Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » Angin Barat, Nelayan Pantai Selatan Jabar Memilih Istirahat

Pemuda Maritim - Meski ikan laut sedang berlimpah, nelayan pantai selatan Jawa Barat memilih untuk istirahat. Angin kencang musim angin barat mengakibatkan sarana dan prasarana menangkap ikan milik nelayang mudah rusak.

“Ikan di laut sedang berlimpah, dan harga sedang bagus. Tapi kondisi cuaca kurang mendukung hingga kami memilih untuk libur daripada melaut tapi risiko kerusakan alat menangkap ikan, dan bahkan jiwa,” ujar Odang (46) salah seorang nelayan di Pantai Apra, Sindangbarang, Kabupaten Cianjur, Sabtu 25 Maret 2016.

Pada musim angin barat, menurut Odang, kawasan pantai selatan Jawa Barat sangat berlimpah berbagai jenis ikan. Khusus daerah Cianjur, Garut, hingga Tasikmalaya, tangkapan hasil laut berupa lobster, kepiting, udang, dan ikan layur. Khusus lobster dan kepiting, daerah ini terkenal dengan kualitasnya yang super.

Banyak nelayan Pantai Apra dan sekitarnya di Kabupaten Cianjur memilih untuk membiarkan jala tanam untuk menjaring lobster dan kepiting di tengah laut. “Biasanya kalau sekali tarik dari satu jaring bisa mencapai 1 kilogram lobster, dan sehari bisa memanen 7 hingga 10 kilogram, tapi kondisi cuaca tidak mendukung untuk memanen,” ujar Didik, rekan Odang melaut.

Pada musim angin barat ini, menurut Odang, harga lobster kelas satu mencapai Rp 600.000 per kilogram dan Rp 400.000 untuk mutu sedang. Untuk kepiting Rp 35.000 per kilogram, ikan layur harganya antara Rp 45.000 hingga Rp 50.000 per kilogram, ikan kue kuning Rp 35.000 per kilogram, ikan tongkol Rp 25.000 per kilogram, dan ikan hiu caril Rp 40.000 per kilogram.

Selain nelayan di Pantai Apra, nelayan pantai Jayanti juga memilih untuk menambatkan perahunya di dermaga. “Sudah menjadi kegiatan rutin, setiap musim angin barat semua nelayan memilih memperbaiki perahu atau jala ketimbang melaut sangat berisiko,” ujar Uu Samsudin (36), ditemui di Dermaga Jayanti, Kabupaten Garut.

Sementara nelayan di Santolo dan Cilautereun, Kabupaten Garut sebagian besar memilik untuk bercocok tanam huma milik mereka. Tapi, tidak sedikit dengan bermodalkan uang Rp 5 juta per orang, secara rombongan nelayan Santolo dan Cilautereun pergi melaut di kawasan Pacitan, Jawa Timur.

Kondisi tak jauh berbeda dialami nelayan Cipatujah, Pamayangsari, dan Cibalong di Kabupaten Tasikmalaya. Sejumlah nelayan memilih menangkap ikan di daerah pinggiran dan di muara Sungai Ciwulan, Citeureup, dan muara lainnya.
Sumber : www.pikiran-rakyat.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply