Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » APMI Menjawab Persoalan Sampah dengan Inovasi Teknologi Bervisi Maritim


Pemuda Maritim - Permasalahan sampah bukanlah permasalahan baru di Indonesia. Bahkan, sampah telah menjadi permasalahan yang cukup sulit diurai karena permasalahan ini sudah menjadi permasalahan yang berlarut-larut dan untuk menyelesaikannya diperlukan kerjasama yang baik dari berbagai pihak serta ditemukannya solusi yang dapat dilakukan bersama.

 Indonesia yang menempati nomor dua di dunia sebagai negara penghasil sampah laut setelah Tiongkok mengalami kesulitan dalam mengatasi permasalahan tersebut. Memandang hal itu, Assosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI) melalui Sekjennya, Ahlan Zulfakhri menyatakan tidak perlu khawatir terkait itu.

Sampah yang ada ini memaksa kita melihat dari berbagai sudut pandang. Jika kita melihat dari sudut pandang optimis, sampah ini akan menjadi berkah. Namun, jika melihat dari sudut pandang negatif, sampah akan menjadi beban yang akan terus bertambah berat karena jumlahnya yang tidak dapat dibendung dan pengelolaannya yang masih carut-marut.

“Kita tidak perlu khawatir dengan masalah sampah di laut karena bagaimana tantangan itu harus kita rubah menjadi potensi yang membawa keuntungan,” ungkapnya saat ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu.

Inovasi dibidang perkapalan untuk menangani sampah sangat diperlukan. Mengingat, luas Indonesia duapertiganya adalah lautan dan memiliki banyak daerah aliran sungai dan muara. Sehingga dengan pengoperasian kapal akan menjangkau seluruh titik dan sumber sampah. Khususnya di wilayah perairan.

Ahlan mengaku tengah mengembangkan industri pengelolaan sampah laut dengan membuat waste boat (perahu sampah). Boat yang tengah dirancang itu memiliki ukuran kecil (3 meter), sedang (4-6 meter) dan besaar (8-10 meter).

Ukuran yang relatif kecil ini akan lebih memudahkan untuk bermanufer ditempat yang sempit dan akan lebih fleksibel dalam penanganan sampah baik disungai, danau, waduk maupun laut.

Selanjutnya Ahlan menyatakan bahwa boat tersebut dapat dikendalikan secara otomatis sehingga tidak memerlukan banyak tenaga. Hanya mengandalkan keselamatan dan keamanan operator yang harus diperhatikan dalam pengoperasian boat ini.

Pengoperasian otomatis memberi beberapa keunggulan. Diantaranya, tenaga lapangan lebih efisien, kesehatan dan keselamatan kerja lebih terjamin dan biaya operasional lebih ekonomis.

“Ukuran yang terlalu besar untuk kawasan sungai, teluk, dan muara untuk dikendalikan secara manual dan banyak tenaga dalam pengoperasiannya mendorong kami untuk merancang boat ini sedemikian rupa,” ulasnya.

Lebih lanjut lulusan Perkapalan Undip itu menuturkan boat ini akan diuji cobakan mulai dari sungai dan danau terlebih dahulu. Baru kemudian setelah menuai keberhasilan akan diuji cobakan di laut. Hal itu menurutnya, selain agar lebih efisien, juga menjadi solusi alternatif untuk pencegahan banjir akibat luapan sungai.

Sumberdaya yang melimpah, baik alam maupun manusia menjadi modal utama untuk menyelesaikan persoalan yang telah lama tak kunjung usai. Penerapan teknologi tepat guna menjadi jawaban konkret. 

“Sekarang sudah saatnya kita mencari solusi bukan mencari siapa yang salah dalam kondisi begini. Manajemen dan teknologinya akan terus kita pikirkan,” tandas dia.
Padahal sudah banyak peraturan baik nasional maupun internasional yang berisi tentang pengelolaan sampah di laut. Kemudian, terkait tugas-tugas pemerintah dalam upaya itu juga sudah bertaburan. Namun hanya saja, sambung Ahlan, pengelolaan itu perlu membutuhkan kesadaran dari hal-hal terkecil.

Peraturan hanya akan menjadi sekedar peraturan kosong jika kita tidak menaatinya. Peraturan ada untuk dipatuhi, bukan untuk dilanggar. Terbitnya suatu peraturan tentu telah melewat kajian dan disesuaikan dengan kebutuhan agar keadaan dapat berjalan dengan baik. Perlu adanya sebuah langkah awal untuk tujuan yang jauh di depan. Yaitu, Indonesia bebas sampah.

Dengan alat ini, APMI yang merupakan kumpulan anak muda yang bervisi maritim telah menggagas sebuah inovasi dan kreasi guna membersihkan lingkungan sungai dan laut dari sampah. Semuanya itu tetap dilakukan dalam bingkai visi poros maritim dunia.

Orientasi maritime kembali ditegaskan dengan pengoperasian kapal sampah ini. Jika ingin membersikan Negara maritime dari sampah, tentu yang kita butuhkan adalah kapal.

“terkadang kita lupa ketika bicara poros maritim dunia, tetapi ada masalah besar di depan kita dan nyata yang tidak diberantas,” selorohnya.

APMI kemudian mengajak masyarakat agar jangan pesimis dan sama-sama berinovasi dalam membantu meringankan tugas pemerintah. Selain itu bermanfaat dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sampah.

“Kita punya 3 motto kepada masyarakat, yaitu sampah bukan lagi problem, melainkan peluang; sampah bukan lagi masalah, melainkan berkah; dan sampah bukan dibuang, malainkan dijadikan uang,” pungkasnya.

Harapan kedepan, semakin banyak teknologi-teknologi tepat guna bervisi maritime untuk menyelesaikan permasalahan Bangsa dan Negara. Sehingga, poros maritime dunia bukan lagi sebuah visi namun Negara dan Bangsa kita hari ini. (AYY)


Sumber: maritimnews.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply