Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » UU Nelayan Belum Menjamin Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan Nelayan, Serta UU Nelayan Lemahkan Koperasi

Pemuda Maritim - Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) bersama Hasil kajian Kelompok Kepentingan Perempuan Pesisir dan Nelayan (KKPPN)  menyebut UU Nelayan berpotensi melemahkan koperasi nelayan.

DPR RI pada tanggal 15 Maret 2016 telah mengesahkan RUU Pemberdayaan Dan Perlindungan Nelayan Pembudidaya ikan dan Petambak Garam sebagai undang-undang (selanjutnya akan disebut UU Nelayan) dalam sidang Paripurna Koalisi Perempuan Indonesia sebagai organisasi masa perempuan yang memiliki anggota Kelompok Kepentingan Perempuan Pesisir dan Nelayan merasa perlu untuk menyampaikan adanya UU tersebut kepada anggota dan masyarakat luas. Untuk melihat bagaimana sesungguhnya UU ini akan mampu untuk memberikan jaminan dan perlindungan sosial serta pemberdayaan perempuan nelayan Indonesia sekaligus memperingati Hari Nelayan Nasional pada tanggal 6 April .

Tengah Maret lalu, DPR resmi mensahkan Undang-Undang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan, dan Petambak Garam hari ini. RUU inisiatif pemerintah ini lolos dari rapat paripurna DPR tanpa penolakan dari fraksi. Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti optimis UU ini akan meningkatkan kesejahteraan para nelayan, pembudidaya ikan, dan petambak garam.

Dalam acara jumpa pers Minggu(10/4) yang dihadiri antara lain Presidium Nasional KKPPN, Bibik Nurudduja,  Ketua Koperasi Wanita Pesisir Manado Lisbeth Tatuhas, Seknas Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi Indry Oktaviani, Masnuah, Yumi M.Foeh, Hasnani, Robiah Rawang, Siti Asmawati, Nuraini

Indry Oktaviani dari Seknas Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi mengungkap bahwa UU Nelayan itu akan membuka perbankan yang tidak hanya dimiliki daerah dan pusat, tetapi juga perbankan swasta.

“Kami mendorong negara untuk tetap mengakui itu (koperasi nelayan-). Karena ketika UU berpotensi melemahkan koperasi maka akan melemahkan gerakan perempuan. Karena perempuan ketika berkelompok akan mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga. Misalnya harga ikan Rp10 ribu akan diolah perempuan menjadi abon, sambal atau kerupuk,” papar Indry

Koalisi Perempuan Indonesia juga dinilai melemahkan fungsi koperasi nelayan, karena dalam kenyataannya dana pinjaman lembaga keuangan yang digulirkan pemerintah lebih mengutamakan kesejahteraan pemilik modal dan swasta.

Dalam gelar pers konfrens yang digelar Koalisi Perempuan Indonesia  meminta kepada pihak pemerintah dan parlemen untuk melakukan revisi UU Nelayan atas analisa dan kajian yang telah dijelaskan diatas.

Hal ini diajukan untuk dapat memberikan perlindungan kepada perempuan nelayan dan semua nelayan, pembudidaya ikan dan petambak garam. Di tempat yang sama KKPPN, Lisbeth Tatuhas, Ketua Koperasi Wanita Pesisir Manado menambahkan sistem koperasi selama ini telah banyak membantu perempuan nelayan dalam pemberian bantuan modal pengolahan ikan.

“Koperasi nelayan harus dilindungi karena penting. Saya terlibat koperasi membantu masyarakat dalam membantu mereka mengenalkan usaha mereka. Bahkan mereka pinjam misalnya 5 juta bukan untuk beli televisi atau apa. Tapi beli mesin (pengolah ikan-red) nanti mereka angsur secara gampang kan,” jelas  Lisbeth

Presidium Nasional KKPPN, Bibik Nurudduja mengatakan, potensi pelemahan tersebut terlihat pada penunjukkan perbankan di UU Nelayan sebagai penyedia modal usaha nelayan.

Kata dia, lembaga perbankan pada umumnya lebih menyejahterakan pemilik modal dan swasta. Berbeda dengan sistem koperasi yang lebih menyejahterakan anggota karena keuntungan mereka akan kembali lagi kepada nelayan.

“Tentang kekhawatiran kami tentang penunjukan negara yang mengarahkan permodalan nelayan melalui perbankan karena koperasi adalah sistem perekonomian kerakyatan kita. Itu identitas bangsa tidak hanya nilainya berapa tapi sistem ini mengakui kedaulatan ekonomi,” tutup Bibik.
Sumber : www.beritaglobal.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply