Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Antisipasi Ancaman Pembangunan Giant Sea Wall Jakarta Terhadap Nelayan, Melalui Program Socio-Eco-Preneur Dan Regulasi Ekonomi Masyarakat Pesisir



Pemuda Maritim -  Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan alam laut yang menjanjikan terutama dalam memenuhi sektor pangan masyarakat yaitu perikanan. Terkait dengan perikanan, nelayan merupakan salah satu profesi yang berhubungan erat. Nelayan memiliki peran yang signifikan dalam upaya mewujudkan kestabilan pangan Indonesia. Dimana dengan berhasilnya nelayan meningkatkan produktivitas dan pemberdayaan sumber daya laut maka secara sinergis akan memajukan bangsa Indonesia sendiri baik internal maupun eksternal, mengingat bangsa Indonesia dikenal sebagai negara eksportir ikan terbesar di Dunia. 

Sektor perairan dan kelautan dewasa ini seiring dengan waktu mulai mendatangkan dampak apabila tidak dirawat dengan baik. Indonesia merupakan negara yang sering dilanda bencana. Selama periode 2000 sampai 2011, dari sekian banyak bencana secara nasional, 77 persen bencana yang terjadi merupakan bencana hidrometeorologi. yaitu banjir, angin puting beliung, longsor. Pada bulan Januari 2013, terdapat sekitar 120 kejadian bencana di Indonesia (BNPB, 2013). Salah satu bencana yang paling sering dialami oleh masyarakat Indonesia adalah Banjir

Salah satu wilayah yang sering terjadi bencana banjir adalah Jakarta yang dimana sebagai ibukota Indonesia dan merupakan pusat aktivitas ketatanegaraan yang vital. Kasus banjir di Jakarta umumnya disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu kurang baiknya penataan seta kondisi drainase di beberapa wilayah, serta terjadinya penurunan muka tanah (land subsidence). 

Guna mengatasi hal tersebut, pemerintah Jakarta mulai mengusung pembangunan sebuah tanggul raksasa yang dinamakan Giant Sea Wall. Konsep ini dipercaya dapat meningkatkan perkeonomian. Namun kenyatannya, pembangunan Giant Sea Wall (GSW) diprediksi akan memberi dampak negatif kepada pelaku usaha perikanan, karena mereka kehilangan akses terhadap sumberdaya, perairan, lahan pesisir dan perdagangan akibat perairan yang dialihfungsikan (Zulham, 2014). 

Berdasarkan pemaparan diatas maka diperlukan sebuah solusi guna mengantisipasi ancaman profesi nelayan akibat rencana pembangunan Giant Sea Wall (GSW) di Jakarta dan daerah lain yang berpotensi meniru dalam pengaplikasian teknik serupa dalam penanganan banjir. Langkah pertama yaitu adalah Sosialisasi secara transparan dan akuntabel pada pihak nelayan, melalui pelatihan perikanan sistem tambak dan bantuan modal prospektif bagi nelayan. Program sosialisasi ini perlu dilaksanakan sedini mungkin untuk memberikan jarak waktu persiapan yang lebih matang kepada nelayan.

Kedua yaitu dengan merencanakan fungsi lahan berdasarkan rekomendasi penyusunan regulasi terhadap pulau hasil reklamasi sebagai daerah kompensasi sebagai media pengembangan sektor perikanan. Menurut Zulham (2014) regulasi ini terkait dengan fungsi 3 pulau hasil reklamasi yaitu salah satu dijadikan sebagai daerah wisata bahari (ecowisata), pulau kedua sebagai usaha pengembangan perikanan skala kecil dan pengolahan hasil perikanan serta pulau ketiga sebagai basis pengembangan perikanan budidaya dan industri pengolahan.

Terkhir, kedua langkah diatas perlu diimbangi dengan ketersediaan sumber daya manusia yang mapan. Hal ini dapat dilakukan dengan asistensi dan pelatihan pembudidayaan dan pengolahan hasil perikanan terpadu pada nelayan dengan maksud agar dapat mengembangkan dan memperkuat usaha dan perekonomian sebagai seorang nelayan. Melalui program terpadu Sosio-Eco-Preneur dimana dilakukan dengan meningkatkan inovasi teknologi untuk mendukung mata pencaharian alternatif disamping perikanan salah satunya budidaya kerang hijau serta pengolahannya. Masyarakat perlu mendapat kompensasi dalam rencana pembangunan Giant Sea Wall dengan membentuk semangat kewirausahaan dan jiwa sosial dalam menopang dan memanfaatkan potensi sosial dari pelapisan sosial yang ada. Dengan menempatkan masyarakat yang berperan dalam sektor perikanan sebagai subjek pembangunan dalam menghadapi transformasi pembangunan pada kawasan Giant Sea Wall tersebut (Zulham,2014).


Oleh:
Putu Priyana Pradipta ( Siswa XI MIPA, SMA N 3 Denpasar Bali)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply