Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » Cuaca tak Menentu, Tangkapan Ikan Nelayan Turun

Pemuda Maritim - Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memprediksi perubahan iklim yang mengakibatkan musim tidak menentu akhir-akhir ini bisa memengaruhi hasil tangkapan ikan laut oleh para nelayan.

"Ikan di laut sangat dipengaruhi suhu, plankton, tekanan angin, mereka akan cari tempat yang cocok, yang namanya samudera tempatnya luas untuk mencari," kata Kepala Bidang Kelautan dan Perikanan Tangkap DKP Bantul Yus Warseno di Bantul, Senin (22/2/2016).

Menurut dia, musim yang tidak menentu akhir-akhir ini memang bisa digolongkan sebagai masa paceklik ikan dengan musim yang bergeser dan anomali cuaca yang ekstrem. Akibatnya, kata dia, nelayan Bantul terancam kesulitan mendapatkan tangkapan ikan pada musim yang tidak menentu seperti saat ini.

Yus mengatakan selain berpengaruh pada gelombang tinggi, perubahan iklim bisa mengakibatkan posisi zona potensi ikan juga bisa mengalami pergeseran. Meski demikian, kata dia, keberadaan zona yang berpotensi menjadi tempat berkumpulnya ikan di laut selatan saat ini sebenarnya sudah bisa dilacak melalui citra satelit.

"Kalau nelayan menggunakan satelit, dia akan mengerti dalam musim seperti ini akan mencari di mana," tuturnya.

Akan tetapi, menurut Yus, nelayan dengan perahu motor tempel hingga saat ini masih kesulitan untuk mendapatkan data tersebut, terlebih kondisi sebenarnya saat ini, kumpulan ikan di laut selatan justru lebih banyak yang berada pada sekitar 60 mil di lepas pantai. Dngan jarak tersebut akan sulit untuk dijangkau oleh nelayan yang menggunakan perahu kecil, kemudian tidak adanya pelabuhan yang mendukung keberadaan kapal besar menjadi hambatan.

"Bantul sulit berkembang karena tidak ada pelabuhan (ikan-Red.), padahal keberadaan pelabuhan ikan di Bantul dirasa penting, jadi sejauh ini agar nelayan bisa berkembang terbentur berbagai faktor," katanya.

Berdasarkan data tangkapan ikan di DKP Bantul pada 2010 tercatat 518.119 ton, pada 2011 sebanyak 592.524 ton, pada 2012 sebanyak 541.359 ton, pada 2013 sebanyak 546.877 ton, sedangkan pada 2014 sebanyak 364.864 ton dan pada 2015 sebanyak 391.373 ton. Meski begitu, kata dia, jumlah tersebut belum termasuk tangkapan nelayan Bantul yang masuk ke Pantai Sadeng, Gunung Kidul yang terdapat pelabuhan ikan, sebab sejumlah kapal milik nelayan Bantul dititipkan di pelabuhan tersebut.

Sementara itu, Anggota Kelompok Nelayan Bogowonto Johan Susanto mengatakan sudah tiga hari ia dan rekan-rekannya memilih tidak melaut. Padalah, saat sedang musim ikan pari dan lobster. Sebelum ada gelombang tinggi, dirinya bisa menangkap ikan pari delapan hingga 10 ekor ukuran besar. Selain itu, menangkap lobster sebanyak tiga hingga lima kilogram.

Harga ikan pari sangat murah yakni Rp20 ribu, sedangkan harga lobster tergantung pada beratnya. Lobster yang beratnya di atas tiga ons mencapai Rp410 ribu. "Setiap kali melaut mendapat uang Rp3 juta, dan biaya operasionalnya Rp200 ribu. Kami tidak melaut karena gelombang laut rata-rata mencapai empat meter. Akibatnya harga ikan laut mengalami lonjakan hingga empat kali lipat dibandingkan harga normal," katanya.
Sumber : www.pikiran-rakyat.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply