Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » Kerang dan Reklamasi


Pemuda Maritim - Minggu (15/05), Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI) berkesempatan turun ke lapangan, tepatnya ke kawasan pemberdayaan masyarakat perikanan di Kali Baru, Cilincing, Jakarta Utara. Kegiatan ini merupakan rangkaian acara Rapat Kerja Nasional II Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia tahun 2016 yang sudah terselenggara sehari sebelumnya.

Agenda hari kedua ini, dilangsungkan di PAUD yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat perikanan yang dikomandoi Pak Taher. Kurang lebih dua jam kami berbincang dan berdiskusi tanya jawab tentang sejarah pendirian PAUD, isu reklamasi, serta kondisi sosial ekonomi masyarakat nelayan Cilincing.

Di sela-sela bincang hangat kami dengan beberapa nelayan yang juga diundang Pak Taher untuk bergabung berdiskusi, tiba-tiba kami disuguhi kerang hijau yang cukup berbeda dari kerang biasanya. Kaget bukan kepalang. Ternyata kerang-kerang ini pun juga terkena imbas pembangunan mewah reklamasi teluk Jakarta yang digagas pemprov DKI Jakarta dengan para perusahaan pengembang ternama itu.

Kami lantas diajak melihat langsung bagaimana kerang-kerang ini diolah. Kami diberi kesempatan yang sangat berharga untuk berkunjung dan bercengkrama dengan para pembudidaya kerang hijau yang letaknya tidak jauh dari PAUD, tempat kami berkumpul.




Menurut nelayan di sana, kerang yang berwarna hijau ini – memang lazimnya yang kita tahu berwarna hijau – adalah kerang yang masih segar, masih 'sehat'. Berbeda dengan kerang yang berwarna hitam, mereka bilang, kerang yang cangkangnya berwarna hitam ini akibat putaran arus air yang tidak stabil sebagai imbas adanya pembangunan reklamasi teluk Jakarta. Kerang-kerang yang awalnya berwarna hijau mencolok menjadi hitam dan rasanya menjadi tidak enak. Ternyata adanya perubahan pada kerang-kerang ini terjadi sejak dua tahun yang lalu, saat reklamasi mulai gencar-gencarnya diberlakukan.

Inilah bukti temuan bahwa reklamasi berdampak negatif terhadap ekosistem laut, khususnya kerang hijau sebagai salah satu hasil tangkapan nelayan Cilincing. Rasanya sedih sekali mendengar kisah mereka perihal rusaknya ekosistem laut kita ini. Tapi apa daya, mereka para nelayan hanya bisa bertahan.

Ya, untuk saat ini dan mungkin seterusnya, mereka hanya mampu bertahan. Bertahan mencari nafkah untuk keluarganya, untuk istrinya, untuk anak-anaknya, dan untuk cucu-cucunya. Mungkin yang mereka sadari saat ini adalah tidak ada yang bs diharapkan dari siapapun. Termasuk pemimpin daerah yang mereka pilih pada pilgub yang lalu, nyatanya penguasa Jakarta lebih suka melihat hotel, apartemen, rumah mewah, yacht, dan kapal pesiar utk mendatangkan investor, dari pada menyelamatkan kehidupan perekonomian masyarakat nelayannya dan ekosistem laut yang terlihat jelas di depan kelopak matanya.

Saya jadi teringat visi pemerintah yang digagas presiden Joko Widodo, visi Indonesia menjadi Poros Maritim Dunia. Berbicara maritim, berarti bicara pengelolaan sumber daya laut. Bicara manusia yang juga mengolahnya. Tapi, rupanya sumber daya laut-nya (sudah) terancam hancur. Begitupun sumber daya manusia-nya. Jadi, dengan keadaan seperti ini, apa masih layak visi Poros Maritim Dunia itu pak Presiden? Hanya gelombang samudera yang bisa menjawabnya.


oleh:
Ahmad Pratomo
Kepala Bidang Kajian Sejarah dan Budaya Bahari 
Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply