Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » Tiongkok Bangun Pulau Buatan dan Tembok Raksasa untuk Perkuat Klaim di Laut China Selatan

doc. jakartagreater.com
Pemuda Maritim -  Konflik di Laut China Selatan semakin memanas. Tiongkok melakukan beberapa langkah strategis untuk mengokohkan posisinya disana. Beberapa langkah diambil meskipun langkah tersebut tidak dapat dibenarkan.

Sebelumnya, Tiongkok telah menempatkan kapal perang di Laut China Selatan. Sehingga hegemoninya sebagai salah satu negara super power yang berpengaruh di Laut Cina Selatan tetap terjaga.

Tidak hanya menempatkan kapal perang dan patrolinya di Laut Cina Selatan, Tiongkok rupanya juga sedang membangun pulau buatan yang berada tepat di sebelah Kepulauan Spratly milik Vietnam. Sebagai gambaran, Kepulauan Spartly sendiri status kepemilikannya kerap disengketakan antara Vietnam dan Tiongkok.

Pulau buatan Tiongkok dari hasil reklamasi yang berada di Fiery Cross Reef, juga memiliki bandara dan landasan pacu sepanjang 3000 m, atau enam kali lebih panjang dari landasan pacu Vietnam yang berada di Kepulauan Spratly. Bandara tersebut pula nantinya akan terparkir berbagai macam jenis pesawat tempur, seperti jet tempur Sukhoi seri 27  dan 33.

"Langkah selanjutnya adalah, setelah mereka mengujinya dengan beberapa pesawat, mereka akan menempatkan kekuatan udara mereka - SU-27s and SU-33's - dan akan ditempatkan secara permanen, itu yang akan mereka lakukan." sebut Leszek Buszynski, pengamat militer dari Australian National University's Strategic and Defence Studies Centre, pada 5 Januari 2016 lalu.

Dengan bandara tersebut, Tiongkok nantinya akan membentuk ADIZ (air defense identification system) dan akan mengharuskan setiap pesawat yang masuk ke wilayah udara bandara tersebut untuk melapor ke otoritas Tiongkok.. 

"Semua fasilitas yang ada dalam pulau ini akan memungkinkan Tiongkok mengawasi setiap perahu nelayan, kapal penjaga pantai, dan kapal perang di negara lain, dan kemudian melakukan kegiatan penindakan menggunakan aset militer yang Tiongkok miliki di pulau tersebut," sebut sebuah laporan yang berjudul 'Chinese Land Reclamation in the South China Sea: Implications and Policy Options', ditulis oleh lembaga penelitian Kongres AS, Congressional Research Service.

Pembangunan pulau ini sudah berlangsung sejak September 2013, dengan reklamasi pasir.Sejauh ini, Pulau seluas 809 hektar ini belum ditempati oleh pesawat militer. namun pada Januari 2015, Tiongkok sudah mengadakan beberapa kali uji coba pendaratan pesawat sipil.

Selain itu, Cina diam-diam terus melakukan aktivitas di wilayah perairan Spratly. Baru-baru ini Cina diketahui tengah membangun sebuah tembok raksasa yang dibangun dari pasir di kepulauan Spartly.
Berbicara pada konferensi angkatan laut di Australia, Kepala Armada Pasifik Amerika Serikat Laksamana Harry Harris Jr mengatakan, Cina telah "memompa pasir di pulau yang terkenal dengan terumbu karang hidupnya dan merusaknya. Mereka melapisi di atasnya dengan beton. Cina telah membangun  lebih dari 4 kilometer persegi (1,5 mil persegi) daratan buatan di kepulauan itu. 
Harris mengingatkan bahwa wilayah tersebut dikenal dengan alamnya yang indah, tetapi  Cina telah menciptakan tembok besar pasir menggunakan kapal keruk dan buldoser selama berbulan-bulan.
Terumbu karang yang menghiasi kepulauan Spratly telah berubah menjadi pulau buatan dengan bangunan, dermaga dan landasan pacu.
Kekhawatiran utama militer AS dan negara  lainnya adalah  tujuan pembangunan di pulau itu  karena berpotensi dapat digunakan untuk militer dan fasilitas lainnya guna memperkuat klaim teritorial negara.
"Tapi apa yang benar-benar menarik banyak perhatian di sini adalah reklamasi lahan oleh Cina tersebut belum pernah terjadi sebelumnya," kata Harris.
Sementara Cina mengklaim sebagian besar wilayah Laut Cina Selatan.  Klaim serupa datang dari Filipina, Vietnam, Taiwan, Brunei, dan Malaysia. Awal bulan ini Vietnam dan Filipina mengajukan protes diplomatik dengan Beijing. (Amir)

Sumber: m.tempo.com & jitunews.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply