Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » Musim Badai, Membuat Nelayan Sukabumi Paceklik

Pemuda Maritim - Sebagian besar nelayan di Sukabumi, Jawa Barat menjerit. Kondisi itu akibat sejak awal tahun hingga kini dilanda musim paceklik ikan. Penyebabnya yakni datangnya musim hujan hingga mengakibatkan badai laut. Cuaca buruk ini diperkirakan bakal terjadi hingga April mendatang.

Datangnya musim paceklik ini memaksa nelayan memarkirkan perahunya dan sementara waktu banting profesi. Mulai menjadi kuli bangunan, tukang ojek, dan buruh serabutan lainnya. Mereka terpaksa beralih profesi untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.

Seperti yang dirasakan ratusan nelayan di Pantai Ujunggenteng, Desa Ujunggenteng, Kecamatan Ciracap. Dudung, 55, mengungkapkan tanda-tanda musim paceklik melanda sebagian nelayan berlangsung sejak Januari 2016 lalu. Namun puncaknya kini berkepanjangan hingga awal Maret 2016 ini.

“Kini dimusim hujan dan badai laut sebagian besar nelayan menggurungkan niatnya melaut. Sejak Januari musim hujan dibarengi angin. Kalaupun dipaksakan, takut celaka akibat hantaman ombak besar. Belum lagi biaya operasional melaut, seperti membeli bahan bakar bensin serta perbekalan makanan sangat tidak sebanding,” katanya.

Dijelaskan Dudung, dalam sekali melaut dalam cuaca saat ini tidak kurang harus mengeluarkan biaya minimal sebesar Rp 500 ribu hingga Rp 750 ribu. Biaya sebesar itu, di antaranya untuk membeli bahan bakar bensin sebanyak 50 liter, dan biaya persedian makan . Perbekalan bahan bakar minyak itu, hanya untuk memenuhi kebutuhan selama berlayar satu hari.

“Untuk mengurangi kerugian lebih besar penangkapan ikan di musim hujan seperti sekarang yakni dengan cara tidak melaut. Selain angin di laut lepas sangat kencang juga gelombang ombak relatif sangat besar. Kalau dipaksakan untuk melaut bakal membahayakan serta mengancam keselamatan jiwa, ” ungkapnya.

Robi, 40, nelayan lainnya mengaku untuk mengisi musim paceklik, dia lebih memilih untuk memperbaiki jaring ikan yang rusak. Dia berharap, pemerintah memperhatikan nasib para nelayan selama dilanda musim paceklik.

“Kami (nelayan) sengsara dengan musim paceklik ini. Pemerintah seharusnya membantu kami, bisa saja dengan memberikan bantuan raskin atau bantuan kredit segar kepada setiap nelayan,” harapnya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Robi bersama sejumlah nelayan lainnya beralih profesi. Alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan hidup yakni meminjam uang kepada pengepul atau pedagang ikan.

“Namun tetap saja, nelayan harus memikul beban berat karena setiap musim panen ikan tiba sudah harus mencicil membayar hutang dengan hasil tangkapan ikan. Soalnya tidak ada cara lain, kecuali harus meminjam uang kepada pedagang ikan. Kalau tidak dilakukan usaha seperti itu, saya engga bisa makan juga jajan anak sekolah,” keluhnya.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi, Abdul Kodir menerangkan saat ini banyak nelayan yang tidak melaut karena cuaca buruk. Jika ada yang bersikeras melaut, ikan tangkapan tidak sebanding dengan biaya operasional yang dikeluarkan.Hal itulah yang membuat nelayan urung melaut.

“Penurunan ikan tangkapan paling terasa dialami nelayan pancing. Sementara ikan tangkapan nelayan yang menggunakan kapal-kapal besar tidak berpengaruh. Namun saat ini kami
tidak memiliki anggaran khusus untuk melakukan penanggulangan terhadap para nelayan yang kini dilanda musim paceklik,” tandasnya.
Sumber : poskotanews.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply