Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » Inspirasi dari Dua Generasi Wanita Pesisir


Di ujung perahu saya mengepang rambutnya, dan dengan suara lembut dan bahasa Indonesia yang kaku, dia bertanya "kapan kakak kembali kesini?”

Pada Juni 2015, saya dipilih oleh Kementerian Kemaritiman untuk mengikuti sebuah kegiatan yang merupakan mimpi saya: berlayar dan mengabdi. Lewat kegiatan Ekspedisi Nusantara Jaya, saya mencicipi secuplik perjuangan penduduk pulau terluar.

Kapal perintis yang mengantar kami dinamakan kapal Miami, dan dialah yang mengantarkan saya beserta 36 rekan relawan lain untuk menuju pulau Masalembu, Keramian, dan Matasiri. Tiga nama pulau yang tidak familiar, bukan?! Letak persisnya adalah di perairan antara Madura dan Kalimantan selatan.

Setelah sandar cukup lama di Masalembu, para ABK memberitahu bahwa kami akan dijemput oleh kapal nelayan sesampainya di pulau Keramian. Di pulau tersebut kelompok kami yang berisikan 12 orang akan mengabdi. Belum adanya dermaga yang memadai membuat transfer penumpang terjadi tengah lautan. Iya, TENGAH LAUTAN! Disana satu per satu kardus sumbangan dan kardus logistik kami turunkan. Tak lupa dengan super hati-hati kami membawa tubuh kami berpindah ke kapal yang lebih kecil, melewati sebuah tangga besi. Belum selesai ternyata tapak perjalanan, sebelum menginjakkan kaki di bentangan pulau tersebut kami masih saja harus berpindah sarana. Dari kapal nelayan menuju ke sampan. "Ini baru namanya perjuangan orang pulau terluar." Begitu otak saya menyimpulkan sambil tubuh menikmati angin khas pesisir. Perjuangan orang pulau terluar itu semakin ditegaskan saat perjalanan pulang menyaksikan seorang nenek sedang diinfus, dan harus tergeletak lemas di kerumunan penumpang kapal. Sungguh perjuangan tidak mudah, dan menegur bahwa saya (dan kita semua) kadang lupa bersyukur, atas segala kemudahan dan fasilitas. Kadang masiih saja mengeluh, padahal hidup kita jauh lebih beruntung.

Seperti perencanaan, kelompok kami akan fokus pada area pendidikan. Di hari ketiga, kami mengunjungi satu-satunya sekolah tingkat SMP. Kami tidak mengajar matematika ataupun fisika disana. Saat itu bermodal sejumput ilmu, kami membagikan wawasan soal Indonesia. Penekanan kami berikan kala membahas contoh anak-anak muda Indonesia yang telah berkarya ke kancah dunia. Kami tak lupa menyuarakan pesan ini: untuk anak di kota ataupun di pesisir terpencil PUNYA KESEMPATAN YANG SAMA untuk mewujudkan mimpi. Seketika saya merinding haru melihat puluhan wajah tertegun seolah tak percaya namun juga berbalut takjub.

"Lalu gimana caranya kak?" Tanya seorang gadis SMP.
Kawan saya menjawab mantab: "selalu ada jalan, bagi yang berusaha." Sang gadis penanya itu tersenyum.

Di lain waktu, di sela masa menjadi relawan, penduduk dengan sangat ramah membawa kami bermain ke sudut pulau dengan bentangan bebatuan cantik. Kulit menggelap eksotis dipenuhi rasa bahagia yang amat sederhana. Kala perjalanan pulang seorang gadis berwajah 'Indonesia banget' menjadi teman saya mengobrol. Dia baru menginjak SD, dan raut polosnya tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran yang kuat. Dengan bahasa tubuh malu-malu dia menanyakan seperti apa kota Surabaya itu. Untung saja ada beberapa foto yang tersimpan di ponsel, untuk dapat memberikan gambaran peradaban kota. Ponsel saya langsung menjadi rebutan dan bahan obrolan si gadis dan kawan-kawannya.

Mendekati pulau utama kami tinggal, dia menyakan kapan saya akan kembali. Saya terenyuh, menyadari bahwa hal kecil yang saya lakukan membawa arti.

Dua adegan itu saya menyadari betapa banyak anak jiwa nan polos yang menyimpan jiwa belajar yang tinggi. Dia mewakili sebagian orang yang menjadikan 'seorang asing' sebagai sumber informasi yang kaya. Sikap tanpa gengsi inilah yang agaknya jarang ditemukan di kota besar. Perempuan pesisir mewakili wajah sesungguhnya seorang Kartini: memperjuangkan hak untuk belajar!

Kegigihan wanita juga saya temukan setiap hari, ketika mencuci pakaian bersama ibu-ibu di tepi sumur. Dengan setia saya mengikuti alur percakapan mereka, misalnya soal kesulitan bahan sayur yang harus menunggu kiriman dari Jawa. Belum lagi elpiji yang sempat sangat terlambat datang. Listrik juga menjadi kendala, kadang janji 4 jam sehari tidak senantiasa tepat waktu. Mereka harus memutar otak untuk memastikan anak-anaknya tetap belajar. Ibu-ibu ini menyuarakan arti kegigihan sebenarnya. Sebuah keuletan orang pesisir yang mungkin sudah mendarah daging.

Seluruh perjalanan dan masa pengabdian itu sangat berharga dan berkesan bagi saya pribadi. Dari gadis belia ataupun ibu-ibu rumah tangga, membuat saya sadar bahwa menjadi sosok Kartini hari ini bukan lagi hanya riuh berteriak soal emansipasi. Relevansi yang saya petik adalah soal spirit mengambil peran signifikan dalam memperbaiki negeri, tentang kerendahan hati untuk terus belajar dan keuletan bertahan hidup.


Oleh: Claudya Tio Elleossa



Edisi Hari Kartini pemudamaritim.com memberi kesempatan untuk pemuda-pemudi Indonesia berbagi cerita inspiratif mengenai perjuangan perepuan dibidang kemaritiman (Pendidikan,Ekonomi, budaya dll) atau gambaran kehidupan perempuan pesisir.

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

1 komentar:

  1. Sekarang udah ada SMA di sana, tp masih numpang ma SD tempatnya, hehehe mungkin nanti ada pembangunan lg.
    tetep berdo'a aja bareng-bareng buat kesejahteraan masyarakat Indonesia umumnya dan P.Kramaian khususnya, hehe..

    BalasHapus