Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Tempat Pelelangan Ikan Sempit, Nelayan di Malang Rugi Rp1 M

Pemuda Maritim - Nelayan pesisir Pantai Sendangbiru Kabupaten Malang, mengalami kerugian rata-rata sekitar Rp1 miliar per hari karena adanya keterlambatan proses lelang akibat sempitnya area Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang baru dibangun pemerintah.

Kepala Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang Soedarsono mengemukakan, keterlambatan lelang menyebabkan penurunan kualitas ikan. Sehingga, otomatis harganya juga turun.

"Kami perkirakan kerugian akibat penurunan kualitas ikan dan harga tersebut mencapai Rp1 miliar per hari. Kerugian itu timbul karena ikan harus antre sebelum dilelang. Antrean di luar ini yang menyebabkan ikan kepanasan dan akhirnya rusak," kata Soedarsono yang juga nelayan di Sendangbiru, Kabupaten Malang, di Malang, Jumat (29/4/2016).

Selain antrean yang cukup panjang, katanya, desain lantai yang kasar juga berkontribusi merusak kulit ikan. "Kami kecewa dengan desain TPI yang baru, sehingga kami menolak menggunakan TPI baru. Desain TPI yang baru tidak sesuai dengan kesepakatan awal," ujarnya.

Akibat desain yang keliru itu, lanjutnya, nelayan harus merugi setiap hari dan angkanya juga tidak sedikit, yakni Rp1 miliar.

"Untuk menghindari kerugian terus menerus, nelayan memilih mendirikan tenda di depan bangunan TPI untuk melakukan lelang ikan hasil tangkapan mereka agar lebih cepat," ucapnya.

Lambatnya proses pelelangan di TPI yang baru itu disebabkan desain TPI yang terlalu sempit karena banyaknya meja beton mirip pasar ikan yang justru menghambat proses lelang dan yang lantainya kasar bisa memicu kerusakan ikan yang diseret di atasnya.

Selain itu, kata Ketua Kelompok Nelayan Rukun Jaya Desa Pondok Dadap Sendangbiru, Soemaji, pintu masuk juga sangat sempit. Padahal dulu tidak ada pintu masuk, sehingga ikan bebas keluar masuk.

"Kalau dulu kan los, tidak ada bangunan apa pun di dalamnya," tutur Soemadji.

Saat musim panen ikan, hasil nelayan Sendangbiru bisa mencapai 300 ton per hari, sehingga keberadaan pintu masuk tersebut akan menghambat alur ikan menuju ruang lelang. Akhirnya, ikan hasil tangkapan nelayan harus antre di luar ruangan yang berdampak pada kualitas ikan karena kepanasan di bawah sinar matahari.

"Bangunan TPI yang baru ini juga hanya mampu menampung ikan hasil tangkapan sekitar 100 ton saja, sehingga antrean untuk lelang semakin panjang. Solusinya, nelayan mendirikan tenda untuk melakukan proses lelang," urainya.

Menanggapi keluhan nelayan tersebut, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupayen Malang M Nasri Abdul Wahid mengatakan TPI Sendangbiru adalah milik Pemprov Jatim. Pihaknya hanya berhak menempati dan mengelola, sehingga DKP setempat tidak bisa berbuat apa-apa ketika ada keluhan dari nelayan.

"Kami sudah mengkomunikasikan keluhan nelayan ke Dinas Perikanan Provinsi Jatim, bahkan sudah turun ke lapangan. Jika Dinas Perikanan Provinsi Jatim memberikan instruksi teknis, kami siap melaksanakannya," kata Nasri.

Menurut Nasri, TPI baru tersebut didesain untuk TPI higienis. Namun, nelayan belum menerima sosialisasi penggunaan TPI higienis.

"Sayangnya kami juga tidak punya tenaga ahli yang bisa memberi penyuluhan tentang TPI higienis. Seharusnya memang Pemprov Jatim yang melakukan sosialisasi," ujar Nasri.
Sumber : okezone.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply