Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » Aku, ITB, dan Reklamasi.


Pemuda Maritim -  Setelah lama hanya memanjakan mata pada instagram yang hits akan anak dan bayi para selebriti yang lucu-lucu, hari ini saya berkesempatan meliput aksi nelayan menyegel pulau reklamasi di Teluk Jakarta. Mulai dari bapak-bapak nelayan, istrinya, anak-anaknya, dan masyarakat yang tinggal di sekitar Muara Angke membawa spanduk-spanduk besar yang berisi tolakan reklamasi, tuntutan untuk memberhentikan proyek reklamasi, keluhan bahwa reklamasi telah membunuh ikan-ikan yang mana merupakan sumber mata pencaharian mereka. Intinya, mereka menderita karna mega proyek tersebut.
"Biasanya sehari bisa dapet 400 ribu, sekarang paling cuma 80-100ribu mbak, belum buat beli solar," ungkap salah seorang nelayan yang ikut aksi demo. Saya sedih, dalam hati saya ingat akan mata kuliah Reklamasi dan Pengerukan yang saya ambil, saya hampir menangis melihat kondisi tempat tinggal mereka yang kotor dan bau. Saya merasa bersalah sekali menjadi mahasiswa teknik kelautan. Saya bingung harus merespon seperti apa kemarahan mereka pada orang-orang dibalik reklamasi ini, karna saya mungkin akan menjadi salah satunya suatu hari nanti.

Seandainya saya mahasiswa teknik lingkungan, betapa pro nya saya pada mereka. Perusakan lingkungan hidup adalah hal yang harus saya lawan. Seandainya saya mahasiswa hukum, betapa pro nya saya dengan mereka. Pelanggaran hukum adalah hal yang patut saya kaji dan saya luruskan. Seandainya saya mahasiswa kedokreran, kesehatan masyarakat, dan lain-lain. Seandainya.

Para nelayan dan awak media menaiki kapal nelayan menuju pulau G. Disana, mereka berdemo lagi menuntut supaya reklamasi dihentikan. Mulai dari orasi hingga doa bersama. Mulai dari keluhan untuk hentikan reklamasi hingga keluhan untuk turunkan Ahok dari gubernur DKI. 

Saya berusaha meliput sebagai seorang jurnalis, melupakan sejenak pada 'saya suatu saat nanti'. Toh, proyek reklamasi memang menggiurkan bagi orang-orang kami di dunia kerja.
Saya diajak berdiskusi dengan beberapa jurnalis lain serta perwakilan nelayan Muara Angke. Sampai akhirnya ada yang bertanya "Dari Bandung, masih kuliah mbak?" saya jawab "Iya" dia bertanya lagi "Dimana? Unpad?" akhirnya saya jawab "Bukan, saya dr ITB." 
Dan mereka pun melayangkan banyak pertanyaan.
"Yang jadi konsultan pulau G salah satunya dari ITB kan?"
"Kenapa ITB nggak mengeluarkan pernyataan utk menolak kerjasama dengan proyek reklamasi Jakarta?"
"Wah lain kali kita mobilisasi ke Bandung lah ngadain demo ke ITB." (yang ini entah bercanda atau enggak)


*
DER.
Saya cuma bisa senyam-senyum kecut asam-basa-garam. Hidup memang penuh zat-zat yang tidak mengenakkan hati.

Tapi sebagai orang yang belajar tentang reklamasi, saya tidak bisa sepenuhnya langsung menolak reklamasi  karna kenyataannya bukan hanya di Indonesia reklamasi diadakan, dan reklamasi sebenarnya dapat menjadi solusi untuk pengembangan kawasan pesisir, saya jadi bertanya:
"Apakah semua reklamasi merusak lingkungan?"
"Bukankah ada aturan dalam melakukan reklamasi supaya tidak merusak lingkungan hidup?"
"Apakah reklamasi di Teluk Jakarta benar-benar melanggar hukum?"
"Apakah benar ada praktik korupsi di dalamnya?"
"Apakah reklamasi hanyalah bisnis kaum konglomerat yang ingin menikmati pusat kota Jakarta tapi sudah kehabisan tempat?"
Dan masih banyak lagi.
Saya mencoba bertanya baik-baik pada warga setempat.

"Mungkin reklamasi ini bertujuan utk memperluas lahan, kan Jakarta udah penuh banget, Pak."
"Lahan buat siapa? Kalo buat kita ya siapa yang bisa beli harga lahan segitu mahalnya? Mau nyari ikan berapa tahun mbak? Ya itu lahan buat bisnis palingan. Kalau mau bisnis silahkan aja, tapi jangan ada korban." Saya pun hanya manggut-manggut karena bapaknya tampak bete.

Surat kepada gubernur hingga presiden sudah dilayangkan, tak ada respon. Berbagai cara sudah diupayakan oleh KNTI (Komunitas Nelayan Tradisional Indonesia) namun tak memberi hasil. Akhirnya terbentuklah aliansi untuk mengadakan aksi ini bersama rekan-rekan dari komunitas yang lain.


**
Ibukota ku sayang, ibukota ku malang.
Kali ini bukan dari isu, bukan layar kaca, bukan siaran berita, saya melihat langsung para nelayan yang dengan payah menyuarakan suara mereka. Mendatangi pulau reklamasi, berteriak-teriak "BETUUL!!!" saat ada yang memimpin orasi, berteriak-teriak "AAMIIN!!!" saat ada yang memimpin doa. Sampai menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama.

Saya tahu dunia ini sempit, banyaknya kesempatan ternyata membawa kita pada kesempitan. Cinta segitiga antara aku, ITB dan Reklamasi ini sungguh membingungkan. Saya yang masih punya keyakinan kecil bahwa reklamasi adalah salah satu solusi, dihadapkan pada aksi nelayan yang menderita karenanya. Saya yang belajar membuat reklamasi, ditampar dengan amarah masyarakat pada dampak negatif akibat pembuatannya. ITB, kampus tempatku mengasah diri dipertanyakan oleh pihak-pihak yang menaruh harap padanya. "Mengapa ITB tidak bertindak?" kurang lebih seperti itu. Disisi lain saya ingin para nelayan tahu bahwa tidak semua reklamasi itu merugikan. Jangan menilai reklamasi hanya seperti yang di Teluk Jakarta. Saya ingin memberitahu mereka banyak tentang kemungkinan baik yang mungkin ada dibalik reklamasi.

Tapi kawan, saya ingat kata dosen saya, pak Andojo, di kelas Lingkungan Laut bahwa nelayan merupakan pekerjaan dengan penghasilan terkecil di Indonesia, yang notabene-nya adalah negara maritim. Jadi kalau ada yang masih memandang sebelah mata pada mereka atau menganggap aksi mereka tidak berpendidikan, tolong ingat bahwa mereka tdk seberuntung kita. Saya belum tahu, apa yang akan saya lakukan-sebagai mahasiswa ITB apalagi jurusan teknik kelautan atas peristiwa ini.

Apakah reklamasi selamanya akan menjadi musuh masyarakat? 

Tapi yang ingin saya bagi kepada teman-teman disini adalah, jadi apapun kita nanti, semoga selalu ingat bahwa ada mereka di bawah sana yang membutuhkan uluran tangan kita semua supaya mereka dapat mengentaskan diri dari kemiskinan dan keterbelakangan. Bukankah semua manusia berhak hidup layak?

Mereka bukan anarki, mereka hanya ingin mendapatkan ikan-ikan mereka kembali.

oleh: Anin Ayu M (Mahasiswa ITB/Jurnalis pemudamaritim.com)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply