Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » Ditpolairdasu Diminta Usut Kasus Pembantaian 4 Nelayan Pancing

Pemuda Maritim - Pihak keluarga korban yang telah secara resmi membuat laporan pengaduan ke Ditpolairdasu terus mendesak pihak penegak hukum tersebut guna mengungkap kasus pembantaian 4 orang nelayan pancing yang menetap di Kelurahan Bagan Deli Kecamatan Medan Belawan.Kamis(25/02/2016).

Konflik antara nelayan kecil dengan kapal nelayan besar asal Pelabuhan Perikanan Gabion tersebut tak bisa didiamkan begitu saja bahkan para pembeking kapal ikan milik pengusaha perikanan di Gabion yang terbukti terlibat harus juga ditindak demi tegaknya supremasi hukum serta Hakhak azasi manusia (HAM).

“Kami masih berduka, tak adalagi canda tawa seorang ayah terhadap anak-anaknya, tak adalagi yang kami tunggu kedatangannya, karna Rajali suami saya pergi meninggalkan kami untuk selamanya”, Ungkap istri korban (Nurhayati-red) saat ditemui di Polairdasu usai buat laporan, kemaren.

Nurhayati berharap semua yang terlibat dalam pembantaian suaminya segera ditangkap dan dihukum seberat-beratnya.

“Saya dengar dari masyarakat, dalam pembantaian suami saya Rajali dan teman-temannya sempat teriak nyebut nama Tuhan. Saya hanya bisa berharap agar semua yang terlibat dalam kematian suami saya dan teman-temannya segera ditangkap dan dihukum seberat-beratnya”. Harap Nur.

Terpisah, kabar yang menyebar di tengah masyarakat, hilangnya 4 nelayan pancing (Rajali Abdi, Mhd. Zein, Baharuddin Ahmad, dan Dani-red) asal Bagan Deli itu karna dibunuh nelayan pukat langgar gudang PT. Jasa Hasil Laut alias gudang cerewet Gabion Belawan yang melibatkan 5 orang nakhoda masing-masing Razali alias London, Khairuddin alias Enden warga Lingkungan 23 Pekan Labuhan, Asbulah alias Atok, Udin nakhoda serap M. Yunus warga Lingkungan 24 Pekan Labuhan, Zulkifli warga Desa Selemak Hamparan Perak, dan Menen (nakhoda jalur-red). Kabar yang merebak tersubut berdasarkan hasil pemeriksaan saksi AMR di Pos Kamla Gabion Belawan.

Nakhoda KM. Sumber Bahagia Agus alias Doyok ketika ditemui di tempat kediamannya gang Anggrek lingkungan 7 Kelurahan Labuhan Deli Kecamatan Medan Marelan, kemaren ngaku tidak terlibat dalam pembunuhan itu. Bapak yang akrab disapa Doyok tersebut minta namanya dibersihkan dari tuduhan dan siap berikan keterangan di Pos Kamla (TNI AL-red) dan Polairdasu. “Saya dan anggota (ABK-red) tidak melihat kejadian itu tapi saya tahu”. Kata Doyok mengawali kesaksiannya.

Tolong jangan saya dituding ikut sebagai pelaku lanjut Doyok. Saya dan anggota sudah berikan keterangan dengan petugas Pos Kamla Gabion Belawan. Apa yang saya ketahui dan apa yang saya dengar sudah saya jelaskan. Ujar Doyok.

Doyok yang sempat disebut-sebut ikut sebagai otak pelaku pembunuhan 4 orang nelayan pancing asal Bagan Deli itu ngaku takut melaut. “Masalah ini menyangkut keselamatan saya dan anggota. Sebelum masalahnya selesai saya tidak berani melaut, dan kami harap tokeh dapat mengerti keadaannya”. Kata Doyok.

Sekedar diketahui, sebelum dihabisi, ke 4 orang nelayan pancing Rajali Abdi, Mhd. Zein, Baharuddin Ahmad, dan Dani tumpangi perahu Lumba-Lumba milik Amir. Mereka bertolak dari tangkahan Bagan Deli menuju daerah Barat Laut. Di tengah perjalanan, ke 4 korban bertemu dengan KM. Sejahtera yang hendak mukat. Merasa kenal dengan nakhodanya (Zulkifli-red), ke 4 korban minta ikan makan kepada Zul yang diberikan seadanya.

Entah mengapa muncul asumsi Zul kalau dirinya dirampok orang yang dikenalnya. Dengan menggunakan pesawat radio, Zul coba hubungi nakhoda lainnya (Rajali alias London, Khairuddin alias Enden, Asbul alias Atok, Udin, dan 2 kapal ikan jalur-red) hingga sepakat untuk mengahabisi 4 nelayan pancing.

Nakhoda yang sudah kerasukan setan itu langsung buru perahu Lumba-Lumba yang ditumpangi 4 nelayan pancing, akibatnya perahu tenggelam dan ke 4 korban dibantai dengan kapal ikan. Parahnya nakhoda habisi korban yang menjerit nyebut nama Tuhan (Allahu Akbar-red). Meskipun istri korban Nurhayati sudah buat laporan pengaduan (Nomor : STPL/08/II/2016/Ditpolair), namun hingga berita ini diturunkan ke meja redaksi, belum ada keterangan resmi dari Polairdasu.
Sumber : dnaberita.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply