Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Desa Inovasi Nelayan, Riwayatmu Kini

Pemuda Maritim - Bung Karno selalu mengatakan dalam trisaktinya yaitu berdaulat dalam politik, mandiri dalam ekonomi dan berkepribadian dalam budaya memberi semangat dan arah agar Bangsa Indonesia mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Karena itu berbagai program Kementerian ditawarkan untuk membangun bangsa menuju kedaulatan dan kemandirian, salah satu program yang telah diluncurkan adalah Pemberdayaan Nelayan melalui Desa Inovasi. Sehingga Desa Inovasi Nelayan pernah menjadi program di Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) yang bertujuan untuk meningkatkan ekonomi dan daya saing nelayan melalui penguatan inovasi. Program itu dilakukan pada tahun 2014-2015. Bahkan pada saat acara puncak Hari Nusantara tahun 2014, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi dengan tegas menyatakan akan mendorong pembangunan 1.000 Desa Inovasi Nelayan dalam 1.000 hari melalui koordinasi sinergis dengan kementerian terkait lainnya. Namun sekitar setahun berjalan, dentuman desa inovasi nelayan seakan tertelan bumi, yaitu tepatnya ketika prioritas perhatian pemerintah tertuju pada penyelesaian masalah sangat mendesak seperti struktur organisasi dan tatalaksana kementerian, infrastruktur serta pembangunan fasilitas-fasilitas strategis nasional lainnya.

Nampaknya akhir-akhir ini angin segar mulai berhembus, dimana perhatian pemerintah terhadap masyarakat nelayan mulai terlihat, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yaitu setelah penenggelaman kapal ilegal fishing. Program penguatan ekonomi nelayan mulai terlihat dengan telah dimuatnya tawaran lelang di LPSE kepada industri galangan kapal untuk membuat ribuan kapal-kapal ukuran kecil dan ukuran sedang bagi nelayan yang tersebar di Indonesia. Tentu hal itu akan diikuti oleh program-program pendukung sinergis dari kementerian terkait lainnya. Jika ini terjadi maka Desa Inovasi Nelayan akan tumbuh seperti jamur di berbagai kota nelayan di seluruh Indonesia, dan nelayan akan sejahtera baik secara ekonomi maupun sosial.

Data Kemiskinan di Indonesia.

Di sisi lain, tidak bisa dipungkiri bahwa Indonesia telah mampu bertahan pada tingkat pertumbuhan ekonomi tertentu di saat krisis, dan itu tidak bisa dicapai oleh sebagian negara lain manapun di ASEAN. Namun kenyataan membuktikan tingginya angka pertumbuhan ekonomi tidak semata mencerminkan kemakmuran masyarakat, dalam beberapa fakta, “kue” pembangunan hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang kaya, yaitu orang yang dinobatkan sebagai pelaku pembangunan dan memiliki perusahaan besar. Atas nama pembangunan, masyarakat miskin digusur dan diusir dari tempat tinggal mereka, lalu dibuatlah “Central Business District” seperti perkantoran, mall, pusat bisnis dan tempat hiburan. Padahal pembangunan ekonomi akan berarti jika meningkatnya pertumbuhan ekonomi dibarengi dengan pemerataan penghasilan. Sebaliknya masyarakat kecil terutama yang hidup di pinggiran dan lorong kota, desa, tempat-tempat terpencil dan bahkan di perbatasan tidak bisa menikmati “kue” pembangunan.

Masyarakat kecil yang biasanya hidup subsisten, miskin, dan tidak memiliki pengetahuan maupun strategi yang cukup untuk hidup layak, cenderung menjadi penonton di negerinya sendiri. Inilah yang menyebabkan jumlah penduduk miskin di Indonesia mengalami kenaikan, sebagaimana terlihat dari data yang disajikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dalam rekapitulasi sensusnya. Dalam rekapitulasi itu menegaskan bahwa pada bulan Maret 2015, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 28,59 juta orang (11,22 persen), bertambah sebesar 0,86 juta orang dibandingkan dengan kondisi September 2014 yang sebesar 27,73 juta orang (10,96 persen). Sedangkan persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2014 sebesar 8,16 persen, naik menjadi 8,29 persen pada Maret 2015. Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan naik dari 13,76 persen pada September 2014 menjadi 14,21 persen pada Maret 2015. Sehingga selama periode September 2014–Maret 2015, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan naik sebanyak 0,29 juta orang (dari 10,36 juta orang pada September 2014 menjadi 10,65 juta orang pada Maret 2015), sementara di daerah perdesaan naik sebanyak 0,57 juta orang (dari 17,37 juta orang pada September 2014 menjadi 17,94 juta orang pada Maret 2015).

Data itu juga menyajikan peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan pada Maret 2015 tercatat sebesar 73,23 persen, kondisi ini tidak jauh berbeda dengan kondisi September 2014 yaitu sebesar 73,47 persen. Komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan di perkotaan relatif sama dengan di perdesaan, diantaranya adalah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, gula pasir, tempe, tahu, dan kopi. Sedangkan, untuk komoditi bukan makanan diantaranya adalah biaya perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi.

Melihat data di atas menegaskan bahwa program pengentasan kemiskinan belum terlihat dampaknya secara signifikan. Apalagi peranan terkuat garis kemiskinan adalah komoditas makanan termasuk rokok kretek filter. Harapan baru menurunkan angka kemiskinan di Indonesia adalah mengarah kelaut. Laut Indonesia memiliki luas 70% dari seluruh wilayah daratan, memiliki sumber daya alam luar biasa yang belum dimanfaatkan secara optimal, memberi harapan sebagai wahana pembangunan ekonomi masyarakat agar Indonesia secepatnya terlepas dari jurang kemiskinan.

Bagaimana caranya?

Desa inovasi Nelayan dapat dijadikan wahana untuk mengemplementasikan program dan kegiatan inovatif di lingkungan komunitas nelayan. Desa Inovasi Nelayan bertujuan untuk: (a) membangun ekonomi nelayan lokal berbasis Iptek masyarakat, (b) mengoptimalkan potensi laut di daerah secara efektif, efisien dan berkelanjutan, (c) membangun jejaring untuk melindungi sektor-sektor ekonomi nelayan yang masih lemah, (d) memelihara daya dukung dan lingkungan hidup di laut dan kawasan pantai, (e) Minciptakan iklim investasi yang kondusif bagi industri maritim, dan (f) membangun kewirausahaan nelayan berbasis iptek kelautan.

Sedangkan kerangka strategis Desa Inovasi Nelayan adalah terbuka pada ide kreatif dengan tujuan yang jelas dan rasional, berpikir strategis dan konsisten, fokus pada kompetensi dan potensi terbaik daerah, meningkatkan daya saing ekonomi daerah, mewadahi tim ahli dalam suatu forum komunikasi terbaik, membantu hasil desiminasi hasil riset dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Langkah yang harus dilakukan oleh pemerintah?

Desa Inovasi Nelayan setidaknya harus mampu mengembangkan teknologi alat produksi dan produk-produk hasil inovasi. Tidak hanya itu, bersamaan dengan upaya penguatan Iptek di Desa Inovasi Nelayan, semestinya juga dilakukan pengembangan pasar, peningkatan kerjasama saling menguntungkan dengan pihak-pihak lain, penguatan organisasi dan tatakelola kelembagaan, serta mengembangkan manajemen resiko. Sumber daya manusia sebagai pelaku usaha sebaiknya diperankan orang dari dan yang tinggal di daerah itu, jika diperlukan tingkatkan pengetahuannya dengan cara dididik melalui jenjang akademik maupun non akademik. Karena itu fasilitas pendidikan juga perlu ditingkatkan terutama terkait dengan pendidikan keterampilan, kursus, pelatihan termasuk pendampingan usaha. Sumber daya manusia sebagai pelaku kegiatan seharusnya mendapat fasilitas yang cukup, seperti perumahan, kantor, akses konektivitas dan informasi. Maka sinergi antara Perguruan Tinggi lokal, Pemerintah Daerah dan Pengusaha serta masyarakat setempat mutlak dilakukan. Asosiasi usaha berbasis Iptek, Dewan Riset Daerah, lembaga Intermediasi, dan Universitas seharusnya berperan aktif dalam memajukan Desa Inovasi Nelayan.

Demikianlah sedikit tukar pikiran tentang strategi pengembangan Desa Inovasi Nelayan. Sebagai penutup, marilah kita membangun negara tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi yang notabene pelakunya adalah industri besar, namun perlu juga membangun negara mulai dari pinggiran, pulau-pulau kecil terluar, perbatasan, pesisir dan pedalaman. Langkah itu dilakukan sebagai upaya untuk pemberdayaan dan pemerataan penghasilan masyarakat menuju masyarakat yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian. Insha Allah…..

*) DR.Ir. Agus Puji Prasetyono, M.Eng.
*) Penulis adalah Staf Ahli Menteri Bidang Relevansi dan Produktivitas, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.
*) Anggota Dewan Pembina PERMATANI Indonesia
Sumber : www.ristekdikti.go.id

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply