Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Nelayan Minta Pemerintah Tolak Ikan Teri Thailand

Pemuda Maritim - Nelayan pantai utara Jawa meminta Pemerintah secara tegas menolak masuknya ikan teri dari Thailand karena menyebabkan harga ikan teri segar hasil tangkapan nelayan menurun dari Rp12.000 per kilogram menjadi hanya Rp7.000 per kilogram.

"Saat ini ikan teri Thailand itu sudah masuk gudang-gudang di kawasan pergudangan Kapuk, Jakarta. Barang itu sengaja diselundupkan dari Thailand ke Kalimantan dan Sulawesi terus masuk Jakarta dan dianggap teri lokal," kata Rojudin (43) tokoh nelayan Gebang, Jawa Barat, Senin (16/5/2016).

Ia mengungkapkan, masuknya teri dari Thailand itu membuat harga jual teri kering dari industri lokal di sejumlah daerah ikut jatuh dari harga Rp45 ribu per kilogram menjadi hanya Rp32 ribu per kilogram.

Pengusaha teri lokal terpaksa membeli ikan teri dari nelayan dengan harga 7.000 per kilogram, padahal sebelumnya harga bisa sampai 12 ribu per kilogram.

Tarum, nelayan penangkap teri di Gebang, juga mengungkapkan, akibat harga rendah maka pendapatan anak buah kapal juga menurun sampai 50 persen.

"Biasanya sekitar Rp100 ribu sampai Rp400 ribu per hari,saat ini hanya separuhnya," katanya.

Hal senada diungkap Daryono, nelayan dari Pangkalan Pulau Lampes, Kabupaten Brebes bahwa harga yang jatuh itu sudah berlangsung selama enam bulan terakhir sehingga para bakul hanya mau menerima dengan harga Rp6.000 per kilogram dan dari bakul menjual ke industri pengolahan ikan Rp7.000 per kilogram.

Ia menjelaskan, nelayan penangkap ikan teri sudah mengeluarkan modal rata-rata untuk membeli alat tangkap Rp350 juta dan modal melaut per hari sekitar Rp1 juta sehingga perlu perlindungan dari Pemerintah agar tetap bisa berusaha.

Rojudin yang juga mempunyai satu unit pengolah teri mengungkapkan, jaring teri hanya digunakan pada permukaan dan hasilnya 95 persen teri sehingga tidak merusak lingkungan.

"Nelayan hanya mengamati kumpulan ikan teri yang berenang di permukaan, setelah mengetahui ada kumpulan teri barulah jaring ditebar melingkari kumpulan itu lalu ditarik," katanya.

Ia juga mengungkap, industri kecil pengolahan teri di Gebang juga tidak menggunakan formalin tetapi hanya menggunakan garam saat memasaknya, setelah itu dijemur, disortir dan di kemas.

"Jangan sampai industri kecil yang baru tumbuh di Gebang sejak awal 2015 itu, kemudian merugi karena masuknya teri dari Thailand," katanya.

Hal senada diungkap,Daryono, banyak nelayan yang akhirnya beralih menangkap ikan teri karena menguntungkan, bahkan di Pangkalan Pulau Lampes ada sekitar perahu dengan bobot 9 sampai 12 Gross Ton (GT) yang beroperasi untuk menangkap ikan teri.

"Kami berangkat pagi dan pulang sore hari, tetapi di pangkalan ikan lain ada yang berangkat malam dan pulang pagi karena mencari teri dengan sorot lampu," katanya.

Pada sisi lain, nelayan penangkap ikan teri berharap pengurusan izin penangkapan ikan jangan sampai dipersulit karena mereka juga ingin tetap beusaha dengan izin yang lenkap.
Sumber : okezone.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply