Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Nelayan: Terumbu Karang di Pantura Sudah Rusak

Pemuda Maritim - Sejumlah nelayan mengungkapkan terumbu karang di perairan Pantai Utara (Pantura) Jawa sudah rusak sehingga harus melaut lebih jauh untuk mendapatkan hasil tangkapan yang lebih baik.

Mashudi dan Agus, dua nelayan asal Tuban, Jatim yang ditemui di Pangkalan Nelayan Eretan Kulon, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat Selasa (17/5), mengungkapkan sekitar 15 mil dari pantai, kondisi terumbu karang sudah rusak parah sehingga mereka melaut lebih jauh untuk mendapatkan tangkapan yang lebih baik.

Mashudi yang sudah 20 tahun lebih menjadi nelayan mengatakan, lima tahun lalu kondisinya lebih baik, namun akibat makin maraknya penggunaan cantrang ukuran besar membuat terumbu karang di perairan Pantura ikut terangkut. "Tanpa terumbu karang, ikan tidak bisa bertelur sehingga bergerak ke tempat lain," katanya yang mencari ikan sampai Pulau Biawak, Indramayu dengan jaring pursein.

Hal senada dikatakan, Rosyid, nelayan Eretan Wetan lainnya yang meminta ketegasan Pemerintah untuk memberantas alat tangkap yang tidak ramah lingkungan seperti cantrang, apolo, dan garok. "Banyak yang tak mau beralih ke pursein karena hasil tangkapannya sedikit, tetapi saya dan ratusan nelayan lain, Alhamdulillah tetap bisa hidup. Kami tidak ingin merusak terumbu karang," katanya.

Sebagian besar nelayan dari Eretan Wetan menggunakan jaring pursein sementara sisi sebarang yang masuk Eretan Kulon, sebagian besar menggunakan cantrang. Nelayan di Eretan Wetan juga sering melepas rumpon di tengah laut agar ada tempat bagi ikan bertelur.

Sementara, Tarum, nelayan asal Gebang, Kabupaten Cirebon juga mendambakan terumbu karang di perairan Laut Jawa kembali tumbuh karena jika dibiarkan rusak maka tangkapan nelayan bisa terus menurun. Ia mengungkapkan masih ada alat tangkap yang ramah lingkungan lain seperti jaring pursain waring untuk menangkap teri atau jaring senggol untuk menangkap ikan pari.

"Dua alat tangkap itu tidak merusak terumbu karang, dan hasilnya juga lumayan karena terbukti sudah banyak nelayan yang beralih menangkap ikan teri," katanya.

Daryono, nelayan penangkap teri yang ditemui di Pangkalan Pulau Lampes, Brebes mengungkapkan hampir 80 unit kapal ukuran 9 sampai 10 GT di pangkalan mereka telah beralih menggunakan pursain waring karena pendapatannya cukup lumayan melebihi menggunakan alat tangkap lain.

"Saat ini kendalanya hanya harga ikan teri yang sedang turun selama enam bulan terakhir karena masuknya teri impor dari Thailand," katanya.

Ia mengungkapkan hasil retribusi pelelangan ikan di pangkalan mereka mencapai Rp 3 miliar per tahun.
Sumber : republika.co.id

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply