Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » Peran Pendidikan dalam Perwujudan Visi Poros Maritim

Pemuda Maritim - Salah satu faktor pendukung pembangunan adalah kulitas pendidikan keduanya harus berimabang se-irama, tentu tanpa terkecuali yang berkaitan dengan visi pemerintah saat ini ”Indonesia Poros Maritim Dunia”. Cita-cita poros maritim adalah cita-cita yang besar. Setiap warga negara harus mengetahui apa itu bangsa maritim dan apa itu poros maritim dunia. Keinginan ini akan sulit untuk diwujudkan tanpa adanya upaya pengenalan yang lebih kepada khalayak umum. Masyarakat selain sebagai penerima kebijakan juga dapat berperan sebagai pendukung dari kebijakan itu sendiri. Oleh karnanya menyikapi hal tersebut, pencerdasan kepada setiap kalangan mutlak diperlukan. Bahkan sudah seharusnya pencerdasan mengenai kemaritiman mulai ditanamkan kepada anak usia dini. 

Anak Suku Bajo
doc. aeritaanakpulau.blogspot.co.id

Pepatah lama mengatakan “Belajar di waktu muda bagaikan mengukir di atas batu. Belajar di waktu tua bagai menulis di atas air”

Pendidikan maritim dapat dimulai dari mengenalkan jati diri bangsa ini dan bagaimana berkehidupan bangsa maritim. Dengan mengenal jati diri bangsanya, anak–anak akan tumbuh dengan semangat kebangsaan dan nilai–nilai kemaritiman yang tinggi. Dengan begitu, poros maritim telah hadir sejak dini, sehingga dikemudian hari Poros maritim mewujud dalam pola pikir anak bangsa. Sudah sepatutnya pendidikan menjadi pendorong perbaikan bangsa sekaligus tolok ukur kemajuan suatu bangsa di kemudian hari. Oleh karena itu, perhatian yang lebih kepada pendidikan adalah sebuah kewajiban bagi setiap negara. Peran pendidikan dalam menanamkan jiwa kemaritiman adalah dengan memasukkan kurikulum kemaritiman kepada setiap mata pelajaran dari mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
Konten-konten buku-buku pendidikan yang biasanya lebih berorientasi kepada daratan, mulai saat ini perlu diubah menjadi kemaritiman. Setiap tenaga pengajar di segala tingkat harus memulai pola pikir poros maritim dengan memberikan materi pengajaran yang menggunakan unsur-unsur kemaritiman. Pemerintah juga perlu berperan dalam menelurkan kebijakan-kebijakan yang berorientasi kepada nilai-nilai kemaritiman. Tidak ada salahnya apabila pemerintah membangun perguruan tinggi berbasis maritim, memulai pembangunan dari wilayah perbatasan, meningkatkan keamanan di perbatasan (baik yang berbatasan langsung dengan daratan maupun perairan negara lain), serta menguatkan supremasi udara sebagai elemen pendukung poros maritim. Ketika kita berbicara perihal maritim, kita juga sekaligus mengerakan semua aspek yang ada di laut, darat, dan udara. Bagaimanapun, semangat kemaritiman adalah semangat kebangsaan. Semangat itulah yang perlu kita jiwai dan jalankan dalam kehidupan saat ini. Apapun profesi, apapun latar belakang, dan perbedaan di antara kita, mari kita satukan visi sebagai bangsa maritim untuk mencapai kondisi ideal Indonesia sebagai poros maritim dunia. Setiap langkah yang bertujuan untuk pencapain pembangunan bangsa maritim, baik kecil maupun besar, sepatutnya kita dukung bersama.
Setiap bangunan yang berdiri tegak nan kokoh selalau diawali dengan fondasi yang baik guna mendukung terwujudnya apa-apa yang dicita-citakan. Tentunya paradigma ini sudah seharusnya ditanamkan kepada bagian kehidupan lainnya terutama menyoal visi pemerintah mengenai Indonesia poros maritim dunia. Perlu adanya perwujudan tindak tanduk akan sebuah misi yang mengarah kepada hal-hal yang mendasar, salah satunya adalah penguatan generasi penerus. Peran re-generasi akan begitu penting di masa mendatang, mereka adalah penerus yang bisa jadi beban dan punya tanggung jawab yang lebih berat dari pembentuknya. Oleh karnanya visi Poros Maritim Dunia harus didukung dengan menciptakan pendidikan berbasis kemaritiman pula, sebagai upaya pembentukan pola pikir kemaritiman pada generasi penerus bangsa. Membentuk kencintaan anak terhadap dunia kemaritiman dapat dibentuk dengan memberiakan stimulus mengenai kemaritiman, baik tidak disampaikan dengan gamlang akan tetapi disampaikan dengan interkatif tanpa menghilangkan unsur-unsur edukatif.

”Mungkin saat ini kita bukan penerus bangsa yang baik, tapi tidak menutup kemungkinan kita bisa menjadi generasi pembentuk generasi kemaritiman untuk mengembalikan kejayaan Bangsa dan Negara Republik Indonesia”
Jalesveva Jayamahe !


Penulis: Hendra Wiguna (Ketua Komunitas Asa Edu Project/@asaeduproject)


«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply