanaan 3 pilar ASEAN, seharusnya negara-negara anggota ASEAN benar-benar memanfaatkan organisasi ini guna memenuhi national interest masing-masing dengan menjadikan ASEAN sebagai le point de strategie (zona kontrol strategi) di kawasan Asia Pasifik.

Salah satu alasan adanya keinginan untuk bekerjasama dan meningkatkan level kerjasama yang melibatkan dua atau lebih negara adalah untuk menembus garis batas negara yang dipagari oleh kedaulatan dalam memenuhi national interest masing-masing negara. Persoalan mendasar yang membuat negara-negara ASEAN tidak dapat secara terbuka dengan integrasi dikarenakan pemakluman pernah dijajah, sehingga ultranasionalisme tiap-tiap negara anggota sangat tinggi dan menyebabkan kerjasama ASEAN sebagai organisasi kawasan masih bersifat bilateral.

Seharusnya, justru kesamaan pernah menderita karena penjajahan itu memicu kesadaran akan persamaan yang tidak terhenti pada perasaan serumpun (baca: Ras Asia Tenggara) saja. Namun melihat perjalanan ASEAN sebagai organisasi negara-negara sekawasan dan serumpun sejak berdirinya hingga saat ini, tampaknya hanya sejurus pada kebutuhan sesaat (formalitas) dan tidak ada upaya serius dalam mengikatnya pada kesamaan identitas yang lebih dalam.

Sejak terjadinya kesepakatan Bali II (Bali Concord II), pada tanggal 7 Oktober 2003, yang ditandatangani para kepala pemerintahan kesepuluh negara anggota dalam acara KTT ASEAN, mendeklarasikan pembentukan suatu Masyarakat ASEAN yang terdiri atas Masyarakat Keamanan ASEAN, Masyarakat Ekonomi ASEAN dan Masyarakat Sosial-Budaya ASEAN.

Harapan akan kesadaran membina perdamaian, menciptakan kesejahteraan dan membangun sebuah identitas regional seperti yang juga pernah disepakati ketika KTT Bali I-27 tahun-sebelum KTT Bali II, seharusnya tidak lagi terhenti pada kertas-kertas perjanjian dan kesepakatan, karena keadaannya saat ini setiap kesepakatan yang dibuat, persinggungannya adalah dengan jejaring komunitas regional tetangga ASEAN. Yang tentu saja kan berdampak langsung kepada kepentingan regional ASEAN dan menghujam kepentingan nasional tiap-tiap negara anggotanya.

Kesadaran ASEAN yang Satu

Banyaknya pihak yang menyesalkan percepatan pelaksanaan ASEAN sebagai sebuah komunitas bersama, bukan karena tidak adanya kesadaran untuk dapat hidup bersama, namun lebih kepada realitas yang tampak secara jelas bahwa persiapan dan kesiapan terutama bagi Indonesia, nol besar. Jangankan bicara persiapan dengan pembangunan fisik apalagi pembangunan manusianya, sosialisasi akan dilaksanakannya ASEAN Economic Community dan dampak terburuk bagi rakyat jika tak mempersiapkan diri, hanya terhenti pada seminar-seminar dan pelatihan-pelatihan yang bersifat elitis. Entah bagaimana negara-negara anggota lain dalam persiapan menghadapinya, namun ada beberapa negara seperti Malaysia dan Singapura tampaknya seolah-olah lebih siap dibanding negara anggota lainnya.

Mengeluh dan menyesal atas apa yang sudah terjadi dari akan dilaksanakannya keterbukaan ini tidak boleh berlarut, yang mungkin dapat dipikirkan adalah justru mencari cara untuk dapat mengarunginya, dan untuk itu diperlukan kerjasama semua negara anggota ASEAN yang saya yakini pun diliputi kecemasan. Langkah awal yang musti dipikirkan secara serius adalah keberlanjutan dari kesadaran sebagai komunitas yang satu dari multikuluturalnya ASEAN. Dengan tradisi panjang akan daya tahan dari manifestasi penetrasi kultural negara-negara anggota ASEAN, maka perumusan akan kesatuan identitas sebagai ASEAN yang satu diyakini akan lebih mudah disepakati.

Kesadaran yang tidak pada tempatnya akhirnya berujung pada ketidakpastian dalam pengejawantahannya, keinginan yang malu-malu dan seolah-olah terpaksa karena kebutuhan yang juga tidak jelas (terbentur pada ego national interest masing-masing negara anggota) menjadikannya tak terjangkau untuk diturunkan pada program-program kerja ASEAN sebagai organisasi global. Sementara pola jejaring Free Trade Area’s di sekitar kawasan secara artifisial makin nyata terlihat. Untuk itu diperlukan inisiatif dalam mengajukan penawaran akan kesepakatan sebagai dasar idiologis dan identitas ASEAN, yang tentu saja akan merubah cara pandang ASEAN (baca:geopolitik dan geostrategis) dalam melihat kediriannya secara internal maupun eksternal. Dengan kata lain membuat kesepakatan akan kesadaran kolektif sebagai ASEAN yang satu.

Identitas Kultur ASEAN

Dalam pandangan Bhikku Parekh, bangsa dengan pluralitas kultur agraris-maritim adalah bangsa yang memiliki penetrasi kultural yang kuat (Parekh, 2010; 37). Hal ini terjadi karena; pertama, karakter kultural-agraris mengidentifikasi dirinya secara otonom sebagai entitas plural yang berbeda namun secara sosial terkoneksi sebagai satuan yang utuh; kedua, pengalaman historis dalam hubungan dengan kerentanan kondisi kehidupan mereka terhadap gangguan, dislokasi, dan eksploitasi; ketiga, memiliki hubungan yang panjang dengan wilayah yang didiaminya; dan keempat, berkeinginan mempertahankan dan selaras dengan lingkungan yang kuat. Kelima, masyarakat agraris-maritim adalah yang telah menghuni sebuah wilayah tertentu, sebelum wilayah itu diserang, ditaklukkan, atau dijajah oleh satu kekuatan asing atau masyarakat lain (Jibriel, 2013).

Jika merujuk pendapat di atas secara hati-hati dan perlahan, tampaknya kita bisa mengidentifikasi negara-negara ASEAN masuk dalam ketegorisasi pemilik kultur agraris-maritim. Dengan tradisi hidup layaknya masyarakat agraris bagi penghuni daratannya, di sepanjang pesisirnya juga masyarakatnya hidup dan berkembang dari aktfitas maritim. Pun dari kategorisasi identifikasi yang lima itu, menunjukkan dengan lengkap identitas negara-negara anggota ASEAN. Mendasari pemikiran dan pandangan inilah sebenarnya ASEAN secara mayoritas berada pada teritorial dengan identifikasi-identifikasi sebagai pemilik kultur agraris-maritim dengan tradisi yang kuat, yang dimiliki semua negara-negara anggota ASEAN.

The New Nation

Sebagai negara yang secara geografis merupakan teritorial utama di kawasan Asia Tenggara dan dengan budaya yang merupakan manifestasi dari identitas kedirian, menuntut Indonesia yang tidak saja cukup sebagai deklarator dan pendiri ASEAN, tapi harus secara aktif dan progresif menentukan arah jelas ASEAN. Dan berdasarkan modal dasar nasional yang dimiliki oleh Indonesia, baik sumber daya alam dan luas wilayah serta posisi geostrategisnya, Indonesia dianggap memiliki beberapa le point chaud (baca: titik panas eskalasi) konstalasi politik internasional (Lacoste:2010).

Sejalan dengan konsep menjadikan Indonesia sebagai “Bumi Antara” yang biasa disingkat Bumantara oleh Sutan Takdir Alisjahbana dalam frame-log studi ilmu geopolitik menyadarkan betapa geostrategis wilayah Indonesia mewajibkan Indonesia sebagai centre of gravity pertemuan arus-arus besar dari Barat ke Timur dan dari Utara ke Selatan.

Sebagai “Bumi Antara”, geostrategis Indonesia mempunyai Nilai bargain yang sangat diperhitungkan dan dapat menjadi pengambil keputusan yang mempengaruhi percaturan politik internasional baik dalam keadaan damai ataupun perang, singkatnya sebagai pengatur kesimbangan kekuatan di kawasan Asia Pasifik. Sayangnya, inferioritas yang diciptakan sendiri menempatkan Indonesia pada posisi sebaliknya. Namun situasi saat ini jika kita benar-benar sadari, memaksa kita untuk bersegera mengambil peran sebagai sebenar-benarnya Bumi Antara. Mengembalikan kepercayaan diri sebagai bangsa besar, merumuskan cara pandang terhadap diri dan kedirian melampaui batas negara.

Maka Indonesia seharusnya yang mengambil inisiatif mengajukan proposal penawaran kesepakatan akan keinginan untuk menciptakan ASEAN sebagai sebuah ekosistem yang mengglobal, tidak lagi sekadar membentuk organisasi kawasan tapi lebih besar dari itu, mengusulkan kepada semua negara anggota ASEAN untuk mengangkat garis batas negara secara artifisial diletakkan pada posisi terluar batas wilayah regional ASEAN, yaitu melahirkan penegasan akan kesadaran identitas bersama sebagai The New Nation, Bangsa Asean.

Akhirnya, jika disepakati lahirnya ASEAN yang satu, sebagai bangsa ASEAN yang satu, bangsa dengan kultur agraris-maritim, ASEAN akan menjelma menjadi sebuah kekuatan baru dari polarisasi kekuatan di dunia internasional, memperjuangkan national interest ASEAN yang merupakan manifestasi dari national interest masing-masing negara anggotanya. Patut kita coba sebagai sebuah terobosan alternatif. [Suryo AB, DEA. Analis Geopolitik-lulusan Institut Francais Geopolitique]
Sumber : jurnalmaritim.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply