Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » Tingkatkan Pemberantasan dari Laut, BNN inginkan Indonesia Bersih dari Narkoba


Pemuda Maritim - Pemberantasan narkoba ibarat mengurai benang kusut dan tidak bisa dipandang sebelah mata. Perlu kerja sama dari semua stakeholder, mulai dari aparat penegak hukum hingga masyarakat. Sebab, jaringan narkoba internasional terus berupaya mencari modus dan cara agar bisa memasukan barang haram itu ke Indonesia melalui jalur darat, laut, dan udara. Dibutuhkan antisipasi tepat dan cepat, bersama seluruh pihak terkait.

Pada kepengurusan sebelumnya, Badan Narkotika Nasional (BNN) mengusulkan penguatan interdiksi maritim untuk memutus jaringan peredaran gelap narkoba.

Interdiksi adalah kegiatan operasi memutus jaringan sindikat narkoba nasional maupun internasional dengan mengejar atau menghentikan orang, kapal laut, pesawat terbang atau kendaraan yang diduga membawa narkotika atau prekursor narkotika, untuk dilakukan penangkapan terhadap tersangka serta penyitaan barang bukti dan asetnya. 

"Ini penting karena antarnegara ASEAN sebagian besar dibatasi oleh laut, penguatan interdiksi maritim dinilai penting karena peredaran ilegal narkoba sebagian besar dilakukan di laut, atau melalui jalur laut". kata Kepala BNN sebelumnya, Anang Iskandar 

Seperti yang kita ketahui, Indonesia merupakan Negara Kepulauan yang dikelilingi oleh lautan. Sehingga jalur laut merupakan jalur yang sangat strategis karena bisa menjangkau seluruh kawasandiIndonesia.

"Indonesia dengan wilayah yang sebagian besar adalah perairan, memiliki perbatasan laut dengan sebagian besar negara ASEAN lainnya. Posisi strategis Indonesia, juga menjadikan jalur yang strategis untuk peredaran illegal narkoba," tutur Anang. 

Saat ini, Indonesia telah masuk kedalam kategori darurat Narkoba. Peredaran yang merajalela serta penggunaan yang sulit untuk dicegah menjadi indikasi mengapa Indonesia sudah memposisikan diri sebagai Negara yang darurat Narkoba dan harus segera dibenahi.

"Hampir 40 persen penyalahgunaan narkoba ada di Indonesia, di antara negara-negara ASEAN lainnya. Saat ini tercatat, sekitar 4,2 juta pengguna narkoba di Indonesia," kata Anang. 

Agar angka tersebut tidak bertambah maka perlu dilakukan beragam upaya, antara lain memperkuat kerja sama seluruh pemangku kepentingan di dalam negeri, dan meningkatkan kerja sama dengan negara-negara di kawasan, katanya. 

Tidak ingin berlarut-larut. Setelah dilakukan rotasi jabatan di pemerintahan, Komjen Pol Budi Waseso Menggantikan kepala BNN sebelumnya Anang Iskandar, menegaskan bahwa pihaknya akan meningkatkan upaya pencegahan peredaran narkoba yang diselundupkan dari luar negeri, dengan melakukan upaya penghadangan di tengah laut.

Dirinya mengatakan narkoba yang terkategori tindak kejahatan luar biasa ini bersifat lintas negara. “Ada negara asal, negara transit dan negara tujuan pemasaran narkoba. “Kapal-kapal yang mau menyelundupkan narkoba ke Indonesia, kita sikat,” ujar Budi Waseso

Pihaknya pun menyiapkan para anak buahnya guna diturunkan ke laut. Bila ada kapal yang diduga membawa narkoba dan sudah masuk ke wilayah perairan Indonesia, petugas BNN tersebut akan menuju ke laut dan mengepungnya. “Target saya, (kapal) harus bisa ditenggelamkan di laut, dan orang-orangnya juga (ditenggelamkan). Strategi ini cukup menakutkan bagi beberapa sindikat luar negeri dan evaluasi yang saya dapat, ada yang nama lambung (kapal) diubah, kapal dicat sebagian agar tidak dikenali,” katanya.
Strategi ini merupakan salah satu gebrakan Budi Waseso usai dilantik menjadi Kepala BNN beberapa waktu lalu. Pasalnya selama ini pemberantasan narkoba hanya dilakukan di darat saja. Sementara gebrakan lainnya yang dilakukan jenderal bintang tiga tersebut adalah pembentukan tim khusus guna memburu keberadaan bandar narkoba. “Nanti akan ada pasukan khusus,” kata Budi.
"Kami akan gerakkan semua komponen, bila perlu TNI kami ajak. Kami akan perang melawan narkoba," ujar Buwas,
Menurut Buwas, produsen narkoba jaringan internasional terus berupaya menyuplai narkoba melalui pelabuhan-pelabuhan tikus. "Di Sumatera, Sulawesi, Papua, hampir semua wilayah di Indonesia ada pelabuhan tikusnya. Perlu pelibatan TNI, karena pengamanan garis pantai kewenangan Angkatan Laut. Kami harus bekerja sama. Jangan menunggu. Jangan hanya illegal fishing, kalau perlu kapal narkoba tenggelamkan di laut sama pelaku-pelakunya," ungkapnya.

Ia menyampaikan, tidak perlu program 100 hari atau 200 hari untuk mengatasi narkoba. "Satu detik harus sudah ada reaksi. Targetnya, negara Indonesia bebas narkoba. Jaringan diberantas, kita bersihkan. Negara punya kekuatan, tidak boleh kalah dengan mafia," tegasnya.
(AYY)


Sumber: antaranews.com & beritasatu.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply