Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » APMI Pertanyakan Visi Poros Maritim Pasca Tenggelamnya KMP Ravelia II

Pemuda Maritim - Peristiwa karamnya kapal KMP Ravelia II hingga tenggelam di Selat Bali menyita perhatian berbagai pihak, termasuk diantaranya Sekjen Assosiasi Pemuda Maritim Indonesia  (APMI), Ahlan Zulfakhri. Beliau menerangkan bahwa dengan banyaknya terjadi peristiwa tenggelamnya sebuah kapal, maka nampak jelas pemerintah belum serius mewujudkan visi poros maritim dunia yang digadangnya.

Ahlan menambahkan, ”Di awal tahun 2016 ini sudah 2 kali terjadi kecelakaan kapal pertama adalah kapal tanker KM Azula dan KMP Ravelia II yang mana tenggelam di Selat Bali. Ini menunjukan tidak seriusnya pemerintah dalam membangun poros maritim,” tegasnya

Menurutnya, pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan (Kemenhub) harus mengambil tindakan konkret agar bisa menyelesaikan permasalahan kecelakaan kapal. Karena berdasarkan catatannya, berkali-kali terjadi kecelakaan kapal lantaran Kemenhub yang membawahi pelabuhan-pelabuhan dan Syahbandar kurang teliti dalam mengecek kesiapan kapal yang hendak berlayar.

Selain itu, Ahlan mengulas pekara regulasi juga masih belum memadai, sehingga tumpang tindih peraturan malah semakin membuat para pemangku kebijakan loss dalam ketelitian pemeriksaan kapal. Jangan sampai nyawa manusia jadi taruhan kelalaian regulasi,” tegasnya.

Untuk itu, dalam hal ini APMI sudah memberikan catatan buruk kepada pemerintah mengenai penanganan kecelakaan kapal sejak tahun 2015. Organisasi kepemudaan yang bergerak di bidang maritim itu sangat mengecam tindakan Kemenhub yang tidak bertangung jawab terhadap keamanan dan keselamatan di laut.

“Ini permasalahan besar pemerintah agar harus segera bertindak, jika tidak ingin Indonesia malu di mata dunia, bicara poros maritim, namun kecelakaan kapal sudah dua kali di awal tahun,” selorohnya.

Selanjutnya, APMI meminta agar DPR turun membuat Pansus untuk menangani kasus ini khususnya kecelakaan kapal. “Jika Pelindo yang katanya merugikan negara saja dibentuk pansus, bagaimana dengan kasus kecelakaan kapal yang langsung merengut nyawa manusia,” cetusnya.

Masih kata Ahlan, kasus ini juga memerlukan restrukturisasi Kemenhub. Karena kesimpulannya, hal ini sudah tidak bisa ditolerir lagi dan perlu sebuah tindakan tegas dari presiden agar ke depan kecelekaan kapal tidak lagi terjadi di Indonesia.

“Ini soal wajah maritim indonesia di mata dunia, kami harap pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan yang substantif terkait hal ini,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Koordinator bidang Riset dan Teknologi APMI, Muhammad Iqbal menambahkan berdasarkan ketetapan International Maritime Organization (IMO) yang bertanggung jawab adalah Port State Control (PSC).

“Tugas PSC adalah memeriksa kondisi kapal sebelum berlayar dan itu berlaku international,” beber Iqbal.Jum'at (4/3), KMP Ravelia II  mengalami kebocoran dan miring pada posisi di belakang Hotel Banyuwangi Beach atau Bouy Kabel Head sebelah utara kurang lebih seratus meter dari Bouy kuning Kabel Head. Kemudian tepat pukul 13.10 WITA, KMP Ravelia 2 tenggelam pada posisi tersebut.

Kapal LCT Ravelia II bergerak dari Gilimanuk menuju Ketapang dengan mengangkut 2 unit truk besar, 1 unit pick up, 4 unit tronton, 18 unit truk sedang dan 4 kendaraan kecil total 25 unit. Upaya SAR dilakukan oleh seluruh awak kapal KMP, 2 Patkamla dan 1 perahu karet Lanal Banyuwangi, kapal patroli Polair, dan belasan kapal-kapal nelayan.

Sumber: maritimnews.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply