Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Nelayan Jabar Butuh Cool Storage

Pemuda Maritim - Nelayan Jawa Barat melakukan proses penangkapan ikan laut secara tradisional. Tak hanya penangkapan, mereka pun tak memiliki perlengkapan cool storage.

Cool storage, menurut Iwan Kriswan, penting untuk menyimpan hasil tangkapan saat melimpah. Kepala Seksi Produksi dan Sarana Penangkapan, Dinas Perikanan dan Kelautan (DPK) Jabar itu mengatakan selama ini nelayan menjual semua hasil tangkapan ikan ke pasar.

"Cool storage ini perlu ada di setiap PPI (pangakalan pendaratan ikan). Alat ini sangat berguna untuk menampung hasil ikan tangkapan saat melimpah. Selama ini nggak ada cool storage. Nelayan kita masih tradisional untuk penampungan ikannya," kata Kriswan di Bandung, Selasa (24/5).

Ketiadaan lemari pembeku ikan itu mengakibatkan hukum pasar terjadi. Harga ikan laut akan merosot jika pasokan melimpah. Sebaliknya, saat musim paceklik, harga ikan di pasaran pasti meroket.

Dia menjelaskan hanya segelintir pengusaha yang memiliki cool storage yang bisa menikmati tingginya harga ikan. Pasalnya, keran pasokan ikan ke pasaran berada di kekuasaan tangannya.

Mengenai musim tangkapan ikan di laut, Kriswan menyebutkan April ini kondisinya mulai membaik. Kondisi ini semakin memuncak pada Agustus-September. Saat musim puncak ini pasokan melimpah di pasaran.

"Nanti, bulan November tangkapan ikan mulai menurun. Bulan Desember sampai Maret itu biasanya musim paceklik. Stok minim, harga ikan melambung karena saat-saat itu musim angit barat. Nelayan enggan melaut karena gelombang laut saat itu sangat besar dan ganas. Nelayan pun istirahat total," tuturnya.

Faktor lain, nelayan hanya melaut 3-4 bulan dalam setahun itu dikarenakan keterbatasan alat tangkap. Dia mengaku, sejauh ini mayoritas nelayan asal Jabar hanya memiliki satu alat tangkap di kapalnya.

"Sebaiknya, agar hasil tangkapan bisa optimal nelayan itu harus memiliki combine fishing. Tak hanya memiliki pancing dan jaring saja," sebutnya lagi.

Mengenai volume produksi perikanan tangkap di laut, Kriswan menyebutkan pada 2015 lalu jumlahnya mencapai 256.893 ton. Angka itu untuk keseluruhan kabutaten/kota di Jabar yang memiliki wilayah laut. Yakni, Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, Pangandaran, Cirebon, Indramayu, Subang, Karawang, Bekasi, dan Kota Cirebon.

"Dari semua kabupaten/kota se-Jabar, hasil tangkapan ikan nelayan Indramayu paling tinggi. Angkanya pada tahun 2015 itu mencapai 136.091 ton. Kemudian disusul Kabupaten Pangandaran yang bisa mencapai 61.202 ton dan Kabupaten Cirebon sebanyak 27.507 ton," tuturnya. Dia menyebutkan di pantai utara kondisinya kini tergolong overfishing. Sedangkan, di pantai selatan saat ini dari potensi yang dimiliki baru tergali 37%.

Sementara itu, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jabar Nandang A Permana tak menampik ketradisionalan nelayan asal Jabar ini. Untuk itu, dia mengharapkan Pemprov Jabar bisa memberikan bantuan peningkatan teknologi para nelayan.

Dia mengharapkan pemerintahan daerah bisa menjalin hubungan kemitraan yang saling menguntungkan. Selama ini, pemerintahan provinsi dan kota/kabupaten hanya tampak memberikan pengakuan saja. Selebihnya, setiap kegiatan dan pemerintah seperti tidak berkoordinasi dengan HSNI.

"Padahal, jika koordinasi antara pemerintahan daerah dan HNSI ini berjalan dengan baik, nasib dan kesejahteraan para nelayan bisa meningkat," ucap Nandang.
Sumber : www.inilahkoran.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply