Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Begini Modus Mafia Narkoba di Lapas yang Dibeberkan Budi Waseso

doc. liputan6.com
Pemuda Maritim - Badan Narkotika Nasional (BNN) berhasil membongkar tiga jaringan narkoba yang dikendalikan para narapidana yang mendekam di tiga Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Jawa Timur.

Kasus seperti ini sudah sering ditemukan dan terungkap dengan jelas. Para pengedar lebih leluasa mengendalikan bisnis haram ini dari balik jeruji besi dengan bantuan sipir, bahkan dokter lapas.
"Pada pengungkapan ini, BNN berhasil mengamankan delapan tersangka dengan total barang bukti sabu seberat 1.377 gram dan ekstasi sebanyak 9.985 butir," kata Kepala BNN Komjen Pol Budi Waseso

Delapan tersangka itu adalah MS, sipir salah satu Lapas di Jawa Timur, BW, BSN (narapidana di Lapas Jawa Timur), TKN, SN, CDA, AZ dan AL.

"Pengungkapan jaringan di Lapas ini kita sampaikan agar masyarakat tahu dan paham karena masalah narkoba sampai saat ini masih marak. Kejadian kemarin di Bengkulu adalah upaya kita yang jaringannya di Lapas," kata Budi Waseso.

"Tersangka MS yang salah seorang sipir di salah satu Lapas di Jawa Timur ditangkap petugas BNN pada tanggal 14 Maret 2016. Saat petugas memantau gerak gerik MS di daerah Banyu Urip Surabaya, dari tangan MS petugas menyita 98 gram sabu yang disimpan dalam kantong kresek hitam," kata Budi. 

Setelah diperiksa, MS mengaku mendapatkan perintah dari dua narapidan (MUH dan BAK), yang kemudian digelandang polisi, kata Kepala BNN.

Selanjutnya, pada tanggal yang sama BNN menangkap seorang penumpang kereta api berinisial BW yang dari tangannya disita sabu seberat 306 gram yang dikemas dalam tiga bungkus kertas warna coklat yang disimpan dalam jaket.

Kepada petugas, BW mengaku diperintah seorang narapidana berinisial BSN. Polisi lalu menyita telepon genggam beserta penguat sinyalnya, kata Budi Waseso.

Sedangkan TKN ditangkap usai bertransaksi sabu seberat 48 gram pada 14 Maret 2016.
TKN mengaku diperintah narapidana berinisial AS yang mendekam di salah satu Lapas di Jawa Timur.

"BNN juga mengamankan residivis kambuhan yang sering keluar masuk penjara berinisial SN dan istrinya berinisial CDA pada tanggal 12 Maret 2016 di daerah Bojong Raya Depok dan menyita 925 gram sabu," kata Budi.

Tidak berhenti disitu, BNN terus melakukan pengembangan dan berhasil menangkap pria paruh baya berinisial TKN di daerah Pakal Surabaya, karena terlibat transaksi sabu seberat 48 gram. Menurut pengakuan TKN, dia diperintahkan seorang napi berinisial AS yang mendekam di sebuah lapas Jawa Timur.

Tersangka lain yang ditangkap adalah mantan narapidana berinisial AZ pada 24 Maret di jalan tol keluar Tomang , Jakarta Barat, karena membawa 9.985 butir ekstasi seberat 2.881,2 gram. AZ mengaku bahwa ekstasi itu akan diserahkan kepada seseorang berinisial AL di Jakarta Pusat.

Sederet penangkapan ini menjadi salah satu indikator, masih kuatnya peredaran narkotika dari balik jeruji besi. Alasan minimnya petugas pengawas dalam lapas tidak bisa diterima begitu saja. Seharusnya petugas bisa melibatkan unsur lain dalam pengawasan, mulai dari polisi, BNN sampai TNI.

"Jangan alasan keterbatasan ini menjadi alasan untuk dibiarkan. Negara lebih besar dari kekuatan bandar. Jadi tidak boleh kalah," kata Budi

"Dengan terbongkarnya kasus di atas menjadi salah satu indikator kuat bahwa peredaran narkotika dari balik jeruji masih marak. Selain itu, dari kasus di atas juga mengindikasikan masih ada residivis yang tidak bosan untuk mengulang kejahatannya," tegas Budi.

Atas perbuatannya para tersangka dijerat dengan pasal 114 ayat 2, pasal 112 ayat 2 juntopasal 132 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 Tentang Narkotika dengan ancaman maksimal hukuman mati atau pidana penjara seumur hidup. (AYY)


Sumber: nasional.tempo.co & merdeka.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply