Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » Lima Pilar Kemaritiman Untuk Mengembalikan Kejayaan RI

Pemuda Maritim - Pemerintah bertekad mengembalikan kejayaan kita di laut atau maritim, layaknya sejarah Sriwijaya dan Majapahit yang hebat karena kekuatan lautnya. Kini, kekuatan dibangun lagi, dari nelayan, pelabuhan, perdagangan, industri, sumber daya laut, dan angkatan perang, sampai pariwisata.

Hal itu diungkapkan Menko Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli, kemarin. Merurut dia, untuk ke arah itu ada lima pilar tugas yang diemban oleh kementariaan yang dipimpinnya.

“Pertama, kita ingin orang Indonesia cinta laut. Sebab, ratusan tahun lalu, nenek moyang kita memang sangat cinta laut, dan ternyata muncul menjadi kekuatan hebat, seperti zaman kejayaan Sriwijaya dan Majapahit,” kata Rizal Ramli.

Pada era Sriwijaya, kekuatan laut kita ssampai Campa (Kamboja), di era Majapahit menguasai Nusantara, termasuk Malaka. “Namun, ketika kekuatan laut mulai surut, terjadi kemunduran kedua kerajaan. Ssalah satu penyebabnya, karena kita makin inner looking, melihat ke daratan dan terus kurang memperhatikan maritim,” katanya.

Untuk mengajak cina laut, kementeriannya, sedikit demi sedikit mencoba mengajak generasi muda. Tiap tahun akan ditambah jumlah yang disertakan. “Kami ajak ratusan perwakilan pelajar dan mahasiswa untuk berlayar di laut. Ternyata mereka senang, dan banyak belajar dari kegiatan ini,” ujarnya.

Kalangan wartawan pun diajak untuk mencintai laut. Saat peringatan Hari Pers Nasional di Lombok, 250 wartawan diajak naik kapal menuju Lombok, salah satunya rombongan dari Papua. “Teryata banyak di antara mereka baru pertama kali ini naik kapal laut, jadi baru tahu laut,” katanya.

Dalam kaitan kecintaan pada laut ini, maka ia memuji langkah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiasatuti yang terlah menenggelamkan 150 kapal asing pencuri ikan di lautan kita. Ikan yang dicolong orang asing sudah menurun drastis.

“Itu shok terapi, dan dampaknya luar biasa. Jumlah tangkapan para nelayan kita naik drastis. Saya di Sibolga mendapatkan bukti, tangkap nelayan naik dari 200 ton menjadi 400 ton dalam usaha mereka. Hal yang sama terjadi di kawwasan Indonesia Timur,” ujar Rizal.
Penanganan ini akan diteruskan dan diperluas, karena dampaknya sangat terlihat. Dari sektor perikanan ini saja, negara akan mendapat keuntungan luar biasa. Pemenuhan gizi masyarakat, akan semakin tinggi. Ia memberi contoh keberhasilan Jepang, Korsel, Cina, mereka mendapatkan kemajuan dan kecerdasan warganya, karena banyak makan ikan.

Keuntungan nelayan meningkat. Industri perikanan juga membaik. Dampak lainnya, industri perikanan asing kini menurun. “Mereka kan tadinya mengandalkan ikan colongan dari perairan Indonesia, merreka sekarang tidak mendapatkan lagi, banyak industri mereka yang merosot,” jelasnya.

Soal tangkapan ini, pemerintah bertekad hanya kekuatan nelayan Tanah Air saja yang mengusai, sedangkan soal pengolahan atau idustrinya, baru asing boleh melakukannya di situ.

Momentum Industri Perikanan

Pengembangan ke arah industri perikananakan ditingkatkan. Ia yakin, saat ini akan menjadi momentum menumbuhkan industri perikanan. Rizal yakin, kalau kondisi ini terus digarap, maka kita akan menjadi kekuatan perikanan terbesar di dunia.

“Setalah laut kita aman dari pencuri ikan asing, nantinya kita akan jadi negara industri perikanan besar. Kita akan jadi negera pengeskpor tepung ikan terbesar,” ujarnya, sambil menegaskan, backing kapal pencuri ikan memang harus terus dibereskan.

Langkah lainnya, adalah pemerintah meningkatkan kemampuan perusahaan industri perkapalan. Kapal-kapal yang diproduksi akan dibagikan pemerintah kepada para nelayan, terutama kelompok nelayan atau koperasi, minilah 20 orang.

“Nanti, kita bagikan 350 kapal kepada kelompok nelayan atau koperasi. Ini dilakukan secara bertahap,” ujarnya.

Untuk nelayan sendiri, pemerintah mulai memperhatikan permukiman mereka yang kotor, kumuh, dan tidak sehat. Rizal mengaku sudah melihat contoh kampung nelayan yang bagus, bersih, dan hijau, yakni terdapat di provinsi Gorontalo.

“Di satu kabupaten, di sana bupatinya pinter, dia membangun kampung nelayan sebagai kawasan yang indah, sama sekali tidak terkesan citra kampung nelayan yang kumuh. Perumahannya ditingkatkan jadi lebih memadai, sehingga menjadi pemandangan indah, hijau, pantainya pun jadi menarik,” kata Rizal.

Oleh karena itu, pihaknya akan membuat pilot project (percontohan) kampung nelayan, yakni di Indramayu dan Banyuwangi. Rizal tidak akan menggunakan APBN namun mencari dana dari CSR (Corporate Social Responsbility – dana tanggung jawab sosial perusahaan). “Kalau dua percontohan ini sukses, maka akan kami kembangkan ke berbagai kawasan nelayan lainnya,” ujarnya.

Membangun Banyak Pelabuhan

Untuk mewujudkan Poros Maritim, maka akan dibagun banyak pelabuhan laut dan udara di luar pulau Jawa. Kini pelabuhan-pelabuhan itu sudah mulai diwujudkan dan dikebut. Antara lain di Sorong dan Labuhan Bajo, untuk mendukung sektor pariwisata.

“Kabar gembiranya, untuk membangun pelabuhan-pelabuhan itu, kini anggarannya bisa ditekan. Bahkan, dananya setengah dari cara pembangunan sebelumnya,” ujar Rizal.

Pelabuhan laut di luar Jawa sangat vital, karena negera kita pada dasarnya lebih ke maritim. Transportasi harus lancar, arus barang dan arus manusia harus makin cepat. Di sanalah perlu dikembangkan perekonomian daerah, antar lain untuk menghasilkan produk-produk untuk diangkut ke daerah lain.

“Jadi, pelabuhan dan kapal yang ada nantinya, bolak-balik bawa muatan, dan tidak merugi. Kan, percuma ada angkutan lancar, kalau tidak ada muatan yang punya nilai ekonomis,” katanya.

Untuk membangun kekuatan laut, lanjutnya, tentu saja harus memperkuat TNI Angkatan Laut. Menurut Rizal Ramli, TNI AL harus meningkatkan latihan untuk mengamankan laut dan batas negara kita. Batas dengan negara tetangga harus segera ditetapkan, itu salah satu peran TNI sangat dibutuhkan.

TNI AL juga diminta mengadakan latihan-latihan yang lebih intens, supaya antar komandan di lapangan bisa saling kenal. Sehingga kalau terjadi masalah yang sebenarnya, kontak mereka akan lebih lancar.

Untuk menunjang tugas pengamanan laut itu, maka industri perkapalan juga harus digalakkan. Selama ini ketrampilan anak-anak bangsa dalam memproduksi kapal laut sudah sangat bagus. Hanya saja, lemah dalam hal memperkenalkan dan memasarkan. “Kita yakin, industri kapal kita akan maju dan disegani, bahkan bisa sangat besar,” katanya.

Sektor ESDM dan Pariwisata

Dari Kementerian Kemaritiman dan Sumber Daya, menurut Rizal Ramli, sebenarnya mengkoordinasikan Kementerian ESDM. Tapi, sejauh ini, Menteri ESDM tidak pernah berkoordinasi dengan pihaknya. “Tidak tahu, dengan siapa menteri ESDM berkoordinasi,” kata Rizal yang memang terlihat kurang harmonis dengan Menteri ESDM Sudirman Said.

Untuk sektor pariwisata, Presiden Jokowi sudah menetapkan 10 destinasi untuk dikembangakan sehingga bisa sejajar dengan Bali. Sebab, selama ini hanya Bali yang dikenal dunia, padahal keindahan kita luar biasa.

Menurut Rizal, 10 lokasi yang dikembangkan adalah Toba, Belitung, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Borobudur, Gunung Bromo, Mandalika (Lombok), Morotai (Malut), Labuhan Bajo (NTT), dan Raja Ampat (Papua Barat).

“Ini strategi baru kita. Selama ini anggaran kita sebar dan hasilnya kurang terasa, kini pakai strategi baru di 10 lokasi itu. Presiden Jokowi sangat antusias, karena sektor pariwisata memang cepat mendatangkan devisa meski anggaran tidak perlu sangat besar.
Sumber : poskotanews.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply