Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » MEWUJUDKAN DESA NELAYAN MANDIRI MELALUI KONSEP TRIPLE HELIX

Foto: http://desamerdeka.id/

Pemuda Maritim - Masyarakat desa nelayan acap kali menjadi objek atas ketidaksesuaian kebijakan pemerintah daerah. Hal ini telah dibuktikan oleh penulis yang tergabung dan menjabat sebagai ketua koordinasi unit Kuliah Kerja Nyata – Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat Universitas Gadjah Mada Bangka Belitung 03 (KKN-PPM UGM BBL 03) di Dusun Tuing, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung. Unit berhasil menggali informasi dengan metode observasi dan wawancara mengenai kebijakan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bangka yang hanya mendorong masyarakat untuk menjadi sekedar nelayan tradisional dengan pemberian insentif berupa jala tangkap dan mesin tempel dalam jumlah minim. Padahal, hasil penelitian yang dikerjakan unit menunjukkan adanya potensi lahan laut di dusun tersebut yang dapat dimanfaatkan untuk pembudidayaan rumput laut. Pada titik ini, unit melihat kurangnya inovasi dalam basis penelitian yang diupayakan oleh pemerintah daerah, khususnya DKP Kabupaten Bangka. Maka dari itu, esai ini akan membahas pentingnya penerapan konsep triple helix dalam mewujudkan desa nelayan mandiri melalui refleksi hasil penelitian unit KKN-PPM UGM BBL 03.

Secara umum, konsep triple helix menggambarkan sebuah skema kerja sama yang melibatkan pemerintah, swasta, dan universitas. Menurut Etzkowits dan de Mello (2004), kerja sama kolaboratif yang saling berhubungan antara universitas, industri (swasta), dan pemerintah dapat memproduksi pengetahuan dan inovasi. Di dalam skema triple helix, universitas memiliki peran pokok dalam implementasinya (Razak dan Saad, 2007: 212). Namun, menurut Gunasekara, universitas tidak lagi berperan hanya sebagai lembaga yang berfokus pada pengajaran, akan tetapi masuk dalam pelayanan masyarakat (Gunasekara, 2004: 229). Melalui konsep ini, produksi pengetahuan dan inovasi yang tepat sasaran bagi masyarakat dapat terwujud atas pertimbangan kapasitas dari sektor-sektor yang ada.

Skema kerja sama kolaboratif di atas telah dibuktikan oleh unit KKN-PPM UGM BBL 03 sebagai solusi yang tepat menjadikan Dusun Tuing sebagai desa nelayan mandiri. Pertama, unit telah berhasil membentuk kerja sama dengan DKP Kabupaten Bangka dan Johannes (pengusaha rumput laut di Kabupaten Koba). Kerja sama ini dibentuk atas pertimbangan kapasitas pemangku kepentingan, yakni unit KKN-PPM UGM BBL 03 sebagai peneliti potensi lahan laut dan pengamat di masyarakat, DKP Kabupaten Bangka sebagai fasilitator dan regulator kebijakan, dan Johannes sebagai pemodal sekaligus distributor hasil panen rumput laut. Melalui komunikasi dan pertukaran informasi yang intensif, ketiga pemangku kepentingan berhasil menyelesaikan proyek instalasi lahan rumput laut seluas 50x25 meter dengan komposisi bibit rumput laut sebanyak 500 kilogram. Di sisi yang lain, DKP Kabupaten Bangka menyepakati untuk menjadikan Dusun Tuing sebagai dusun produksi rumput laut di Kabupaten Bangka, dan Johannes bersedia menyediakan modal awal sekaligus pengembangan diversifikasi nilai komoditas.

Kedua, kerja sama kolaboratif ini berhasil menyalurkan pengetahuan baru yang melibatkan masyarakat secara langsung. Beberapa kegiatan yang dilakukan adalah pemasangan lahan rumput laut sehingga masyarakat dapat mempelajari secara langsung proses pembibitan. Kemudian, sosialisasi mengenai potensi rumput laut sebagai komoditas ekonomi alternatif nelayan telah dipaparkan guna memperluas wawasan masyarakat di dusun tersebut. Selain itu, ketiga pemangku kepentingan juga mengadakan program pengolahan produk berbahan rumput laut dengan tujuan meningkatkan nilai produksi dari hasil pembudidayaan rumput laut.

Melalui dua pencapaian tersebut, dapat disimpulkan bahwa ketiga pemangku kepentingan dalam skema kerja sama kolaboratif telah berhasil menerapkan konsep triple helix sebagai salah satu upaya mewujudkan desa nelayan mandiri. Bentuk kemandirian tersebut dapat ditelusuri melalui capaian nyata berupa instalasi lahan rumput laut, produksi kebijakan, serta penyaluran modal usaha ke dusun; dan capaian abstrak berupa penyaluran pengetahuan kepada masyarakat mengenai teknik pembibitan, potensi, dan pengolahan rumput laut. Pada titik ini, skema triple helix perlu dipertimbangkan untuk mendorong pertumbuhan desa-desa nelayan mandiri lainnya di Indonesia.



Oleh:
Dedi Dinarto (Mahasiswa Hubungan Internasional, UGM)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply