Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Nelayan Harapkan Asuransi Permudah Layanan Jaminan

Kontak Tani dan Nelayan Andalan Jabar menyampaikan, para nelayan di Jabar membutuhkan layanan perlindungan. Sebabnya, nelayan merupakan pekerjaan yang memiliki risiko kecelakaan dan kematian. Selain itu, tidak jarang pula para nelayan mengalami sakit. Oleh karena itu, adanya layanan kesehatan gratis jelas sangat bermanfaat bagi para nelayan di Jabar. Maka, KTNA Jabar berharap Asuransi Nelayan yang sudah mulai diberlakukan di Pelabuhan Muncar, Kab. Banyuwangi, Jatim, juga segera diberlakukan bagi para nelayan yang berada di Jabar.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Perikanan KTNA Jabar, Royani kepada "PR" di Bandung, Jumat 20 Mei 2015.

"Bila preminya ringan tentu kami sebagai nelayan akan sangat terbantu. Apalagi, untuk 6 bulan pertama, nelayan dibebaskan dari premi sebesar Rp 16.800 per bulan. Dengan demikian, setelah 6 bulan pertama, premi yang dibayarkan pun cukup ringan dan pada umumnya para nelayan mampu membayar besaran tersebut. Mengingat fasilitas yang didapatkan cukup baik, yakni adanya Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKm)," katanya menjelaskan.

Asuransi untuk nelayan ini ditangani oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan. Perlindungan yang diberikan kepada para nelayan mencakup dua program BPJS Ketenagakerjaan, yaitu Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKm). JKK memberi jaminan biaya pengobatan apabila nelayan mengalami musibah kecelakaan kerja sampai sembuh tanpa ada limit biaya. Sedangkan JKm berupa santunan kematian sebesar Rp36 juta bagi keluarga, apabila nelayan mengalami kecelakaan kerja sampai meninggal dunia plus beasiswa bagi anak nelayan yang masih berumur di bawah 24 tahun.

Salah satu nelayan, Somo mengatakan, dirinya menyambut baik adanya Asuransi Nelayan. Menurutnya, ia setidaknya bisa tenang bila terjadi sesuatu pada dirinya. Sebab, anaknya masih kecil-kecil dan kerja sampingan istrinya tidak seberapa. Bila kecekalaan dan kematian bisa dibantu oleh Asuransi Nelayan, maka penghasilan dari kerja tetap bisa dinikmati oleh keluarga. Sebab menurutnya, apa-apa saat ini mahal, termasuk pengobatan. Ia mengatakan, uang dan tabungan hasil kerja bisa habis sekaligus bila terjadi kecelakaan.

"Hanya saja, jangan sampai prosedurnya dipersulit. Sebab, kami kan nanti akan bayar preminya, jangan sampai preminya wajib bayar tepat waktu, tapi giliran mendapatkan layanan jaminannya sangat sulit. Bila sudah seperti itu, alih-alih meringankan, justru malah membebani para nelayan dengan premi. Kami berharap pemerintah bisa terus melakukan terobosan untuk dapat melayani masyarakatnya, jadi keberadaan pemerintah dan fungsinya dapat dirasakan," katanya.

Nelayan lainnya, Katlan mengatakan, ia tidak keberatan dengan premi sebesar Rp 16.800 per bulan, apalagi untuk 6 bulan pertama ditanggung oleh pemerintah. Akan tetapi, hal itu mesti dibarengi dengan layanan prima dan tidak setengah-setengah. Ia menjelaskan, jangan sampai karena para nelayan menggunakan Asuransi Kesehatan, pelayanannya jadi berbeda dengan masyarakat pada umumnya, misalnya lebih lama, lebih berbelit-belit, dan sejenisnya.

Sebelumnya, KTNA Jabar menilai, birokrasi dunia perikanan terhadap para nelayan dinilai masih terlalu rumit dan bertele-tele. Sebabnya, perlu waktu yang masih lama untuk mengurus berbagai hal yang berkaitan dengan izin penangkapan ikan. Namun demikian, hal itu hanya terjadi di tingkat pusat. Adapun untuk birokrasi di tingkat kabupaten dan provinsi dinilai sudah cukup baik. Royani berharap, hadirnya Asuransi Nelayan disertai sejumlah pembenahan birokrasi di tingkat pusat.
Sumber : www.pikiran-rakyat.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply