Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » Jumlah Nelayan Jabar yang Gunakan Freezer Masih Minim

Pemuda Maritim - Sejauh ini, nelayan asal Jabar relative masih konvensional. Pasalnya, dari ribuan nelayan yang melaut di sisi selatan Jabar hanya sedikit yang menggunakan freezer untuk menampung ikan hasil tangkapan.

Padahal, teknologi lemari pembeku ikan segar itu sangat dibutuhkan untuk penyimpanan. Tak hanya dari aspek kuantitas, namun segi kualitas daging ikan yang dimasukkan dalam freezer itu lebih terjamin.

"Dari sekitar 1.200 nelayan yang melaut itu hanya 5%-nya saja yang sudah menggunakan freezer di kapalnya. Mayoritas mereka menggunakan teknologi konvensional," kata Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB) Sukabumi Badri Kustiawan kepada INILAH, Minggu (13/3).

Menurutnya, selama ini nelayan hanya memakai bantuan es batu yang dibawa dari darat. Dikarenakan sifat es yang mudah mencair itu, nelayan hanya beberapa hari pergi mencari ikan di tengah laut.

Paling lama, kata dia, nelayan hanya sekitar enam hari melaut. Dikarenakan teknologi yang relatif masih rendah ini, Badri mengaku pendapatan nelayan relatif tidak maksimal. Kebanyakan dari mereka harus cepat-cepat menjual ikan hasil tangkapan sebelum membusuk di tengah jalan.

Ujungnya, nelayan hanya bisa mengisi kebutuhan pasar domestik. Padahal, komoditas ikan seperti tuna dibanderol tinggi untuk pasar ekspor.

Disinggung mengenai pemasaran, dia mengaku hasil tangkapan langsung diekspor atau dijual ke penampungan. Untuk komoditas ekspor itu dijual seharga Rp65 ribu/kg. Sedangkan, untuk pasar domestik, tuna dibanderol Rp40 ribu/kg.

"Untuk ekspor itu ada standarnya. Kita pakai standar harga Yen. Kebanyakan mereka menggunakan kapal-kapal Cina. Harganya Rp65 ribu/kg, itu untuk tuna berbobot 30 kg/ekor. Kalau untuk pasar domestik ikan seberat 30 kg/ekor itu dijual dengan harga Rp25 ribu/kg," jelasnya.

Dia menambahkan, untuk pasar ekspor ini para nelayan harus bisa menyediakan barang yang relatif kontinyu. Tuna yang dijual pun merupakan ikan beku yang dimasukkan dalam lemari freezer.

Selain itu, tuna kualitas ekspor harus benar-benar bermutu tinggi dilihat dari ukuran dan penanganannya. Para eksportir hanya mau mengirim ikan yang sebelumnya dimasukkan dalam freezer.

"Kalau pakai freezer, ikan hasil tangkapan itu bisa dibeli lebih mahal dari biasa. Contohnya, tuna yellow fin untuk kualitas ekspor itu dibanderol Rp350-400 ribu/kg," imbuhnya.

Namun, untuk memiliki lemari pembeku ini nelayan harus merogoh kocek lebih dalam. Sebab, untuk mendapatkan frezeer yang dilengkapi empat piston itu harganya mencapai Rp275 juta/unit. Selain itu, untuk membawa freezer ini pun dibutuhkan kapal yang lebih besar.

Saat ini, Badri mengaku mayoritas nelayan menggunakan kapal berbobot 10-15 gross tonnage (GT). Terkait peralatan tangkap, dia mengaku selama ini para nelayan menggunakan alat tangkap ramah lingkungan. Mereka menggunakan alat tangkap dengan metode handline yang ramah lingkungan.

Dikarenakan penerapan low technology tersebut, Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) selama ini menghadapi kendala untuk mengekspor ikan segar dari Jabar. Ketua AP5I Thomas Darmawan mengatakan, selama ini para eksportir yang mendatangi para nelayan yang sedang melaut.

"Jabar sendiri memiliki potensi ini karena di laut selatannya terlalui jalur migrasi tuna. Selama ini, kapal-kapal nelayan penangkap ikan yang tidak memiliki fasilitas freezer nantinya dikunjungi kapal besar. Kapal besar itu yang mengumpulkan hasil tangkapan para nelayan untuk diterbangkan ke pasar ekspor," ujar Thomas.

Menurutnya, kapal penangkap ikan tuna itu melaut hingga berbulan-bulan. Bahkan, hingga enam bulan di laut. Dengan kondisi ini, kata dia, kalau mengandalkan kapal nelayan itu berlabuh maka kemungkinan ikan menjadi rusak relatif tinggi. Padahal, pengekspor ikan laut diharuskan mengirimnya dalam keadaan segar.
Sumber : www.inilahkoran.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply