Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » Nelayan Perlu Tingkatkan Teknologi

Pemuda Maritim - Melindungi dan menjaga teritorial wilayah perairan terus diupayakan demi kedaulatan Republik Indonesia. Hal itu pula yang diwujudkan Pemerintah Provinsi Lampung yang terus mendorong peningkatan produksi nelayan di perairan Lampung, serta melindungi wilayah perairan dari aksi pencurian ikan oleh pihak asing.

Berdasarkan UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, bahwa gubernur melakukan pengawasan perairan dan laut mulai dari 0 sampai 12 mil dari bibir pantai dan mengawasi penggunaan kapal mulai 6 sampai 30 gross tonnase (GT).

Melalui Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Lampung pengawasan tersebut terus dioptimalkan. Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKP Lampung Zainal Karoman mengatakan nelayan Indonesia, khususnya di Lampung, perlu melakukan transformasi alat tangkap dari sistem tradisional menuju teknologi canggih.

"Kalau ikan itu sesuai dengan sifatnya di bibir pantai tidak mungkin terdapat ikan besar dan berkualitas baik," ujarnya di ruang kerjanya, Rabu (30/3/2016).

Zainal memaparkan ikan berkualitas diperoleh di jarak 12 mil, sementara armada nelayan di Lampung belum bisa menjangkau ke jarak itu. "Baru bisa menjangkau di jarak 4 mil, kalau hanya di situ ya enggak akan ketemu ikan. Wilayah yang bagus yaitu di 12 mil untuk hasil tangkapan," kata dia.

Oleh karena itu, diperlukan adanya perubahan, yaitu nelayan harus menguasai informasi teknologi (IT). "Nelayan bisa menangkap ikan dengan memanfaatkan teknologi seperti di luar negeri, Jepang bahkan Thailand sekalipun sudah menggunakannya," ujarnya.

Selain perangkat canggih, alat kerja, sumber daya manusia (SDM) di dalam kapal juga perlu memiliki skill untuk mengendalikan teknologi tersebut. "Ini yang masih tertinggal, di seluruh nelayan Indonesia masih belum bisa beradaptasi karena mereka merasa lebih nyaman menggunakan alat tradisional. Contoh nelayan Thailand, mereka sudah canggih sehingga bermain di 12 mil," kata Zainal.

Sebab, secara ilmiah sifat ikan hanya bertelur dan menetaskan telur di wilayah karang dan mangrove yang berada di pinggir pantai. Setelah ikan tumbuh besar, akan berenang ke tengah laut.

"Untuk mencari ikan yang besar nelayan harus bermain di laut dalam. Namun, kemampuan nelayan lokal belum mencapai ke sana. Perangkat yang terbatas jadi masalah. Karena mengubah teknologi canggih dari tradisional agak sulit," kata dia.
Keuntungan mencari ikan dengan teknologi digital tentu lebih efisien. Alat yang digunakan yaitu global positioning system (GPS), fish finder, radar, dan beberapa perangkat lainnya.

"Itulah yang saat ini kami dorong agar nelayan bisa bertransformasi dari alat tangkap tradisional ke teknologi. Memang membutuhkan waktu yang panjang untuk menyosialisasikan kepada masyarakat," katanya.

Alat standar yang digunakan dalam satu kapal yaitu dikendalikan sistem IT memiliki perangkat sonar, fish finder, GPS, dan radar.

"Setiap tahun kami sosialisasikan kepada kelompok nelayan, dan nakhoda kapal se-Lampung melalui dinas dan UPTD kabupaten/kota. Kami beri penyuluhan melalui ketua koperasi atau ketua kelompok kepada sebagian nelayan karena anggaran pemerintah untuk menyosialisasikan sangat terbatas," ujarnya.
Bahkan, tahun lalu DKP memberikan bantuan 60 unit fish finder untuk semua nelayan.

"Kami sudah beri bantuan sesuai kemampuan APBD dan APBN tahun lalu 2015, kami beri 60 unit fish finder dan sudah diaplikasikan nelayan, tapi kami evaluasi apakah ada perubahan penambahan pendapatan ikan atau justru berkurang. Kalau berkurang kemungkinan masalah SDM-nya atau sistem alatnya," kata Zainal.

Nelayan Gudanglelang, Telukbetung, Bandar Lampung, Suhafi, mengatakan alat modern bisa saja digunakan nelayan, tapi hingga saat ini belum ada solusi soal penggunaan alat tersebut.

"Kapal kami bisa saja menggunakan teknologi sonar dan sebagainya, tapi kapal kami kapasitasnya di bawah 30 GT. Kalau mau menjelajah ke laut dalam ya enggak bakal kuat, malah hancur diterjang ombak," ujar Suhafi saat ditemui di Gudanglelang.

Menurutnya, jumlah ikan tak ditentukan oleh laut berjarak 12 mil. Sebab, ikan bergerak dinamis. "Enggak bisa ditentuin ikannya, kan namanya selalu bergerak. Kalau saya di laut ya gitu, buktinya di Labuhanmaringgai di tepi pantai saja banyak ikan, bahkan cumi-cumi," kata Suhafi.
Sumber : lampost.co

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply